Perumpamaan Sederhana bagi Para Ibu

Seorang ibu muda memulai perjalanan hidupnya. “Apakah jalannya jauh?” tanyanya. Pembimbingnya berkata, “Ya. Dan jalannya sulit. Kamu akan menjadi tua sebelum mencapai ujungnya. Tetapi, ujung jalan akan lebih baik daripada awalnya.”

Namun, si ibu muda merasa senang dan dia tidak percaya bahwa ada saat yang lebih baik dari tahun-tahun ini. Dia bermain dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga untuk mereka sepanjang jalan, dan berenang bersama mereka di sungai jernih. Matahari menyinari mereka dan hidup terasa indah. Si ibu muda berseru, “Tidak ada yang lebih baik dari ini.”

Malam datang, dan badai juga. Jalan menjadi gelap dan anak-anak terkejut ketakutan dan kedinginan. Sang ibu memeluk mereka dengan erat dan membungkus mereka dengan mantelnya. Anak-anak berkata, “Oh, Ibu, kami tidak takut, karena engkau dekat, dan tidak ada sesuatu yang membahayakan akan datang.”

Maka sang ibu berkata, “Ini lebih baik dari siang hari, karena aku telah mengajari anak-anakku arti keberanian.”

Pagi datang. Di depan mereka berdiri sebuah bukit, lalu anak-anak mendaki bukit itu dan merasa lelah. Namun setiap waktu si ibu selalu berkata, “Sedikit lagi, bersabarlah maka kita akan sampai.”

Maka, anak-anak mendaki dan saat mereka sampai di atas, mereka berkata, “Kami tidak akan dapat melakukannya tanpamu, Ibu.”

Si ibu, saat berbaring tidur malam itu, memandangi bintang dan berkata, “Ini adalah hari yang lebih baik dari kemarin, karena anak-anakku telah belajar sabar di tengah kesukaran. Kemarin aku memberi mereka keberanian. Hari ini aku memberi mereka kekuatan.”

Hari berikutnya, muncul awan aneh yang membuat bumi menjadi gelap, awan peperangan, kebencian, dan kejahatan. Anak-anak meraba-raba dan berjalan tersandung, dan si ibu berkata, “Lihat ke atas. Arahkan pandanganmu kepada Terang.” Anak-anak melihat di balik awan ada Kemuliaan abadi, dan Kemuliaan itu membimbing mereka dan membawa mereka keluar dari kegelapan. Maka malam itu si ibu berkata, “Ini adalah hari yang paling baik karena aku telah menunjukkan kepada anak-anakku akan Allah.”

Hari-hari berlalu. Minggu, bulan, dan tahun. Si ibu menjadi tua dan dia menjadi kecil dan bungkuk. Namun anak-anaknya tinggi dan kuat berjalan dengan keberanian. Saat jalannya sulit, mereka membantu si ibu, dan saat jalannya kasar, mereka menggendongnya karena sang ibu ringan seperti bulu. Akhirnya, mereka sampai ke sebuah bukit, dan di balik bukit mereka dapat melihat jalan yang bersinar dengan sebuah gerbang emas yang terbuka lebar.

Si ibu berkata, “Aku telah mencapai ujung dari perjalananku. Sekarang aku tahu bahwa ujungnya lebih baik dari awalnya karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dengan anak-anak yang mengikuti mereka.”

Anak-anaknya berkata, “Ibu akan selalu berjalan bersama kami, Bu, bahkan saat Ibu sudah melewati gerbang itu.”

Lalu, mereka berdiri dan memandangi sang ibu berjalan sendirian, dan gerbang tertutup. Mereka berkata, “Kita tidak dapat melihatnya, tapi ibu masih bersama kita. Seorang ibu seperti ibu kita lebih dari memori. Dia adalah sesuatu yang hadir dan terus hidup.”

Sumber: Temple Bailey di Log of the Good Ship Grace

Pusaka

Benda itu milik nenek buyut, jadi ia sadar harus memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Jambangan itu adalah salah satu benda berharga kesayangan Ibu. Ibu pernah mengatakannya.

Jambangan itu, yang dibungkus dan diletakkan di tempat yang tinggi, memang sengaja dijauhkan dari jangkauan tangan-tangan kecil. Namun, entah bagaimana ia bisa juga mencapainya. Sebenarnya ia hanya ingin melihat kuncup mawar kecil di tepi bagian bawah vas itu. Ia tidak sadar bahwa tangan seorang anak kecil berusia lima tahun kadang-kadang canggung dan tidak cocok memegang barang porselen halus. Jambangan itu pecah saat terjatuh. Ia pun mulai terisak. Isakan itu berubah menjadi sedu-sedan, makin lama makin keras. Dari dapur, sang ibu yang mendengar puteranya menangis segera datang. Ia bergegas menyusuri lorong rumah dan sampai di sudut ruang itu. Kemudian, ia berhenti dan melihat perbuatan putranya.

Di sela-sela tangisnya, sang putra dengan susah payah mengucapkan, “Aku memecahkan … jambangan itu.

Kemudian, ibunya memberikan suatu hadiah. “Syukurlah … kupikir kau terluka!” Ibunya memandang dengan lega. Ia dipeluk dengan lembut sampai tangisnya berhenti.

Ibu itu menyampaikan pesan yang sangat jelas. Anaknyalah yang berharga. Walaupun sekarang ia telah menjadi pria dewasa, peristiwa itu masih merupakan hadiah yang tersimpan di hatinya.

by: Ann Weems

Dia Terlalu Mencintaimu

Adakah orang yang rela mati demi orang lain? Kalaupun ada, pasti masih bisa dihitung dengan jari. Adakah orang yang mau mengorbankan dirinya sendiri, supaya orang lain bisa tetap hidup dan terbebas dari hukumannya? Kalaupun ada, itu semata hanya karena “KASIH“. Tidak mungkin ada musuh yang rela mati demi musuhnya. Tidak mungkin ada orang yang hatinya sudah disakiti tapi masih tetap mau mengorbankan dirinya sendiri demi orang yang sudah menyakiti hatinya itu. Tidak akan mungkin ada orang yang merelakan dirinya demi orang yang tidak dia kenal. Tidak akan mungkin ada orang yang rela mengorbankan sesuatu demi orang yang belum dikenalnya. Kalaupun ada, itu semata hanya karena “KASIH“.

Berikut ilustrasi yang semoga dapat mendeskripsikan seperti apa “KASIH” itu.

Di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja dan anaknya. Pada awalnya mereka berhubungan sangat dekat dan damai sejahtera di kerajaan. Tidak ada yang dapat merenggangkan hubungan mereka.

Namun, suatu saat ada seorang hulubalang berniat menghancurkan raja. Dia cemburu karena raja sangat dielu-elukan oleh rakyat, sementara dia, hanya seorang hulubalang. Untuk menghancurkan raja, si hulubalang terus mencoba mencari-cari titik kelemahan raja. Namun semakin dia mencari, semakin dia cemburu pada kehebatan-kehebatan raja.

Akhirnya, dia menyerah dan mengurungkan niatnya. Tapi di saat dia hendak berhenti mencari cara, si hulubalang mendapat ide. Ide yang disebutnya “brilliant” itu adalah menghancurkan anak satu-satunya raja. Dia tahu bahwa pangeran adalah satu-satunya yang paling berharga bagi sang raja.

Singkat cerita, si hulubalang membuat skenario seakan-akan pangeran diculik oleh penjahat, padahal sesungguhnya dialah penjahatnya. Raja sangat sedih kehilangan puteranya, putera yang telah diangkat menjadi anak sendiri, karena dulu raja telah memutuskan untuk tidak menikah selama raja memerintah di kerajaan. Ketika itu raja baru saja berhasil mengamankan perang di salah satu desa kerajaannya. Namun saat dia ingin menikmati kebahagiaan itu bersama puteranya, dia malah mendengar berita bahwa pangeran menghilang. Raja dirundung kesedihan yang mendalam, namun apapun ceritanya dia harus tetap memerintah kerajaan, karena ini adalah amanat dari ayahnya (raja pendahulunya).

Tapi sesungguhnya si hulubalang-lah yang menghasut pangeran. Dia yang mengatakan bahwa raja sudah tidak menyayangi dirinya lagi, raja terlalu sibuk dengan urusan-urusan kerajaan. Memang, belakangan ini raja sangat sibuk karena terjadi perang saudara di desa kerajaannya. Tentu saja pada saat itu pernyataan hulubalang adalah benar dan masuk akal bagi pangeran. Si hulubalang terus-menerus menghasut pangeran, mengajarinya bergaul dengan orang-orang pinggiran kerajaan yang notabene adalah penjahat. Mereka adalah penjahat yang melarikan diri dari kejaran tentara kerajaan yang mengamankan peperangan itu.

Mereka tampak seperti singa yang kelaparan saat melihat kedatangan hulubalang dan pangeran. Mereka sangat membenci raja, dan itu sejalan dengan niat hulubalang. Mereka akhirnya berkomplot untuk menghancurkan raja. Mereka mengajarkan pangeran tentang semua yang jahat, merampok, menghajar orang, dan yang lainnya. Mereka mengatakan bahwa dengan cara itu pangeran nantinya akan memperoleh kasih sayang dari ayahnya kembali. Jika pangeran menjadi nakal dan ikut menghancurkan kerajaan, maka raja akan segera diturunkan dari singgasana, raja tidak akan sibuk lagi, sehingga raja bisa selalu menyayangi dirinya seperti yang diharapkannya.

Pangeran yang malang. Tanpa waktu lama mereka telah mencuci otak pangeran, mereka terus saja membuat kesaksian palsu. Pangeran malah semakin bersemangat untuk turut membuat ayahnya tersingkir dari singgasana, karena pemikiran yang dangkal dan ketidaktahuannya. Pangeran muda dengan kepolosannya tidak tahu bahwa itu hal yang berbahaya bagi kerajaan.

Akhirnya tibalah saat para penjahat dan pangeran membuat perang di desa yang tadinya sempat mereguk indahnya damai. Belum lama usai, sudah perang lagi, begitulah kira-kira. Ternyata, perang kali ini lebih dahsyat dari perang sebelumnya. Para penjahat merasa lebih bebas menghancurkan desa, tentu saja karena sekarang mereka bersama-sama dengan pangeran. Dengan begitu raja tidak akan mungkin menghukum mereka. Perang membawa kehancuran dan nyawa melayang lebih banyak. Tapi, sesungguhnya pangeran tidak tega melihat keadaan ini, karena pada dasarnya pangeran orang yang berhati lembut dan polos seperti ayahnya. Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun para penjahat itu telah mencoreng-moreng kepolosan pangeran, hanya demi memuaskan rasa sakit hati mereka pada raja.

Berita kehancuran desa sampailah ke telinga raja, tentu saja hulubalang yang membawa berita itu. Ini taktik untuk membuat raja hancur. Raja pun semakin bersedih. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. “Kenapa semua ini harus terjadi padaku, Papa? Kenapa hidupku terus dilanda bencana? Aku harus bagaimana? Aku sangat mengasihi puteraku. Aku harus mengerahkan tentara untuk mengatasi yang mana dulu? Untuk terus mencari anakku atau mengerahkan mereka untuk menangkap penjahat? Aku benar-benar bingung, Papa. Tolonglah aku…”

Dalam kesendirian dia terus memikirkan cara terbaik, hingga akhirnya memutuskan untuk mendahulukan kepentingan kerajaan. Raja memerintahkan pasukan untuk menangkap semua penjahat kelas kakap itu, semuanya tanpa kecuali. Beruntung, akhirnya mereka semua bisa tertangkap oleh tentara kerajaan. “Kerja bagus, pasukan…”, ucap raja saat melihat barisan penjahat berbaris di seberang singgasananya. Dan hari ini adalah hari penghukuman bagi semua penjahat yang tertangkap itu. Mereka semua akan dihukum cambuk sebanyak 70 kurang satu kali.

Tiba-tiba raja melihat salah satu penjahat yang berdiri di paling pinggir barisan, dia tertunduk malu dan wajahnya penuh dengan bekas luka dan tonjokan. Hancur. Bonyok. Orang yang dilihat raja itu lebih cocoknya disebut bocah daripada seorang penjahat. Raja mulai merasakan ada yang berbeda dengan anak itu. Didekatinya bocah itu, dia tersadar, ya dia yakin itu adalah puteranya, putera yang sudah sekian lama dia rindukan.

Tanpa malu-malu, raja memeluk bocah itu dan tanpa sadar dia meneteskan air mata. Bocah itu hanya terpaku dalam diam. Dia sangat malu berdiri di sana. Biasanya dia tidak pernah berdiri di hadapan rakyat sebanyak ini. Dia sangat ketakutan, namun raja terus memeluk bocah itu dengan eratnya. Berbeda dengan si bocah yang merasa sangat malu, raja malah tidak peduli dengan semua mata yang memandangnya aneh. Yang terpenting baginya adalah putera kesayangannya telah kembali meski dengan penampilan yang lebih pantas disebut gembel.

Akhirnya, apapun ceritanya, hukuman cambuk harus tetap dijalankan, meskipun salah satu dari penjahat kelas kakap itu adalah pangeran. Meski bukan anak kandung, namun kasih raja kepada anak itu sungguh mendalam, melebihi apapun, mereka pernah hidup bersama dan sangat dekat. Hal itu pun dibuktikannya saat giliran pangeran untuk dihukum cambuk.

Semua mata penghuni kerajaan tertuju pada raja mereka. Semua terpaku saat melihat raja perlahan-lahan melepaskan jubah kemuliaannya, melepaskan kehormatan dan kebesarannya di depan semua rakyat dan bawahannya. Dia tidak peduli dengan pendapat mereka. Yang terpenting baginya adalah dia bisa menggantikan posisi anak yang sangat dikasihinya. Peraturan tetap peraturan. Tidak ada yang bisa menggantikan hukuman bagi anak di bawah umur selain orang tuanya sendiri. Dan raja siap untuk menggantikan hukuman cambuk yang biasanya dilakukan pada penjahat kelas kakap.

Cambukan, sebanyak 70 kurang satu kali. Bukanlah suatu hukuman ringan. Bukan hanya sakitnya. Tapi harga dirinya telah dikorbankan demi anaknya. Takhtanya. Nama baiknya. Cambukan, sebanyak 70 kurang satu kali. Satu demi satu, begitu menyakitkan. Hanya suara “Oowwhh…” yang terdengar dari mulut orang-orang yang memandangnya. Pangeran hanya bisa menangis memandang ayahnya dicambuki sedemikian kejamnya. Gara-gara kenakalannya dan kebodohannya, ayahnya sekarang harus menanggung deritanya. Pangeran menangis sesenggukan sambil berteriak, “Hentikan!” Suaranya hampir habis karena berteriak dan menangisi ayahnya. Rakyat yang lain pun tenggelam dalam pemandangan mengharukan itu.

Akan tetapi, suara kesakitan tidak pernah keluar dari mulut sang raja. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang-orang, terutama anaknya. Dia terus mencoba tersenyum menutupi rasa sakitnya. Dia terus tersenyum memandang anaknya, penuh kasih, seiring dengan cambukan yang satu-persatu terus menghantam tubuhnya, yang kini tampak berbekas-bekas biru. Tidak dihiraukannya lagi semua cambukan itu. Yang dipikirkannya hanyalah, setelah hukuman ini aku akan bisa hidup bersama anakku lagi. Hidup bahagia bersamanya. Seperti dulu lagi. Aku akan melakukannya demi anakku. Ya, demi cintaku padamu, Nak.

Satu cambukan lagi, maka berakhirlah, namun raja tetap tersenyum dalam kesakitannya. Pangeran berlari memeluk ayahnya yang sudah tidak berdaya lagi. Raja merasa sangat bahagia saat melihat puteranya yang dulu hilang, kini kembali lagi. Pangeran terus menangis melihat tubuh ayahnya yang kini sudah tidak jelas lagi. Darah membaur bersama kulit dan bekas cambukan. Pangeran tak kuasa menahan perih di hatinya, dia menyesal, sangat menyesal. Namun, tangisan pangeran hanya dibalas dengan senyuman yang berkata, “Lihat anakku, aku sangat mencintaimu. Bahkan terlalu mengasihimu.” Raja menutup kedua matanya dan tersenyum bahagia dalam pelukan anaknya.

His grace: GMS inspired by ATK

Malaikat Pelindung

Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, Engkau akan mengirimkan aku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”

Tuhan pun menjawab, “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seseorang yang khusus untukmu, dia akan merawat dan mengasihimu.”

Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini di surga ini aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.”

Tuhan pun menjawab, “Tak apa, malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.”

Namun Si kecil bertanya lagi, “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?

Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang indah, dia akan selalu sabar berada disampingmu. Dan dengan kasihnya dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia.”

Si kecil bertanya lagi, “Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara padamu ya Tuhan?”

Tuhan pun kembali menjawab, “Malaikatmu itu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu dan mengajarkanmu untuk berdoa.”

Lagi-lagi Si kecil menyelidik, “Namun aku mendengar disana banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”

Tuhan pun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.”

Namun Si kecil kini malah menjadi sedih, “Tuhan tentu aku akan menjadi sedih jika tak melihat-Mu lagi.”

Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan selalu mengajarkan keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu aku akan selalu ada disisimu.”

Hening. Kedamaian pun kembali menerpa surga. Suara-suara panggilan dari bumi mulai sayup-sayup terdengar. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama dari malaikat pelindungku itu.”

Tuhan kembali menjawab, “Nama malaikatmu itu tak begitu penting. Hanya saja kamu akan sering menyebutnya dengan panggilan Ibu.”

Things God Won’t Ask

God won’t ask what kind of car you drove, but will ask how many people you drove who didn’t have transportation.

God won’t ask the square footage of your house, but will ask how many people you welcomed into your home.

God won’t ask about the fancy clothes you had in your closet, but will ask how many of those clothes helped the needy.

God won’t ask about your social status, but will ask what kind of class you displayed.

God won’t ask how many material possessions you had, but will ask if they dictated your life.

God won’t ask what your highest salary was, but will ask if you compromised your character to obtain that salary.

God won’t ask how much overtime you worked, but will ask if you worked overtime for your family and loved ones.

God won’t ask how many promotions you received, but will ask how you promoted others.

God won’t ask what your job title was, but will ask if you reformed your job to the best of your ability.

God won’t ask what you did to help yourself, but will ask what you did to help others.

God won’t ask how many friends you had, but will ask how many people to whom you were a true friend.

God won’t ask what you did to protect your rights, but will ask what you did to protect the rights of others.

God won’t ask in what neighborhood you lived, but will ask how you treated your neighbors.

God won’t ask about the color of your skin, but will ask about the content of your character.

God won’t ask how many times your deeds matched your words, but will ask how many times they didn’t.

Sumber: www.dailyavocado.net

1 Dollar 11 Sen

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi, tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat … tiga kali. Nilainya harus benar- benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian, tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!

“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”

“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit … dan saya ingin membeli keajaiban.”

“Apa yang kamu katakan?” tanya sang apoteker.

“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang. Jadi berapa harga keajaiban itu?”

“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”

“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya. “Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya, tapi saya juga mempunyai uang.”

“Berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.

“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga. “Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”

“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. “Satu dollar dan sebelas sen … harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu.” Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Operasi itu,” bisik ibunya, “adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya.”

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut. Satu dollar dan sebelas sen ditambah dengan keyakinan.

Sumber: GFRESH! Magazine

Cinta Yang Sejati

Belum habis para malaikat terkagum-kagum akan apa yang telah dibuat-Nya selama 5 hari sebelumnya, dan hari itu Allah mengambil keputusan, “Aku akan menciptakan yang lain daripada yang lain hari ini!” kata-Nya pada hari ke-6.

Tiba-tiba Allah turun dari tahta-Nya yang mulia dan berkilauan, Ia menginjakkan kaki-Nya di atas tanah yang berlumpur itu untuk pertama kalinya dan dengan penuh kelembutan, Ia menggulung lengan jubah-Nya.

Berbisik-bisiklah para malaikat satu dengan yang lain, penuh rasa ingin tahu apakah gerangan yang membuat Allah turun dari tahta-Nya dan berdiri di atas lumpur itu. Lalu seorang malaikat memberanikan diri dan bertanya, “Ya Allah Yang Mulia, Maha Penyayang dan Pengasih, apakah yang akan Kau buat hingga Kau merelakan kaki dan jari-jari tangan-Mu menyentuh lumpur yang kotor itu? Biarlah kami yang melalukan pekerjaan yang kotor ini sebab Engkau tidak layak untuk melakukan ini semua.”

Tersenyumlah Allah dengan senyuman khas-Nya yang lembut, “Lihatlah, sebentar lagi pekerjaan-Ku akan selesai.”

“Apakah yang akan Kau buat Tuanku?” tanya malaikat itu lagi. Allah menjawab, “Aku akan menciptakan karya yang terindah yang segambar dan serupa dengan diri-Ku.”

Terbelalaklah mata malaikat itu, “Wah … begitu mulianya dan berharganya ciptaan-Mu ini. Mengapa Engkau mau menciptakannya?”, tanyanya sambil menengadahkan kepalanya.

Jawab-Nya, “Akan ada kasih di hatinya bagi-Ku, akan ada pujian dari mulutnya, dan akan ada cinta yang sejati antara Aku dan dia. Bukankah itu indah? Pernahkah terlintas di pikiranmu akan hal ini, dicintai dan mencintai dengan cinta yang sejati ?”

Terkagumlah malaikat itu dan dengan mata yang berbinar-binar berkata, “Sangat indah ya Tuanku, sangat indah … Sungguh tak sekalipun hal ini terlintas di pikiranku. Pastilah ciptaan dari-Mu ini senantiasa akan menyenangkan-Mu, selalu patuh pada-Mu, tak pernah menyangkali-Mu dan mengasihi-Mu sepanjang hidupnya.”

Sembari menyeka keringat ilahi-Nya dan tersenyum Ia berkata, “Yang kau katakan itu sangatlah indah, tetapi tidaklah demikian. Dia akan memiliki kebebasan dan dia akan memiliki pilihan untuk mengasihi-Ku atau tidak.”

Semerta-merta raut muka malaikat itu berubah dan tenggelam dalam kebingungan yang tak terselami, “Dengan demikian mereka memiliki kesempatan untuk membuat diri-Mu sedih, ya Rajaku. Engkau terlalu baik untuk dikecewakan, tidakkah lebih baik untuk tidak menciptakannya atau mungkin menciptakan mereka dengan hati yang selalu mencintai-Mu, tanpa pilihan yang lain?”

“Aku menginginkan cinta yang sejati, hamba-Ku. Dan cinta yang sejati bukanlah cinta yang memaksa tetapi cinta yang timbul dari segala macam pilihan yang ada.”

Mengertilah malaikat itu dan berkata, “Jadilah kehendak-Mu ya Tuanku! Kudus dan mulialah Engkau selamanya!”

Seketika itu juga, lumpur itu mulai menunjukkan bentuknya yang berstruktur sama dengan Allah dan akhirnya Ia berkata, “Kuhembuskan nafas kehidupan daripada-Ku, jadilah engkau manusia!”

Sumber: Warta PMHB

Sebuah Kisah Kasih

Suatu hari, aku bangun dini hari untuk menyaksikan sang surya terbit. Dan keindahan karya ciptaan Tuhan sungguh tak terlukiskan. Sementara aku mengaguminya, aku memuliakan Tuhan oleh karena karya-Nya yang mempesona. Sementara aku duduk di sana, aku merasakan kehadiran Allah dalam diriku.

Ia bertanya kepadaku, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkaulah Allah dan Juruselamat-ku!”

Kemudian Ia bertanya, “Seandainya engkau cacat jasmani, apakah engkau akan tetap mengasihi Aku?” Aku terpana. Aku memandangi tanganku, kakiku dan seluruh bagian tubuhku yang lain sambil memikirkan betapa banyak pekerjaan yang tidak akan dapat aku lakukan, pekerjaan-pekerjaan yang selama ini aku anggap biasa. Dan aku menjawab, “Akan sangat berat Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Kemudian Tuhan berkata, “Seandainya engkau buta, apakah engkau akan tetap mengagumi ciptaan-Ku?” Bagaimana aku dapat mengagumi sesuatu tanpa dapat melihatnya? Kemudian pikiranku melayang kepada orang-orang buta di muka bumi ini dan betapa banyak di antara mereka yang mengasihi Tuhan dan mengagumi ciptaan-Nya. Jadi aku menjawab, “Sulit dibayangkan Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Kemudian Tuhan bertanya kepadaku, “Seandainya engkau tuli, apakah engkau akan tetap mendengarkan firman-Ku?” Bagaimana aku dapat mendengar jika aku tuli? Aku tersadar, mendengarkan Firman Tuhan tidak hanya dengan telinga, tetapi dengan hati. Maka aku menjawab, “Akan sangat berat, Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan firman-Mu.”

Kemudian Tuhan bertanya, “Seandainya engkau bisu, apakah engkau akan tetap memuliakan Nama-Ku?” Bagaimana aku dapat memuji tanpa bersuara? Lalu menjadi jelas bagiku: Tuhan menghendaki kita menyanyi dari kedalaman hati dan jiwa kita. Tidak jadi soal apakah suara kita terdengar sumbang. Dan memuliakan Tuhan tidak selalu dengan nyanyian, tetapi dengan berbuat baik kita menyampaikan pujian kepada Tuhan dengan ucapan syukur. Jadi aku menjawab, “Meskipun aku tidak dapat melantunkan nyanyian pujian, aku akan tetap memuliakan Nama-Mu.”

Dan Tuhan bertanya, “Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?” Dengan tegas dan penuh keyakinan, aku menjawab lantang, “Ya Tuhan! Aku mengasihi Engkau karena Engkaulah satu-satunya Allah yang Benar.”

Aku pikir aku telah menjawab dengan benar, tetapi …

Tuhan bertanya, “Jika demikian, mengapa engkau berdosa?”

Aku menjawab, “Karena aku hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna.”

“Jika demikian, mengapa pada saat suka engkau menyimpang jauh? Mengapa hanya pada saat duka saja engkau berdoa dengan khusuk?”

Tidak ada jawaban. Hanya air mata.

Tuhan melanjutkan, “Mengapa melantunkan pujian hanya di Gereja dan di tempat-tempat retret? Mengapa datang kepada-Ku hanya pada saat doa? Mengapa meminta dengan demikian egois? Mengapa tidak setia?”

Air mata mengalir jatuh di pipiku.

“Mengapa engkau malu akan Aku? Mengapa engkau tidak mewartakan Kabar Sukacita? Mengapa pada saat aniaya engkau berpaling kepada yang lain sementara Aku menyediakan punggung-Ku untuk memikul bebanmu? Mengapa mengajukan alasan-alasan ketika Aku memberimu kesempatan untuk melayani dalam Nama-Ku?”

Aku berusaha menjawab, tetapi tidak ada jawab yang keluar.

“Engkau dikaruniai hidup. Aku menciptakan engkau, jangan sia-siakan hidupmu. Aku memberkati engkau dengan talenta-talenta untuk melayani Aku, tetapi engkau senantiasa menghindar. Aku telah menyingkapkan rahasia Firman-Ku kepadamu, tetapi pengetahuanmu tidak bertambah. Aku berbicara kepadamu, tetapi telingamu tertutup rapat. Aku menunjukkan belas kasih-Ku kepadamu, tetapi matamu tidak melihat. Aku mengirimkan penolong-penolong bagimu, tetapi engkau duduk berpangku tangan sementara mereka engkau singkirkan. Aku mendengarkan doa-doamu dan Aku telah menjawab semuanya.”

“Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?”

Aku tidak mampu menjawab. Bagaimana mungkin? Aku amat malu. Aku tidak punya penjelasan. Apa yang dapat aku katakan? Ketika hatiku menjerit dan air mata telah membanjir, aku berkata, “Ampuni aku, Tuhan. Aku tidak layak menjadi anak-Mu.”

Tuhan menjawab, “Itu Rahmat, Anak-Ku.” Aku bertanya, “Jika demikian, mengapa Engkau terus-menerus mengampuni aku? Mengapa Engkau demikian mengasihi aku?”

Tuhan menjawab, “Karena engkau adalah Ciptaan-Ku. Engkau adalah Anak-Ku. Aku tidak akan meninggalkan engkau.”

Jika engkau menangis, hati-Ku hancur dan Aku akan menangis bersamamu. Jika engkau bersorak kegirangan, Aku akan tertawa bersamamu. Jika engkau putus asa, Aku akan menyemangatimu. Jika engkau jatuh, aku akan mengangkatmu. Jika engkau lelah, Aku akan menggendongmu. Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman, dan Aku akan selalu mengasihimu selamanya.”

Belum pernah aku menangis sedemikian pilu sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bersikap dingin dan beku selama ini? Bagaimana mungkin aku melukai hati-Nya dengan segala kelakuanku? Aku bertanya kepada Tuhan, “Berapa besar Engkau mengasihi aku, Tuhan?”

Tuhan merentangkan kedua belah tangan-Nya, dan aku melihat tangan-Nya yang berlubang tertembus paku. Aku bersimpuh di kaki Kristus, Juruselamat-ku. Dan untuk pertama kalinya aku berdoa dengan segenap hati.

Sumber: yesaya.indocell.net

Kepada Kamu Yang Manis

Andai TUHAN punya kulkas, fotomu pasti dipajang di atasnya. Andai TUHAN punya dompet, fotomu pasti diselipkan di dalamnya. Ia menerbitkan matahari untukmu setiap pagi dan menumbuhkan bunga-bunga untukmu pada musimnya. Kapan saja kamu ingin berbicara, Ia siap mendengarkan. Ia bisa tinggal dimana saja di alam raya ini, tetapi ia memilih untuk tinggal dalam hatimu. Lihat kawan, betapa Ia tergila-gila padamu!

TUHAN tidak menjanjikan hari-hari tanpa duka, kegembiraan tanpa penderitaan, matahari tanpa hujan, tetapi Ia sungguh menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-harimu, penghiburan bagi air matamu, dan terang bagi jalanmu.

Sumber: Warta CCFC

Indah Pada Waktunya

Kuminta pada TUHAN setangkai bunga segar, Ia beri kaktus jelek dan berduri. Aku minta kupu-kupu, diberi ulat berbulu. Aku sedih dan kecewa. Namun kemudian, kaktus itu berbunga indah sekali. Ulat itu menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan TUHAN, indah pada waktunya!

TUHAN tidak memberi apa yang kita harapkan tapi Ia memberi apa yang kita perlukan. Kadang kita sedih, kecewa, terluka tapi jauh di atas segalanya Ia sedang merajut yang terbaik dalam kehidupan kita.

Sumber: Warta CCFC