Pentingnya Berpikir Kritis

“It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it.”
-Aristotle-

Hai zenius fellow! Kali ini gw mau ngebahas tentang critical thinking! Ada paragraf lucu deh. Gue dapet dari internet, Lisa Shea (http://www.lisashea.com/hobbies/art/general.html). Di situ, dia lagi ngebahas tentang Da Vinci Code.

“I’m really happy the book has gotten people to think – but it concerns me that people then come to me and say “OK tell me the truth!” These people are now sure that the church has been lying to them and they want to blindly believe another person? I have a LARGE list of source reference books. Go read them! Exercise your brain! Figure out for YOURSELF what is true and what is not. If all you do is sit back and say “OK I will believe someone else now”, then you’ve missed a main point of my website. The point is that people are free when they learn for themselves what to believe.”

Iya. Lucu! Tapi, jangan-jangan kita adalah salah satu orang yang kayak gitu. Setelah denger (atau baca) sesuatu, yakin kalo ada yang salah terus kita malah percaya buta sama orang lain. Hihihi… kayaknya lucu sih. Tapi, sebenarnya ini mengkhawatirkan. Di era informasi ini, kita harus bisa kritis, Bung!

Kalo nggak kritis, gampang banget ditipu sama berbagai macam teori konspirasi, hoax, dan macem-macem lainnya. Jangankan kalo lo nggak kritis. Lo kritis aja, masih bisa ketipu.

Fenomena Air HADO

Gue pernah baca sebuah buku tentang Air HADO. Yang ngarang namanya Emoto. Melihat keterangan tentang pengarangnya, Emoto ini tidak memiliki latar belakang sains. Tapi, berhubung dia mengambil liberal art (yang diterjemahkan secara tidak tepat sebagai “seni bebas”), gue pikir dia tidak akan menulis sesuatu hal secara sembarangan.

Jadi gini. Menurut Emoto, air akan mendengarkan perkataan-perkataan manusia. Dia melakukan eksperimen sebagai berikut:

  1. Ambil air suling, letakkan pada botol.
  2. Tuliskan kata2 positif pada botol tersebut. Misalnya, “Love and Thank you”, “Arigato”, dan sebagainya.
  3. Bekukan air tersebut sampai mencapai suhu −25 °C (−13 °F).
  4. Foto hasilnya.

Menurut Emoto, kristal yang terfoto itu hasilnya akan sangat bagus. Begitu juga kalau air itu didengarkan dengan lagu-lagu klasik atau didoakan. Tapi, menurut Emoto juga, air tidak akan menunjukkan kristalnya ketika ia dituliskan kata-kata negatif seperti “bego lu” atau yang lain. Ia juga tidak membentuk kristal jika terkena radiasi gelombang elektromagnet dari televisi, handphone, dsb. Lagu-lagu heavy metal juga akan membuat air ini tidak mengkristal.

Saat gue baca buku itu. Gue belum menemukan kesalahan dari penelitiannya. Berhubung gue percaya sama data-data yang dia berikan, gue cuma bisa bilang, “itu mungkin aja bener. Tapi, belum ada hipotesis yang bisa menjelaskan kenapa itu semua terjadi”. Dua kejadian yang terjadi secara berurutan belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat. Post hoc non est propter hoc. Jadi, menurut gue, perlu ada general theory yang bisa menjelaskan kejadian-kejadian itu. Didorong oleh rasa ingin tahu gue ini, gue mencoba browsing di internet. Gue pikir, mungkin ada beberapa scientist yang udah ikutan meneliti ini dan menawarkan beberapa hipotesis.

Search di google menuntun gue ke Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Masaru_Emoto) dan JREF(James Randi Education Foundation). Di sana gue menemukan bahwa Emoto tidak melakukan double-blind saat meneliti. Datanya pun salah. Double-blind adalah salah satu metode untuk mereduksi bias saat observasi. Tanpa double-blind, seorang observer cenderung hanya mengambil data yang sesuai dengan hipotesisnya atau kepercayaannya. Terlebih, JREF menantang Emoto satu juta dollar jika bisa membuktikan hipotesisnya itu dengan menggunakan double-blind. Ternyata dia belum berhasil. Sebelumnya, gue pernah denger sih tentang JREF ini dari seorang teman. JREF ini emang berjanji memberikan $1.000.000 kepada siapapun yang bisa menjelaskan kejadian-kejadian supranatural ke ranah sains. Belum ada yang berhasil tuh. Ada yang merasa tertantang? :D

Di era informasi seperti sekarang ini, kita mudah mengakses berbagai informasi. Tapi, sayangnya, banyak banget yang ngawur. Ada yang tidak disengaja karena terlalu cepat melompat ke kesimpulan tertentu tanpa menggunakan metode penelitian yang benar banyak juga yang disengaja karena keuntungan yang bisa didapat dari penyebaran informasi itu. Misalnya uang atau di era demokrasi ini, suara politik untuk menjatuhkan lawan, dan sebagainya. Kalau nggak kritis. Kita bisa tertipu.

Lihat aja Da Vinci Code. Teori-teorinya mungkin ada yang bener. Tapi, tentu saja itu masih berlatar belakang hipotesis yang belum terbukti secara ilmiah.

Salam kritis!

by: Wisnu O. P. S.

“I’m built with it”

Oh leave the Wise our measures to collate.
One thing at least is certain, light has weight.
One thing is certain and the rest debate.
Light rays, when near the Sun, do not go straight.
-Sir Arthur Eddington-

Suasana aula Cambridge sepi dan tegang, orang-orang berkumpul menunggu hasil penelitian yang menentukan bukan saja untuk sains, tapi untuk harga diri bangsa (untuk beberapa orang). Sir Eddington melangkah pasti membawa 2 plate fotografi pemotretan gugus bintang Hyades. Satu diambil di Inggris dan satu lagi diambil di Pulau Principe, lepas pantai barat Afrika, kala gerhana matahari total.

Today we will become the witness of scientific breakthrough gentleman, please be seated.

Semua orang memilih tempat duduknya dan beberapa menghentikan pembicaraan mereka dengan kolega di belakang tempat duduknya. Semua mata memandang Sir Eddington memasang dua plate yang akan menentukan nasib ilmuwan pencetus gravitasi hampir 300 tahun yang lalu, yang merupakan pujaan bangsa Inggris, Sir Isaac Newton. Hari ini mereka akan menyaksikan, apakah teori yang bertahan selama 300 tahun itu akan tetap bertahan atau gugur oleh perhitungan ilmuwan tak terkenal, anti sosial, bahkan lahir di negara musuh mereka saat itu, Jerman. Ilmuwan itu bernama Albert Einstein.

Dua plate yang diambil dari dua lokasi berjauhan dan pada kondisi yang sama tersebut disatukan. Apabila Newton benar, maka foto bintang di dua lokasi tersebut akan sama. Dan sebaliknya jika Einstein dengan perhitungan di khayalannya (Der Gedankexperiment), maka cahaya bintang di Afrika Selatan, yang mengalami gerhana matahari, akan dibelokkan. Dan terdapat gap, antara dua titik di foto.

Light bended by gravity??? What kind of nonsense this German scientist proposed?” sebagian ilmuwan Inggris bergumam menunggu Eddington selesai memasang 2 plate itu.

Eddington melihat 2 plate yang disatukan. Ia memfokuskan lensa objektif untuk melihat gugus Hyades di samping prominence matahari di kala gerhana. Ia ragu sejenak. Teringat ia akan tulisan di jurnal hariannya di Pulau Principe tertanggal 29 Mei 1919:

The rain stopped about noon and about 1.30… we began to get a glimpse of the sun. We had to carry out our photographs in faith. I did not see the eclipse, being too busy changing plates, except for one glance to make sure that it had begun and another half-way through to see how much cloud there was. We took sixteen photographs. They are all good of the sun, showing a very remarkable prominence; but the cloud has interfered with the star images. The last few photographs show a few images which I hope will give us what we need…

Sambil membetulkan kacamatanya, sekali lagi ia lihat lebih teliti. Ia angkat kepalanya dan berkata:

A gap! Einstein!!!

Suasana Aula berusia lebih dari 500 tahun itu senyap. Beberapa menganggukkan kepala, beberapa menatap heran, beberapa berdiri, menghentak dan bergegas ke luar ruangan. Seorang Englishman, Eddington, membuktikan teori ilmuwan musuh negaranya yakni seorang Jerman, Einstein, untuk mengkoreksi ilmuwan besar negaranya sendiri, Newton.

Banyak orang mengira sains adalah bidang arogan yang hanya berisi orang-orang di menara gading. Sering kali saya bertemu orang yang melihat sains sebagai sesuatu yang berat.

Well I can’t blame them all. Sering juga saya bertemu orang yang mengaku saintis tapi tidak menggunakan logika mereka untuk berpikir. Saintis atau ilmuwan bukanlah mahasiswa yang lulus dari MIPA saja. Saintis bisa orang-orang dari tiap profesi asalkan mereka menggunakan metode sains untuk berpikir mereka. Liat dulu permasalahan, ajukan pertanyaan, buat percobaan atau cari data mengenai jawaban pertanyaan dan tarik kesimpulan. Eddington membuktikan ia merupakan saintis sejati dengan tidak bias. Baik bias dalam hal nasionalime sempit, atau bias mengakui hasil karya Einstein sebagai karyanya sendiri.

Sulit memang memisahkan ego manusia dan idealisme saintifik. Saya teringat suatu kata-kata yang saya lupa kapan dan di mana membacanya.

Pertama

Dokter itu boleh bohong tapi tidak boleh salah
karena kalau pasien mau meninggal besok, dokternya biasanya akan menenangkan. Tapi dokter hampir tidak boleh salah mendiagnosis.

Kedua

Ilmuwan itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong.”
Hasil data penelitian boleh saja tidak sesuai teori di buku. Tapi tampilkan apa adanya dan jangan diubah. Salah data, kurvanya gak bagus atau datanya ngacak? Gak ada tuh, justru kesalahan sering membuka penemuan baru.

Ketiga

Politikus itu boleh salah boleh bohong!!
No offense to politician, but reality bites sometimes.”

Kembali ke Eddington, Einstein dan Newton. Apakah setelah dibuktikan dengan percobaan, teori gravitasi Newton menjadi tak berguna? Bisa iya, bisa tidak. Pada kondisi normal (consider yourselves about what is a normal condition) teori Newton berlaku, tapi pada kondisi ekstrem, relativitas Einstein merajai. Einstein “hanya” memoles Newton sedikit untuk fenomena yang tak dapat dijelaskan oleh mekanika klasik Newton.  Rangkaian pengetahuan sambung menyambung ini, seperti yang dikatakan Stephen Hawking ketika ditanya mengapa ia sangat jenius oleh wartawan, adalah:

Because I’m standing on the shoulder of giant.”

Karena penelitian ilmuwan sebelum masanya, Hawking bisa merumuskan persamaan gravitasi di dalam black hole dan terus menyempurnakan teori Einstein dengan TOE (Theory Of Everything) yang masih dikerjakannya.

Setelah pembuktian teori relativitas umum oleh Eddington, Einstein menjadi terkenal di seluruh dunia. Jerman yang baru saja kalah perang dunia pertama, seolah mendapat kebanggan sendiri di tengah kedukaan dan inflasi yang menghebat.

Eddington sendiri? Seperti juga penarik layar untuk pertunjukan, ia tenggelam dalam nama besar Albert Einstein. Mengapa ia rela membuktikan teori orang lain dan menekan bias pendapatnya sendiri? Ilmuwan yang baik selalu mencari kebenaran pada data eksperimen. Ketika science board Cambridge menanyakan maksud Eddington untuk membuktikan teori seorang Jerman, ia diragukan kesetiaanya pada Inggris Raya. Ia ditanya apakah ia bisa objektif? Eddington berkata, “With my respect Sir, I’m built with it“.

by: Pras Dianto

Untuk Segala Sesuatu Ada Waktunya

[1] Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
[2] Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
[3] ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
[4] ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
[5] ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
[6] ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
[7] ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
[8] ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
[9] Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
[10] Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
[11] Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
[12] Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.
[13] Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
[14] Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
[15] Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

Inilah Harapanku Untukmu

Tatkala kita berusaha menyediakan hal-hal yang baik saja bagi anak-anak kita, terkadang hal itu justru membuat mereka makin buruk.

Untuk cucu-cucuku, aku tahu apa yang lebih baik bagi mereka.

Aku ingin mereka menghargai pakaian bekas, es krim buatan sendiri, dan potongan daging sisa makanan mereka. Aku sungguh berharap demikian.

Cucuku yang tercinta, kuharap engkau dapat belajar tentang kerendahan hati melalui penghinaan yang kau terima dan belajar kejujuran dari pengalaman tertipu.

Kuharap engkau belajar merapikan tempat tidurmu sendiri, memotong rumput, dan mencuci mobil dan kuharap tak ada orang yang memberimu mobil baru ketika engkau baru berumur 16 tahun.

Dan, kuharap setelah itu engkau mendapat pekerjaan yang baik.

Alangkah baiknya kalau setidak-tidaknya sekali waktu engkau bisa melihat lahirnya seekor anak sapi atau melihat anjing tuamu tertidur.

Kuharap engkau pernah mendapatkan memar hitam di matamu karena membela sesuatu yang kau yakini.

Kuharap engkau mau berbagi tempat tidurmu dengan adik lelakimu. Dan, boleh-boleh saja engkau membuat garis pemisah di kamar tidur kalian, tetapi ketika ia ingin menyelusup di balik selimut bersamamu karena ketakutan, kuharap engkau mengizinkannya.

Dan, ketika engkau ingin menonton film Disney dan adik kecilmu ingin ikut serta, kuharap engkau mau mengajaknya.

Kuharap engkau dapat menjalani kesulitan berat bersama teman-temanmu dan tinggal di sebuah kota dimana engkau dapat menjalaninya dengan aman.

Dan, bila hari-hari hujan dan engkau harus diantar dengan mobil, kuharap supirmu tidak perlu menurunkanmu sejauh dua blok karena engkau tak mau terlihat diantar mobil sehingga engkau diolok-olok sebagai “anak mami”.

Kalau engkau menginginkan sebuah ketapel, kuharap ayahmu mengajarimu cara membuatnya, dan bukan membelinya. Kuharap engkau mau belajar keras dan membaca buku, dan ketika engkau belajar menggunakan komputer canggihmu, engkau pun juga harus tetap belajar berhitung dan membagi dengan otakmu sendiri.

Kuharap engkau digoda oleh teman-temanmu ketika pertama kali terpikat pada seorang gadis, dan ketika engkau membantah ibumu, kuharap engkau dapat belajar karena mulutmu dicuci dengan sabun.

Semoga lututmu terkelupas ketika mendaki gunung, tanganmu terbakar tungku perapian, dan lidahmu melekat pada tiang bendera yang membeku.

Kuharap engkau tersinggung ketika seorang tua bodoh meniupkan asap rokok ke wajahmu. Aku tak peduli kalaupun engkau pernah mencoba-coba mencicipi bir, tetapi kuharap engkau tidak akan menyukainya. Dan, jika seorang teman mengajakmu ke tempat-tempat terlarang atau mencoba obat bius, kuharap engkau cukup pintar untuk menyadari bahwa ia tidak pantas menjadi temanmu.

Tentu aku berharap engkau menyediakan waktu untuk duduk di bangku taman bersama kakekmu atau memancing bersama pamanmu. Semoga engkau dapat merasakan dukacita pada upacara perkabungan dan sukacita pada hari libur.

Kuharap ibumu menghukummu ketika engkau melemparkan bola bisbol ke jendela rumah tetangga dan semoga ibumu memelukmu dan menciumimu pada hari Natal, ketika engkau memberinya gips cetakan buatanmu.

Inilah harapanku untukmu agar engkau mengalami masa-masa sukar dan kekecewaan, kerja keras, dan kebahagiaan.

by: Paul Harvey

Kontes Kecantikan

Sebuah perusahaan produk kecantikan berhasil meminta orang-orang di sebuah kota besar untuk mengirimkan foto dan surat singkat tentang wanita tercantik yang mereka kenal. Dalam jangka waktu beberapa minggu saja, ribuan surat dikirimkan ke perusahaan itu.

Salah satu surat secara khusus menarik perhatian pegawai perusahaan itu, yang dengan segera menyerahkannya kepada presiden direktur perusahaan itu. Surat itu ditulis oleh seorang anak muda yang jelas berasal dari keluarga yang berantakan dan tinggal di suatu kawasan kumuh. Dengan banyak koreksi ejaan, sebuah petikan dari suratnya berbunyi demikian, “Seorang wanita cantik tinggal di seberang jalan rumah saya. Saya mengunjunginya setiap hari. Ia membuat saya merasa bagaikan seorang anak yang paling berharga di dunia ini. Kami bermain halma berdua dan ia mendengarkan masalah saya. Ia memahami saya dan setiap kali saya meninggalkan rumahnya ia selalu berteriak sampai terdengar ke luar pintu bahwa ia bangga terhadap saya.”

Anak itu mengakhiri suratnya dengan berkata, “Foto ini akan menunjukkan kepada Anda bahwa ia adalah wanita tercantik. Semoga saya mempunyai istri secantik dia.”

Karena penasaran, sang presiden direktur ingin melihat foto wanita itu. Sang sekretaris mengulurkan foto seorang wanita yang semua giginya sudah ompong. Ia sedang tersenyum. Usianya cukup tua, dan ia sedang duduk di kursi roda. Rambut abu-abunya yang sudah jarang ditarik ke belakang, membentuk semacam sanggul. Alur-alur keriput di wajahnya entah bagaimana tersamarkan oleh sinar di matanya.

“Kita tak dapat memakai wanita ini,” sang presiden direktur menjelaskan, sambil tersenyum.” Ia justru akan menunjukkan kepada dunia bahwa produk kita tidak diperlukan agar seorang wanita bisa menjadi cantik.”

by: Carla Muir

Puji-pujian Untuk Isteri yang Cakap

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.

Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.

Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.

Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.

Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.

Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:

Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

Apakah Tuhan Itu Ada

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460°F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari, banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

I’m a Big Girl, Dad…!!!

Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat dan gagah. Hatinya lembut dan sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, sampai kadang bunyi kelontangan saat berjalan. Karena itu kadang saya malu dan pengen agar tubuh saya menciut dan menghilang saja kala motor ayah saya masuk halaman sekolah.

Jarak rumah ke­sekolah sekitar satu jam. Dia sering memakaikan jaket tebal agar saya tidak kedinginan diterpa angin pagi. Dan setibanya di depan pagar sekolah dia selalu menurunkan saya dan menciumi pipi saya berkali-kali. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai risih kala ayah mencium pipi saya. Apalagi di depan teman-teman. Saya kan udah umur 12 tahun? Masak diciumin terus seperti anak balita aja? Sebel banget deh. Maka saya putuskan bahwa saya bukan anak kecil dan tidak butuh kecupan di pipi lagi.

Suatu hari, seperti biasa, ayah saya mengantar sampai di depan gerbang sekolah, menurunkan saya, tersenyum lebar dengan senyum khasnya dan memiringkan badannya hendak mencium pipi saya. Tapi saya segera mengangkat tangan dan berkata, “Jangan ayah, aku malu!” itu pertama kalinya saya berkata begitu dan wajah ayah tampak begitu keheranan. Dengan sebal saya berkata, “Yah, aku kan sudah besar dan sudah terlalu tua untuk dicium-cium kayak anak balita.”

Ayah memandang saya beberapa saat, rasanya begitu lama ia memandang dan matanya mulai sedikit berkaca-kaca dan basah. Namun aku lihat dia berusaha menahan diri. “Ok deh, kamu sudah gadis remaja sekarang. Ayah tak perlu menciummu lagi.” dia berbalik menuju motor bututnya dan melambaikan tangannya pamit pergi. Tak lama sesudah itu, ia ditugaskan ke Aceh dan ia hilang dan tak pernah kembali lagi. 26 Desember 2004 badai Tsunami meluluhlantahkan Meulaboh-Aceh dan menghancurkan pos tambang tempat dimana ayah saya ditugaskan.

Anda semua takkan bisa bayangkan apa yang akan saya korbankan sekedar untuk mendapatkan lagi ciuman sayang darinya. Untuk merasakan wajah tua dan kumisnya yang kasar. Mencium bau tubuhnya yang khas. Dan untuk merasakan lengannya yang kuat merangkul pundakku, mengacak-acak rambutku atau menggendong badanku.

Seandainya bisa, aku ingin ucapkan padanya, “Ayah, aku sudah dewasa, tapi aku tak pernah terlalu tua untuk mendapat ciuman darimu. I’m a big girl dad, but I never too old for your kiss.”

Sumber: http://renungan-harian-kita.blogspot.com

Tuhan Tahu

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia, Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih, Tuhan sudah menghitung air matamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu, dan waktu serasa berlalu dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon, Tuhan selalu berada di sampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi, Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan, Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan, Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur, Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban, Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi, Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa di manapun kau atau kemanapun kau menghadap TUHAN TAHU.

Istana Pasir

Terik matahari. Udara pantai. Gelombang laut yang berirama. Seorang anak kecil sedang berlutut di tepi pantai. Dengan sekop plastik ia mengisi embernya yang berwarna merah cerah dengan pasir. Kemudian ia membalikkan ember itu di pantai dan mengangkatnya. Dan, oleh keceriaan sang arsitek cilik, sebuah menara pun tercipta.

Ia bekerja sepanjang sore. Menggali parit di sekelilingnya. Membentuk dinding-dindingnya. Tutup-tutup botol menjadi prajurit-prajuritnya. Stik-stik es krim menjadi jembatannya. Sebuah istana pasir pun berdiri.

Kota besar. Jalanan yang sibuk. Lalu-lintas yang ramai.

Seorang pria sedang berada di kantornya. Di mejanya ia menumpuk kertas-kertas serta mendelegasikan tugas. Ia mengepit gagang telepon dengan bahunya sambil mengetik. Angka-angka ditekan dan kontrak ditandatangani. Dan, oleh keceriaan sang pria, keuntungan diperoleh.

Ia bekerja seumur hidupnya. Menyusun rencana. Meramalkan masa depan. Profit menjadi prajurit-prajuritnya. Investasi menjadi jembatannya. Sebuah kekaisaran pun berdiri.

Dua orang membangun dua istana. Mereka memiliki banyak persamaan. Mereka membentuk butiran-butiran kecil menjadi bola-bola besar. Mereka menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Mereka rajin dan berpendirian teguh. Dan bagi mereka berdua, bila gelombang pasang bangkit, maka tibalah kesudahannya.

Hanya satu hal yang membedakan. Sang anak memang menantikan kesudahan itu tiba, sementara sang pria menolak untuk menghadapinya. Perhatikanlah sang anak saat senja mulai tiba.

Sementara gelombang pasang datang, sang anak yang bijaksana berdiri dan mulai bertepuk tangan. Tiada duka. Tiada ketakutan. Tiada penyesalan. Ia tahu hal ini akan terjadi. Ia tidak terkejut. Dan ketika penghancur besar itu memorak-porandakan istananya hingga karya besarnya tenggelam ke dalam laut, ia tersenyum. Ia membereskan peralatannya, mengandeng tangan ayahnya, dan pulang ke rumah.

Namun, sang pria dewasa tidak sedemikian bijaksana. Ketika gelombang waktu menimpa istananya, ia ketakutan. Ia berusaha keras melindungi monumen pasir itu. Ia menghadang gelombang yang datang agar tidak melanda dinding-dinding yang telah dibuatnya. Air laut merembes, dan sambil gemetar ia memaki gelombang pasang yang datang.

Ini istana saya,” ia ngotot.

Lautan tidak perlu menjawab. Kita semua tahu kepunyaan siapa pasir itu …

Saya tidak tahu banyak tentang istana pasir. Namun, anak-anak tahu. Belajarlah dari mereka. Maju dan bangunlah istana, dengan hati seorang anak. Ketika matahari terbenam dan gelombang pasang mengambilnya, bertepuk-tanganlah. Berilah salam kepada proses kehidupan, raihlah tangan Bapamu, dan pulanglah ke rumah.

by: Max Lucado

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.