Aku Memohon Tuhan

Aku memohon Tuhan untuk melepaskan tabiatku.
Tuhan menjawab, “Tidak! Bukan Aku yang melepaskan, tetapi kamu yang menghentikan.”

Aku memohon Tuhan mengutuhkan kembali anakku yang cacat.
Tuhan menjawab, “Tidak! Rohnya yang utuh, tubuhnya hanya sementara.”

Aku memohon Tuhan untuk memberikanku kesabaran.
Tuhan menjawab, “Tidak! Kesabaran adalah hasil perjuangan. Itu tidak diberikan, tetapi dipelajari.”

Aku memohon Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, “Tidak! Aku memberikan berkat-Ku. Kebahagiaan tergantung padamu.”

Aku memohon Tuhan untuk menghilangkan kepedihanku.
Tuhan menjawab, “Tidak! Penderitaan menjauhkanmu dari dunia dan membawamu lebih dekat pada-Ku.”

Aku memohon Tuhan untuk membuat jiwaku tumbuh.
Tuhan menjawab, “Tidak! Kamu yang harus menumbuhkannya sendiri. Tetapi Aku akan menatanya agar kamu lebih berbuah.”

Aku memohon Tuhan untuk menolongku MENGASIHI sesama, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab, “Ahhh, akhirnya kamu tahu maksud-Ku!”

Sumber: www.airhidup.com

Mengapa Pergi ke Gereja?

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada editor salah satu surat kabar di Inggris, seorang pria mengeluh karena ia tidak melihat adanya manfaat pergi beribadah di gereja setiap Minggu.

“Sampai saat ini saya telah mengikuti kebaktian cukup teratur selama 30 tahun terakhir,” tulisnya,“dan selama itu … saya telah mendengarkan tidak kurang dari 3000 khotbah.”

“Namun yang saya takutkan adalah ternyata saya tidak dapat mengingatnya satu pun diantaranya.”

“Saya berpikir mungkin waktu khotbah pendeta itu akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk melakukan hal lain.”

Surat itu menimbulkan banyak reaksi. Namun, satu di antaranya menjadi solusi dari permasalahan ini.

“Saya telah menikah selama 30 tahun. Selama waktu itu saya telah menyantap 32.850 hidangan. Sebagian besar adalah masakan istri saya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa saya tidak dapat mengingat satu pun menu itu. Namun demikian, saya memperoleh gizi dari setiap hidangan itu. Saya yakin sekali bahwa tanpa segala hidangan itu saya tentu mati kelaparan bertahun-tahun lalu.”

Sumber: www.airhidup.com

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, dan tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel itu sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang … tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh sukacita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.

Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersukacita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.

“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Success is not the key of happiness. Happiness is the key of success.

Sumber: www.airhidup.com

“… hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”

Jejak Kaki

Semalam aku bermimpi sedang berjalan menyisir pantai bersama TUHAN. Di cakrawala terbentang adegan kehidupanku. Pada setiap adengan, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir, sepasang jejak kakiku dan sepasang lagi jejak kaki TUHAN.

Setelah adegan terakhir dari kehidupanku, terhampar di hadapanku, aku menoleh kebelakang melihat jejak kaki di pasir. Aku memperhatikan bahwa berkali-kali sepanjang jalan hidupku, terutama pada saat-saat paling gawat dan mencekam, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja.

Hal ini benar-benar membuat aku sangat kecewa, maka aku bertanya kepada TUHAN, “TUHAN, dimanakah Engkau? Engkau mengatakan bila aku memutuskan untuk mengikuti Engkau, Engkau akan berjalan bersama aku sepanjang jalan hidupku. Namun aku memperhatikan bahwa pada saat-saat paling gawat dan beban berat menindas hidupku, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja, dan aku tidak mengerti pada waktu aku sangat membutuhkan Engkau, justru Engkau meninggalkan aku.”

TUHAN menjawab, “Anak-Ku, engkau sangat berharga dimata-Ku. Aku sangat mengasihi engkau dan Aku tidak akan meninggalkan engkau. Pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan, engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja, karena pada waktu itu Aku menggendong kamu.”

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Harta Yang Berharga

Gadis berambut keriting keemasan yang periang dan bersemangat itu usianya hampir lima tahun. Ketika bersama ibunya mengantre di kasir, ia melihat seuntai kalung mutiara putih berkilauan dalam kotak kertas timah merah muda. “Mama, bolehkah aku memilikinya? Boleh ya, Ma?”

Dengan cepat ibunya memeriksa bagian belakang kotak kecil itu dan kembali menatap mata biru putri kecilnya yang menengadah dengan wajah penuh harap.

“Satu dolar sembilan puluh sen. Wah, hampir dua dolar. Kalau kamu benar-benar menginginkannya, Mama pikir dengan melakukan sedikit tugas ekstra saja, kau akan dapat menabung cukup uang untuk membelinya. Ulang tahunmu tinggal seminggu lagi dan engkau tentu akan mendapatkan cukup banyak uang dari Nenek.”

Sesampainya di rumah, Jenny mengosongkan celengannya dan menghitung uangnya. Ada 17 sen. Setelah makan malam, ia melakukan pekerjaan rumah tangga lebih banyak daripada yang seharusnya menjadi jatah hariannya. Lalu, ia pergi ke rumah tetangga dan menanyakan kepada Bu McJames kalau-kalau ia boleh membantu memotong rumput dengan upah sepuluh sen. Pada hari ulang tahunnya, Nenek memberinya satu dolar sehingga akhirnya ia punya cukup uang untuk membeli kalung itu.

Jenny sangat menyayangi kalung mutiaranya. Kalung mutiara itu membuatnya merasa sudah bisa bersolek seperti orang dewasa. Ia mengenakan kalung itu di mana pun, di Sekolah Minggu, di Taman Kanan-kanak, bahkan ketika tidur. Ia hanya melepaskannya saat pergi berenang atau mandi. Menurut Ibunya, kalau mutiaranya basah, kalung itu bisa membuat lehernya menjadi hijau.

Jenny punya seorang ayah yang sangat menyayanginya. Setiap malam, bila ia akan tidur, ayahnya akan menghentikan segala kegiatannya dan naik ke tempat tidurnya untuk membacakan cerita baginya. Suatu malam ketika sang ayah selesai bercerita, ia bertanya kepada Jenny, “Apakah kamu sayang Papa?”

“Oh, tentu, Pa. Papa tahu kalau Jenny sayang Papa.”

“Kalau begitu berikan kalung mutiaramu.”

“Wah, jangan kalung Jenny, dong Pa. Papa boleh memiliki si Putri, boneka kuda putih koleksi Jenny. Itu, tuh, yang ekornya merah muda. Ingat kan, Pa? Yang Papa berikan buat Jenny itu. Itu boneka favorit Jenny.”

“Iya, deh, Sayang. Papa sayang kamu. Selamat malam.” Dan, ia mengecup pipinya.

Seminggu kemudian, setelah bercerita, ayah Jenny bertanya lagi, “Apakah Jenny sayang Papa?”

“Papa, tentu saja Jenny sayang Papa.”

“Kalau begitu berikan kalung mutiaramu.”

“Ya, Papa, jangan kalung itu. Papa boleh memiliki boneka bayi Jenny, deh. Boneka baru yang Jenny dapatkan waktu ulang tahun. Ia begitu cantik. Papa juga boleh memiliki selimut biru yang begitu serasi dengan kereta dorongnya.”

“Baiklah. Tidurlah yang nyenyak. Tuhan memberkatimu, mungil. Papa menyayangimu.” Dan, seperti biasa, ia mencium pipinya dengan lembut.

Beberapa malam kemudian, ketika ayahnya masuk ke kamarnya, Jenny sedang duduk di tempat tidurnya dengan kaki bersila, bergaya seperti orang Indian. Setelah dekat, barulah ia melihat dagu Jenny gemetar dan butiran air mata bergulir di pipinya.

“Ada apa, Jenny? Ada masalah apa?”

Jenny tidak mengatakan apa pun, namun ia mengulurkan tangan mungilnya kepada sang ayah. Ketika membuka tangannya, di sana terdapat kalung mutiara mungilnya. Dengan agak gemetar, akhirnya ia berkata, “Ini, Papa. Ini untuk Papa.”

Dengan air mata bercucuran, ayah Jenny yang baik meraih kalung murahan itu dengan satu tangan. Sementara dengan tangan yang lain ia menjangkau kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru biru berisi seuntai kalung mutiara asli. Ia memberikannya kepada Jenny. Ia telah membawanya selama ini. Ia hanya menunggu saatnya ketika Jenny menyerahkan kalung murahannya, barulah ia menyerahkan perhiasan mutiara asli itu kepadanya.

Demikian pulalah Bapa Surgawai kita.

by: Alice Gray

Seperti bapa sayang anaknya demikianlah Engkau mengasihiku, Kau jadikan biji mata-Mu, kau berikan semua yang ada pada-Mu. Seperti bapa sayang anaknya demikianlah Kau menuntun langkahku, hari depan indah Kau beri, rancangan-Mu yang terbaik bagiku.

Ksatria Yang Lemah Lembut

Seperti apakah seorang lelaki sehat itu? Mau tak mau saya teringat pada pernyataan seorang lelaki muda yang tinggal di dekat rumah kami, seorang pelajar kelas 2 SMU, berusia enam belas tahun. Ayahnya pergi dan tak pernah kembali. Ayah tirinya, seorang yang kejam dan tak kenal ampun, memperlakukannya dengan buruk. Ia selalu menyuruhnya “tutup mulut”, dan mengatakan kepadanya kalau ia tak berharga, bodoh, dan tak akan pernah berhasil dalam segala hal.

Namun, tanyakan kepada anak itu tentang impiannya, maka matanya akan berbinar-binar. Inilah yang akan dikatakannya, “Saya ingin menemukan di mana ayah kandung saya tinggal. Saya ingin pindah dan tinggal di depan rumahnya, tapi ia tak boleh tahu siapa saya sebenarnya. Dan, saya cuma ingin menjadi sahabatnya. Kalau saya sudah bisa jadi sahabatnya, barulah saya pertimbangkan lagi kemungkinan untuk lebih meningkatkan hubungan kami.”

Lelaki muda yang telah melewati berbagai kesukaran dalam hidupnya ini diminta menuliskan sebuah karangan dengan suatu topik, “Siapakah pria sejati itu?” Berikut ini adalah karangan singkatnya ditulis oleh seorang anak lelaki yang belum pernah hidup bersama seorang pria sejati, bahkan belum pernah melihatnya. Namun, saya pikir terdapat sesuatu yang begitu melekat, mendarah daging, hakiki, dan mendasar, sehingga bahkan seorang anak lelaki yang belum pernah melihat pria sejati pun dapat mengungkapkannya menjadi kata-kata. Inilah yang dituliskannnya:

Pria sejati itu baik hati.

Pria sejati itu penuh perhatian.

Pria sejati itu menghindar dari perkelahian sia-sia melawan orang-orang ‘sok jagoan’.

Pria sejati mau menolong istrinya.

Pria sejati menolong anak-anaknya ketika mereka sakit.

Pria sejati tidak lari dari masalahnya.

Pria sejati memegang teguh kata-katanya dan menepati janjinya.

Pria sejati jujur.

Pria sejati tidak melanggar hukum.

Itulah gambaran di benak seorang anak lelaki tentang seorang pria yang selalu ada di dekatnya. Seorang pria yang memiliki otoritas dan juga tunduk pada otoritas.

Itulah sebuah gambaran tentang seorang Ksatria yang lemah lembut.

by: Stu Weber

Karakter adalah apa yang Anda lakukan dalam kegelapan.

Perumpamaan Tentang Perspektif Allah

Bert memandang dari surga dan melihat berbagai kejahatan yang terjadi di dunia. Dengan sangat putus asa, ia menunjukan sebuah peristiwa yang sangat jahat dan menanyakannya kepada Allah.“Bagaimana Engkau dapat membiarkan hal itu? Lihatlah kejahatan yang terjadi di bawah sana!”

“Tidak ada yang lebih lihai daripada si Iblis dalam menciptakan tragedi semacam itu!” kata Allah.

“Tapi, Allah, pria itu adalah salah seorang umat-Mu … oh, pria yang malang!”

“Aku memberi mereka kebebasan untuk memilih yang baik dan yang jahat,” kata Allah, wajah-Nya sedih. “Apa pun yang mereka pilih, mereka semua hidup bersama-sama. Kadang kala umat-Ku harus ikut merasakan akibat dari perbuatan mereka yang tidak memilih jalan-Ku.” Dia menggelengkan kepala perlahan. “Selalu menyakitkan melihat hal itu terjadi.”

“Namun orang-orang di bawah sana tidak memiliki pilihan,” protes Bert. “Mereka dipaksa menelan kejahatan yang dijejalkan ke tenggorokan mereka! Itu bukan pilihan!”

“Begini, Bert,” kata Allah dengan sabar, “pernahkah Aku membiarkan penderitaan tanpa menghukum mereka yang menyebabkannya?”

“Tidak … tidak, tapi …” Bert membalikkan badan, tak mampu lagi melihat semuanya itu.

“Perhatikan!” Allah merangkul pundak Bert dan membalikkan badannya. “Perhatikan ke sana, di dekat dinding itu.”

“Orang itu? Ia kelihatan hampir mati. Apakah ia sedang berdoa?”

“Ah, Bert, kau harus mendengar doanya!” Kasih yang dalam memancar dari mata Allah bagaikan kilat.“Doa yang sederhana dari hati yang terluka. Inilah kemenangan atas kejahatan. Memercayai Aku itulah pilihan.” Allah tersenyum sambil meneteskan air mata penuh kasih.“Bukankah orang itu mengagumkan?”

Bersama-sama mereka berdiri dalam keheningan, dan Bert mulai dapat melihat sebagaimana Allah melihat.

“Sekarang perhatikan ini, Bert.” Allah berbicara dengan lembut, tanpa mengalihkan pandangan-Nya. Ia memanggil Mikael dan pemimpin malaikat itu pun muncul.

“Turun dan angkatlah dia, Mikael.” Air mata sukacita pun mengalir. “Aku akan mengadakan pesta besar baginya.”

by: Robin Jones

Seteko Teh Yang Sempurna

Hampir dua ratus orang pemburu barang murah berdesak-desakan di ruang tengah rumah tua Withers. Kerumunan orang itu tampak tidak sabar. Suhu ruangan yang mencapai 32 derajat itu tidak menggentarkan seorang pun, karena semuanya mengejar barang-barang peninggalan keluarga Withers yang diobral musim panas itu.

Wanita yang memimpin acara obral, seorang kenalan lama, mengangguk saat kami melihat para pemburu yang sudah berebutan sejak pagi itu. “Luar biasa suara hiruk-pikuk ini!” katanya sambil tersenyum kecil.

Saya tersenyum sambil mengangguk. “Seharusnya saya tidak di sini. Saya harus di bandara dalam waktu kurang dari satu jam,” kata saya. “Tapi, saat saya masih remaja, saya pernah menjual kosmetik di lingkungan ini. Dan, Hillary Withers adalah pelanggan favorit saya.”

“Kalau begitu bergegaslah dan naiklah ke loteng,” sarannya. “Di sana banyak kosmetik kuno peninggalannya.”

Dengan cepat, saya menyeruak di antara kerumunan orang banyak dan menaiki tangga ke lantai tiga. Loteng itu kosong kecuali ada seorang wanita tua mungil di hadapan beberapa meja yang penuh dengan tas-tas berwarna kuning dalam berbagai ukuran.

“Mengapa Anda tertarik ke sini?” tanyanya sambil membuka tutup botol pewangi. “Di sini tidak ada apa-apa selain produk Avon, Tupperware, dan Fuller Brush tua.”

Saya terhenyak sesaat, dan bernapas perlahan-lahan. Tidak salah lagi, keharuman parfum “Here’s My Heart” kembali membawa saya ke masa hampir 20 tahun yang lalu.

“Ah, ini tulisan tangan saya!” seru saya saat memandang nota yang terpampang di atas sebuah tas. Tas yang tak disentuh seorang pun itu bagi saya lebih bernilai dari harga krim dan parfum yang dijual di situ. Tas itu adalah barang yang pertama kali saya jual kepada Bu Withers.

Pada bulan Juni kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya sudah menyusuri jalanan selama empat jam, namun tak seorang wanita pun menerima saya. Saat saya memencet bel di rumah yang terakhir, saya sudah siap ditolak secara halus.

“Halo, Bu, saya agen produk Avon yang baru,” kata saya terbata-bata saat pintu ukir dari kayu ek itu terbuka. “Saya punya beberapa barang bagus yang ingin saya tunjukkan pada Anda.” Ketika akhirnya saya berani menatap wanita yang berdiri di pintu itu, saya sadar bahwa ia adalah Bu Withers, penyanyi sopran yang keibuan di paduan suara gereja kami. Saya mengagumi baju dan topinya yang manis, berkhayal suatu hari nanti saya juga dapat memakai pakaian seperti itu. Dua bulan sebelumnya, saat saya harus pergi ke kota yang jauh untuk menjalani operasi otak, Bu Withers mengirimi saya banyak kartu yang sangat indah.

“Ada apa Roberta sayang, mari masuk,” suara Bu Withers seperti suara orang menyanyi. “Saya sedang butuh banyak barang. Saya sangat senang jika kamu mau masuk.”

Saya memaksakan diri duduk di sofa putih dan membuka tas wol saya yang penuh contoh kosmetik seharga 5 dolaran. Saat menyerahkan brosur kepada Bu Withers, seketika saya merasa sebagai gadis terpenting di dunia.

“Bu Withers, kami punya dua jenis krim, satu buat kulit kemerahan yang sehat dan satu lagi buat kulit pucat,” saya menjelaskan dengan raut wajah yang penuh keyakinan. “Krim ini sangat baik untuk menghilangkan kerut-kerut wajah.”

“Bagus, bagus,” ujarnya.

“Yang mana yang ingin ibu coba?” tanya saya, sambil membetulkan letak rambut palsu yang menutupi bekas luka operasi saya.

“Oh, saya rasa saya butuh keduanya,” jawabnya. “Dan, minyak wangi apa yang kau bawa?”

“Ini, cobalah yang ini, Bu Withers. Sebaiknya Anda mengoleskannya di atas pembuluh nadi sehingga dapat menimbulkan efek terbaik,” saran saya, sambil menunjuk pergelangan tangannya yang terbalut gelang berlian dan emas.

“Luar biasa, Roberta, kamu benar-benar menguasainya. Kamu pasti sudah belajar berhari-hari. Kamu sungguh pintar!”

“Benarkah, Bu Withers?”

“Benar. Dan, untuk apa uangmu nanti?”

“Saya akan menabungnya untuk sekolah perawat,” jawab saya, yang terkejut dengan kata-kata saya sendiri. “Namun, sekarang saya baru berpikir untuk membeli baju hangat buat hadiah ulang tahun ibu saya. Ia selalu menemani saya selama menjalani pengobatan, dan selama perjalanan dengan kereta, pasti akan lebih nyaman bila ia dapat memakai baju hangat.”

“Luar biasa Roberta, kau benar-benar penuh perhatian. Sekarang, apakah kau membawa barang-barang yang cocok untuk dijadikan hadiah?” tanyanya sambil menyebutkan dua barang yang dikehendakinya.

Belanjaannya yang luar biasa itu bernilai $117,42. Apakah ia sungguh-sungguh bermaksud belanja sebanyak itu? Saya bertanya-tanya dalam hati. Namun, ia tersenyum dan berkata, “Saya tunggu pesanan saya, Roberta. Selasa depan, bukan?”

Ketika saya hendak pulang Bu Withers berkata, “Kamu  tampaknya sangat lapar. Maukah kamu minum teh sebelum pergi? Di rumah ini, kami menganggap teh sebagai ‘minuman penambah semangat’.”

Saya mengangguk, kemudian mengikuti Bu Withers ke dapurnya yang masih dalam bentuk asli seperti ketika pertama di bangun, dan berisi barang-barang yang belum pernah saya lihat. Saya tertegun, dan terpesona, saat ia menyiapkan pesta teh seperti yang biasa saya lihat di film hanya untuk saya. Dengan hati-hati ia menuang air dingin ke dalam ceret, memasaknya hingga mendidih, memasukkan daun-daun teh, dan membiarkannya selama lima menit. “Kalau sudah begini, aromanya akan menyebar,” jelasnya.

Kemudian ia menyusun sebuah nampan perak dengan seperangkat alat minum porselen dari Cina, kain yang lembut, roti stroberi yang menggoda, dan berbagai hiasan kecil yang indah. Di rumah, kami biasa minum es teh di gelas, namun belum pernah saya merasa bagaikan putri diundang ke acara pesta teh di sore hari.

“Maafkan saya, Bu Withers, apakah tidak ada cara yang lebih cepat untuk menyiapkan teh?” tanya saya. “Di rumah, kami biasa menggunakan teh celup.”

Bu Withers menepuk bahu saya. “Ada banyak hal dalam hidup yang tidak perlu tergesa-gesa kita hadapi,” katanya menyakinkan saya. “Saya telah belajar bahwa menyiapkan seteko teh yang baik bagaikan menjalani hidup sebagaimana mestinya. Memang diperlukan usaha yang lebih, namun kita akan mendapat hasil yang sepadan.”

“Ambil contoh, misalnya kamu sendiri, dengan berbagai masalah kesehatanmu. Namun, kamu tetap bergumul dengan teguh hati dan penuh semangat, seperti seteko teh yang sempurna. Banyak orang yang menderita penyakit seperti kamu sudah menyerah, tapi kamu tidak. Kamu pasti dapat meraih segala sesuatu yang kamu dambakan, Roberta.”

Tiba-tiba, kenangan masa lalu saya pudar saat wanita di loteng yang panas dan lembab itu bertanya,“Kamu kenal Hillary Withers juga?”

Saya menghapus keringat di kening. “Ya … saya pernah menjual beberapa kosmetik ini kepadanya. Tapi, saya tidak mengerti mengapa ia tidak pernah memakainya atau sebaliknya membuangnya.”

“Ia sudah banyak membuangnya,” wanita itu mengungkapkan hal yang sesungguhnya. “Namun, memang beberapa di antaranya terlewatkan dan teronggok di sini.”

“Namun, untuk apa ia membeli tetapi tidak memakainya?” tanya saya.

“Oh, ia hanya dapat memakai merek kosmetik khusus.” Wanita itu berbicara dengan berbisik. “Hanya, Hillary punya perhatian khusus terhadap orang-orang yang berjualan dari rumah ke rumah. Ia tidak pernah mengusir mereka. Ia sering berkata kepada saya, “Saya bisa saja langsung memberi mereka uang, tapi uang saja tidak akan membuat mereka merasa dihargai. Jadi, saya memberi mereka sedikit uang saya, menyediakan telinga yang rela mendengar, serta membagi kasih dan doa saya. Kau takkan pernah tahu betapa besarnya pengaruh sedikit dorongan semangat bagi seseorang.”

Saya terdiam, mengingat bagaimana penjualan kosmetik saya meningkat setelah kunjungan pertama kepada Bu Withers. Saya membelikan Ibu baju hangat baru dari komisi penjualan saya, dan masih punya cukup uang untuk biaya sekolah perawat. Saya bahkan dapat memenangkan hadiah dari penjualan kosmetik terbanyak di tingkat daerah hingga nasional. Bahkan akhirnya, saya masuk pendidikan dengan pendapatan saya sendiri dan mewujudkan impian saya menjadi perawat. Kemudian, saya juga berhasil meraih gelar master dan Ph.D.

“Bu Withers benar-benar peduli dengan orang-orang ini?” tanya saya, sambil menunjuk lusinan tas antaran barang di atas meja.

“Oh, ya,” wanita tadi meyakinkan saya. “Dan ia melakukannya tanpa pamrih sedikit pun.”

Saya membayar belanjaan saya di kasir, sekantong kosmetik yang pernah saya jual ke Bu Withers, dan anting-anting emas kecil berbentuk hati. Saya memasang anting itu di kalung emas yang saya pakai di leher saya. Kemudian, saya bergegas ke bandara; karena sore itu saya harus mengikuti Konvensi Kesehatan di New York.

Ketika saya sampai di aula hotel yang megah, dan berjalan menuju podium pembicara, saya memandang sekilas ke arah lautan wajah para ahli kesehatan dari seluruh penjuru negeri. Tiba-tiba saya merasa gugup seperti dulu lagi, ketika menjual kosmetik dalam lingkungan yang tidak saya kenal dan asing bagi saya.

Dapatkah saya melakukannya? Tanya saya dalam hati.

Jari-jemari saya yang gemetar menyentuh bagian atas anting itu. Saya membukanya, dan tampak foto Bu Withers di dalamnya. Saya pun kembali mendengar kata-katanya yang lembut tapi tegas, “Kamu pasti dapat meraih apa yang kamu dambakan, Roberta.”

“Selamat sore,” saya mulai berbicara perlahan-lahan. “Terima kasih telah mengundang saya untuk berbicara tentang perawatan kesehatan. Sering dikatakan bahwa tugas perawat adalah membuat kasih itu tampak nyata. Tetapi, pagi ini saya belajar suatu hikmah yang tidak saya duga tentang kekuatan kasih yang dilakukan secara tersembunyi. Kasih yang diungkapkan, bukan untuk pamer, tetapi demi kebaikan hidup orang lain. Kerap kali tindakan kita yang berdasarkan kasih tidak diperhatikan orang. Namun, suatu saat hasilnya akan muncul karena aromanya akan menyebar.”

Kemudian, saya bercerita kepada rekan-rekan saya tentang Hillary Withers. Jauh dari yang saya bayangkan, bergegap-gempitalah suara tepuk tangan menyambut kisah itu. Menurut saya, semua itu berawal dari seteko teh yang sempurna!

by: Roberta Messner

Kebesaran Jiwa Seorang Ibu

Sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita dan bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita.

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronik. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yang cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewek-cewek yang mengenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan. Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewek-cewek jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satu-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega bisnis yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, menyuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Di foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”. Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa ibunya belanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek.

Peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan) yang membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik.

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Kasih

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.