Foto Di Atas Meja

Seorang artis sedang menderita karena mencandu obat-obatan dan divonis oleh dokter bahwa dia terkena virus HIV.  Kini dia tergolek sekarat dirumahnya.  Temannya datang untuk menghibur dan mencoba menguatkan imannya. Namun dosa-dosa yang telah diperbuat sang artis ini membutakan matanya dan dia merasa sangat putus asa.

“Aku berdosa”, katanya. “Aku telah menghancurkan hidupku sendiri dan kehidupan banyak orang disekelilingku. Sekarang aku tersiksa dan tidak ada lagi yang bisa ku perbuat untuk memperbaikinya. Aku akan masuk neraka.”

Temannya ini melihat ada sebuah potret gadis kecil yang cantik dan lucu terpigura dengan indah diatas meja kecil disamping tempat tidur sang artis. Lalu dia bertanya, “Foto siapa ini?” Mendengar pertanyaan itu, si artis bangkit semangatnya dan menjawab dengan antusias, “Itu putriku.  Dia adalah mutiara hidupku. Satu-satunya yang terindah yang aku miliki.”

Apakah kamu akan menolongnya jika dia mendapat kesulitan atau apakah kamu memaafkannya apabila dia melakukan kesalahan? Apakah kamu masih menyayanginya?

“Tentu saja,” jawab sang artis. ”Aku akan melakukan apapun demi dia.  Mengapa kamu bertanya seperti ini?”

“Saya ingin kamu tahu bahwa Allah juga punya foto dirimu diatas meja-Nya.”

Sang artis terkesiap.  Sudah lama ia tidak mendengar kata Allah dan bahkan tidak pernah mengucapkannya.

Saudara, mengapa kita sering menghakimi diri kita sendiri dengan tuduhan-tuduhan yang kejam, dengan pikiran-pikiran yang jelek?  Kalau kita saja menghakimi diri sendiri seperti itu, bagaimana dengan orang lain?

Apakah kita lupa, bahwa kita ini milik kepunyaan Allah? Apakah kita lupa pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib adalah untuk membuktikan kepada kita bahwa kita ini berharga dan mulia. Kita sangat sangat dikasihi-Nya.

Allah bahkan tidak pernah menghakimi kita seburuk apapun kesalahan dan pelanggaran kita.  Kasih-Nya menutupi semuanya.  Kasih-Nya mengampuni kita dengan tulus.  Allah mau berbuat apa saja untuk kita.  Dan buktinya adalah DIA telah mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita dan menguduskan kita sekali untuk selamanya.

Dia mempunyai bukan hanya foto diri kita, tapi juga keseluruhan hidup kita.  Kita harus bersyukur karena kita terpahat ditangan-Nya.

Sumber: www.sarikata.com

Fruit Of The Spirit

It’s quiet. It’s early. My coffee is hot. The sky is still black. The world is still asleep. The day is coming. In a few moments the day will arrive. It will roar down the track with the rising of the sun. The stillness of the dawn will be exchanged for the noise of the day. The calm of the solitude will be replaced by the pounding pace of the human race. The refuge of the early morning will be invaded by decisions to be made and deadlines to be met.

For the next twelve hours I will be exposed to the day’s demands. It is now that I must make a choice. Because of Calvary, I’m free to choose. And so I choose.

I choose love. No occasion justifies hatred; no injustice warrants bitterness, I choose love. Today I will love God and what God loves.

I choose joy. I will invite my God to be the God of circumstance. I will refuse the temptation to be cynical … the tool of the lazy thinker. I will refuse to see people as anything less than human beings, created by God. I will refuse to see any problem as anything less than an opportunity to see God.

I choose peace. I will live forgiven. I will forgive so that I may live.

I choose patience. I will overlook the inconveniences of the world. Instead of cursing the one who takes my place, I’ll invite him to do so. Rather than complaining that the wait is too long, I will thank God for a moment to pray. Instead of clinching my fist at new assignments, I will face them with joy and courage.

I choose kindness. I will be kind to the poor, for they are alone. Kind to the rich, for they are afraid. And kind to the unkind, for such is how God has treated me.

I choose goodness. I will go without a dollar before I take a dishonest one. I will be overlooked before I will boast. I will confess before I will accuse. I choose goodness.

I choose faithfulness. Today I will keep my promises. My debtors will not regret their trust. My associates will not question my word. My wife will not question my love. And my children will never fear that their father will not come home.

I choose gentleness. Nothing is won by force. I choose to be gentle. If I raise my voice may it be only in praise. If I clench my fist, may it be only in prayer. If I make a demand, may it be only of myself.

I choose self-control. I am a spiritual being. After this body is dead, my spirit will soar. I refuse to let what will rot, rule the eternal. I choose self-control. I will be drunk only by joy. I will be impassioned only by my faith. I will be influenced only by God. I will be taught only by Christ. I choose self-control.

Love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control. To these I commit my day. If I succeed, I will give thanks. If I fail, I will seek His grace. And then when this day is done, I will place my head on my pillow and rest.

Sumber: Max Lucado

A Letter from God

Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti. Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk. Di  satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru. Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari.

Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku. Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.

Tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya  seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku. Saat tidur Ku pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.

Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu. Baiklah … engkau bangun kembali dan kembali. Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan.

Bapamu,

Allah

Sumber: Warta CCFC

Aku Memohon Tuhan

Aku memohon Tuhan untuk melepaskan tabiatku.
Tuhan menjawab, “Tidak! Bukan Aku yang melepaskan, tetapi kamu yang menghentikan.”

Aku memohon Tuhan mengutuhkan kembali anakku yang cacat.
Tuhan menjawab, “Tidak! Rohnya yang utuh, tubuhnya hanya sementara.”

Aku memohon Tuhan untuk memberikanku kesabaran.
Tuhan menjawab, “Tidak! Kesabaran adalah hasil perjuangan. Itu tidak diberikan, tetapi dipelajari.”

Aku memohon Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, “Tidak! Aku memberikan berkat-Ku. Kebahagiaan tergantung padamu.”

Aku memohon Tuhan untuk menghilangkan kepedihanku.
Tuhan menjawab, “Tidak! Penderitaan menjauhkanmu dari dunia dan membawamu lebih dekat pada-Ku.”

Aku memohon Tuhan untuk membuat jiwaku tumbuh.
Tuhan menjawab, “Tidak! Kamu yang harus menumbuhkannya sendiri. Tetapi Aku akan menatanya agar kamu lebih berbuah.”

Aku memohon Tuhan untuk menolongku MENGASIHI sesama, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab, “Ahhh, akhirnya kamu tahu maksud-Ku!”

Sumber: www.airhidup.com

Mengapa Pergi ke Gereja?

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada editor salah satu surat kabar di Inggris, seorang pria mengeluh karena ia tidak melihat adanya manfaat pergi beribadah di gereja setiap Minggu.

“Sampai saat ini saya telah mengikuti kebaktian cukup teratur selama 30 tahun terakhir,” tulisnya,“dan selama itu … saya telah mendengarkan tidak kurang dari 3000 khotbah.”

“Namun yang saya takutkan adalah ternyata saya tidak dapat mengingatnya satu pun diantaranya.”

“Saya berpikir mungkin waktu khotbah pendeta itu akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk melakukan hal lain.”

Surat itu menimbulkan banyak reaksi. Namun, satu di antaranya menjadi solusi dari permasalahan ini.

“Saya telah menikah selama 30 tahun. Selama waktu itu saya telah menyantap 32.850 hidangan. Sebagian besar adalah masakan istri saya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa saya tidak dapat mengingat satu pun menu itu. Namun demikian, saya memperoleh gizi dari setiap hidangan itu. Saya yakin sekali bahwa tanpa segala hidangan itu saya tentu mati kelaparan bertahun-tahun lalu.”

Sumber: www.airhidup.com

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, dan tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel itu sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang … tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh sukacita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.

Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersukacita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.

“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Success is not the key of happiness. Happiness is the key of success.

Sumber: www.airhidup.com

“… hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”

Jejak Kaki

Semalam aku bermimpi sedang berjalan menyisir pantai bersama TUHAN. Di cakrawala terbentang adegan kehidupanku. Pada setiap adengan, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir, sepasang jejak kakiku dan sepasang lagi jejak kaki TUHAN.

Setelah adegan terakhir dari kehidupanku, terhampar di hadapanku, aku menoleh kebelakang melihat jejak kaki di pasir. Aku memperhatikan bahwa berkali-kali sepanjang jalan hidupku, terutama pada saat-saat paling gawat dan mencekam, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja.

Hal ini benar-benar membuat aku sangat kecewa, maka aku bertanya kepada TUHAN, “TUHAN, dimanakah Engkau? Engkau mengatakan bila aku memutuskan untuk mengikuti Engkau, Engkau akan berjalan bersama aku sepanjang jalan hidupku. Namun aku memperhatikan bahwa pada saat-saat paling gawat dan beban berat menindas hidupku, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja, dan aku tidak mengerti pada waktu aku sangat membutuhkan Engkau, justru Engkau meninggalkan aku.”

TUHAN menjawab, “Anak-Ku, engkau sangat berharga dimata-Ku. Aku sangat mengasihi engkau dan Aku tidak akan meninggalkan engkau. Pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan, engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja, karena pada waktu itu Aku menggendong kamu.”

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Harta Yang Berharga

Gadis berambut keriting keemasan yang periang dan bersemangat itu usianya hampir lima tahun. Ketika bersama ibunya mengantre di kasir, ia melihat seuntai kalung mutiara putih berkilauan dalam kotak kertas timah merah muda. “Mama, bolehkah aku memilikinya? Boleh ya, Ma?”

Dengan cepat ibunya memeriksa bagian belakang kotak kecil itu dan kembali menatap mata biru putri kecilnya yang menengadah dengan wajah penuh harap.

“Satu dolar sembilan puluh sen. Wah, hampir dua dolar. Kalau kamu benar-benar menginginkannya, Mama pikir dengan melakukan sedikit tugas ekstra saja, kau akan dapat menabung cukup uang untuk membelinya. Ulang tahunmu tinggal seminggu lagi dan engkau tentu akan mendapatkan cukup banyak uang dari Nenek.”

Sesampainya di rumah, Jenny mengosongkan celengannya dan menghitung uangnya. Ada 17 sen. Setelah makan malam, ia melakukan pekerjaan rumah tangga lebih banyak daripada yang seharusnya menjadi jatah hariannya. Lalu, ia pergi ke rumah tetangga dan menanyakan kepada Bu McJames kalau-kalau ia boleh membantu memotong rumput dengan upah sepuluh sen. Pada hari ulang tahunnya, Nenek memberinya satu dolar sehingga akhirnya ia punya cukup uang untuk membeli kalung itu.

Jenny sangat menyayangi kalung mutiaranya. Kalung mutiara itu membuatnya merasa sudah bisa bersolek seperti orang dewasa. Ia mengenakan kalung itu di mana pun, di Sekolah Minggu, di Taman Kanan-kanak, bahkan ketika tidur. Ia hanya melepaskannya saat pergi berenang atau mandi. Menurut Ibunya, kalau mutiaranya basah, kalung itu bisa membuat lehernya menjadi hijau.

Jenny punya seorang ayah yang sangat menyayanginya. Setiap malam, bila ia akan tidur, ayahnya akan menghentikan segala kegiatannya dan naik ke tempat tidurnya untuk membacakan cerita baginya. Suatu malam ketika sang ayah selesai bercerita, ia bertanya kepada Jenny, “Apakah kamu sayang Papa?”

“Oh, tentu, Pa. Papa tahu kalau Jenny sayang Papa.”

“Kalau begitu berikan kalung mutiaramu.”

“Wah, jangan kalung Jenny, dong Pa. Papa boleh memiliki si Putri, boneka kuda putih koleksi Jenny. Itu, tuh, yang ekornya merah muda. Ingat kan, Pa? Yang Papa berikan buat Jenny itu. Itu boneka favorit Jenny.”

“Iya, deh, Sayang. Papa sayang kamu. Selamat malam.” Dan, ia mengecup pipinya.

Seminggu kemudian, setelah bercerita, ayah Jenny bertanya lagi, “Apakah Jenny sayang Papa?”

“Papa, tentu saja Jenny sayang Papa.”

“Kalau begitu berikan kalung mutiaramu.”

“Ya, Papa, jangan kalung itu. Papa boleh memiliki boneka bayi Jenny, deh. Boneka baru yang Jenny dapatkan waktu ulang tahun. Ia begitu cantik. Papa juga boleh memiliki selimut biru yang begitu serasi dengan kereta dorongnya.”

“Baiklah. Tidurlah yang nyenyak. Tuhan memberkatimu, mungil. Papa menyayangimu.” Dan, seperti biasa, ia mencium pipinya dengan lembut.

Beberapa malam kemudian, ketika ayahnya masuk ke kamarnya, Jenny sedang duduk di tempat tidurnya dengan kaki bersila, bergaya seperti orang Indian. Setelah dekat, barulah ia melihat dagu Jenny gemetar dan butiran air mata bergulir di pipinya.

“Ada apa, Jenny? Ada masalah apa?”

Jenny tidak mengatakan apa pun, namun ia mengulurkan tangan mungilnya kepada sang ayah. Ketika membuka tangannya, di sana terdapat kalung mutiara mungilnya. Dengan agak gemetar, akhirnya ia berkata, “Ini, Papa. Ini untuk Papa.”

Dengan air mata bercucuran, ayah Jenny yang baik meraih kalung murahan itu dengan satu tangan. Sementara dengan tangan yang lain ia menjangkau kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru biru berisi seuntai kalung mutiara asli. Ia memberikannya kepada Jenny. Ia telah membawanya selama ini. Ia hanya menunggu saatnya ketika Jenny menyerahkan kalung murahannya, barulah ia menyerahkan perhiasan mutiara asli itu kepadanya.

Demikian pulalah Bapa Surgawai kita.

by: Alice Gray

Seperti bapa sayang anaknya demikianlah Engkau mengasihiku, Kau jadikan biji mata-Mu, kau berikan semua yang ada pada-Mu. Seperti bapa sayang anaknya demikianlah Kau menuntun langkahku, hari depan indah Kau beri, rancangan-Mu yang terbaik bagiku.

Ksatria Yang Lemah Lembut

Seperti apakah seorang lelaki sehat itu? Mau tak mau saya teringat pada pernyataan seorang lelaki muda yang tinggal di dekat rumah kami, seorang pelajar kelas 2 SMU, berusia enam belas tahun. Ayahnya pergi dan tak pernah kembali. Ayah tirinya, seorang yang kejam dan tak kenal ampun, memperlakukannya dengan buruk. Ia selalu menyuruhnya “tutup mulut”, dan mengatakan kepadanya kalau ia tak berharga, bodoh, dan tak akan pernah berhasil dalam segala hal.

Namun, tanyakan kepada anak itu tentang impiannya, maka matanya akan berbinar-binar. Inilah yang akan dikatakannya, “Saya ingin menemukan di mana ayah kandung saya tinggal. Saya ingin pindah dan tinggal di depan rumahnya, tapi ia tak boleh tahu siapa saya sebenarnya. Dan, saya cuma ingin menjadi sahabatnya. Kalau saya sudah bisa jadi sahabatnya, barulah saya pertimbangkan lagi kemungkinan untuk lebih meningkatkan hubungan kami.”

Lelaki muda yang telah melewati berbagai kesukaran dalam hidupnya ini diminta menuliskan sebuah karangan dengan suatu topik, “Siapakah pria sejati itu?” Berikut ini adalah karangan singkatnya ditulis oleh seorang anak lelaki yang belum pernah hidup bersama seorang pria sejati, bahkan belum pernah melihatnya. Namun, saya pikir terdapat sesuatu yang begitu melekat, mendarah daging, hakiki, dan mendasar, sehingga bahkan seorang anak lelaki yang belum pernah melihat pria sejati pun dapat mengungkapkannya menjadi kata-kata. Inilah yang dituliskannnya:

Pria sejati itu baik hati.

Pria sejati itu penuh perhatian.

Pria sejati itu menghindar dari perkelahian sia-sia melawan orang-orang ‘sok jagoan’.

Pria sejati mau menolong istrinya.

Pria sejati menolong anak-anaknya ketika mereka sakit.

Pria sejati tidak lari dari masalahnya.

Pria sejati memegang teguh kata-katanya dan menepati janjinya.

Pria sejati jujur.

Pria sejati tidak melanggar hukum.

Itulah gambaran di benak seorang anak lelaki tentang seorang pria yang selalu ada di dekatnya. Seorang pria yang memiliki otoritas dan juga tunduk pada otoritas.

Itulah sebuah gambaran tentang seorang Ksatria yang lemah lembut.

by: Stu Weber

Karakter adalah apa yang Anda lakukan dalam kegelapan.

Perumpamaan Tentang Perspektif Allah

Bert memandang dari surga dan melihat berbagai kejahatan yang terjadi di dunia. Dengan sangat putus asa, ia menunjukan sebuah peristiwa yang sangat jahat dan menanyakannya kepada Allah.“Bagaimana Engkau dapat membiarkan hal itu? Lihatlah kejahatan yang terjadi di bawah sana!”

“Tidak ada yang lebih lihai daripada si Iblis dalam menciptakan tragedi semacam itu!” kata Allah.

“Tapi, Allah, pria itu adalah salah seorang umat-Mu … oh, pria yang malang!”

“Aku memberi mereka kebebasan untuk memilih yang baik dan yang jahat,” kata Allah, wajah-Nya sedih. “Apa pun yang mereka pilih, mereka semua hidup bersama-sama. Kadang kala umat-Ku harus ikut merasakan akibat dari perbuatan mereka yang tidak memilih jalan-Ku.” Dia menggelengkan kepala perlahan. “Selalu menyakitkan melihat hal itu terjadi.”

“Namun orang-orang di bawah sana tidak memiliki pilihan,” protes Bert. “Mereka dipaksa menelan kejahatan yang dijejalkan ke tenggorokan mereka! Itu bukan pilihan!”

“Begini, Bert,” kata Allah dengan sabar, “pernahkah Aku membiarkan penderitaan tanpa menghukum mereka yang menyebabkannya?”

“Tidak … tidak, tapi …” Bert membalikkan badan, tak mampu lagi melihat semuanya itu.

“Perhatikan!” Allah merangkul pundak Bert dan membalikkan badannya. “Perhatikan ke sana, di dekat dinding itu.”

“Orang itu? Ia kelihatan hampir mati. Apakah ia sedang berdoa?”

“Ah, Bert, kau harus mendengar doanya!” Kasih yang dalam memancar dari mata Allah bagaikan kilat.“Doa yang sederhana dari hati yang terluka. Inilah kemenangan atas kejahatan. Memercayai Aku itulah pilihan.” Allah tersenyum sambil meneteskan air mata penuh kasih.“Bukankah orang itu mengagumkan?”

Bersama-sama mereka berdiri dalam keheningan, dan Bert mulai dapat melihat sebagaimana Allah melihat.

“Sekarang perhatikan ini, Bert.” Allah berbicara dengan lembut, tanpa mengalihkan pandangan-Nya. Ia memanggil Mikael dan pemimpin malaikat itu pun muncul.

“Turun dan angkatlah dia, Mikael.” Air mata sukacita pun mengalir. “Aku akan mengadakan pesta besar baginya.”

by: Robin Jones