Perumpamaan Tentang Perspektif Allah

Bert memandang dari surga dan melihat berbagai kejahatan yang terjadi di dunia. Dengan sangat putus asa, ia menunjukan sebuah peristiwa yang sangat jahat dan menanyakannya kepada Allah.“Bagaimana Engkau dapat membiarkan hal itu? Lihatlah kejahatan yang terjadi di bawah sana!”

“Tidak ada yang lebih lihai daripada si Iblis dalam menciptakan tragedi semacam itu!” kata Allah.

“Tapi, Allah, pria itu adalah salah seorang umat-Mu … oh, pria yang malang!”

“Aku memberi mereka kebebasan untuk memilih yang baik dan yang jahat,” kata Allah, wajah-Nya sedih. “Apa pun yang mereka pilih, mereka semua hidup bersama-sama. Kadang kala umat-Ku harus ikut merasakan akibat dari perbuatan mereka yang tidak memilih jalan-Ku.” Dia menggelengkan kepala perlahan. “Selalu menyakitkan melihat hal itu terjadi.”

“Namun orang-orang di bawah sana tidak memiliki pilihan,” protes Bert. “Mereka dipaksa menelan kejahatan yang dijejalkan ke tenggorokan mereka! Itu bukan pilihan!”

“Begini, Bert,” kata Allah dengan sabar, “pernahkah Aku membiarkan penderitaan tanpa menghukum mereka yang menyebabkannya?”

“Tidak … tidak, tapi …” Bert membalikkan badan, tak mampu lagi melihat semuanya itu.

“Perhatikan!” Allah merangkul pundak Bert dan membalikkan badannya. “Perhatikan ke sana, di dekat dinding itu.”

“Orang itu? Ia kelihatan hampir mati. Apakah ia sedang berdoa?”

“Ah, Bert, kau harus mendengar doanya!” Kasih yang dalam memancar dari mata Allah bagaikan kilat.“Doa yang sederhana dari hati yang terluka. Inilah kemenangan atas kejahatan. Memercayai Aku itulah pilihan.” Allah tersenyum sambil meneteskan air mata penuh kasih.“Bukankah orang itu mengagumkan?”

Bersama-sama mereka berdiri dalam keheningan, dan Bert mulai dapat melihat sebagaimana Allah melihat.

“Sekarang perhatikan ini, Bert.” Allah berbicara dengan lembut, tanpa mengalihkan pandangan-Nya. Ia memanggil Mikael dan pemimpin malaikat itu pun muncul.

“Turun dan angkatlah dia, Mikael.” Air mata sukacita pun mengalir. “Aku akan mengadakan pesta besar baginya.”

by: Robin Jones

Seteko Teh Yang Sempurna

Hampir dua ratus orang pemburu barang murah berdesak-desakan di ruang tengah rumah tua Withers. Kerumunan orang itu tampak tidak sabar. Suhu ruangan yang mencapai 32 derajat itu tidak menggentarkan seorang pun, karena semuanya mengejar barang-barang peninggalan keluarga Withers yang diobral musim panas itu.

Wanita yang memimpin acara obral, seorang kenalan lama, mengangguk saat kami melihat para pemburu yang sudah berebutan sejak pagi itu. “Luar biasa suara hiruk-pikuk ini!” katanya sambil tersenyum kecil.

Saya tersenyum sambil mengangguk. “Seharusnya saya tidak di sini. Saya harus di bandara dalam waktu kurang dari satu jam,” kata saya. “Tapi, saat saya masih remaja, saya pernah menjual kosmetik di lingkungan ini. Dan, Hillary Withers adalah pelanggan favorit saya.”

“Kalau begitu bergegaslah dan naiklah ke loteng,” sarannya. “Di sana banyak kosmetik kuno peninggalannya.”

Dengan cepat, saya menyeruak di antara kerumunan orang banyak dan menaiki tangga ke lantai tiga. Loteng itu kosong kecuali ada seorang wanita tua mungil di hadapan beberapa meja yang penuh dengan tas-tas berwarna kuning dalam berbagai ukuran.

“Mengapa Anda tertarik ke sini?” tanyanya sambil membuka tutup botol pewangi. “Di sini tidak ada apa-apa selain produk Avon, Tupperware, dan Fuller Brush tua.”

Saya terhenyak sesaat, dan bernapas perlahan-lahan. Tidak salah lagi, keharuman parfum “Here’s My Heart” kembali membawa saya ke masa hampir 20 tahun yang lalu.

“Ah, ini tulisan tangan saya!” seru saya saat memandang nota yang terpampang di atas sebuah tas. Tas yang tak disentuh seorang pun itu bagi saya lebih bernilai dari harga krim dan parfum yang dijual di situ. Tas itu adalah barang yang pertama kali saya jual kepada Bu Withers.

Pada bulan Juni kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya sudah menyusuri jalanan selama empat jam, namun tak seorang wanita pun menerima saya. Saat saya memencet bel di rumah yang terakhir, saya sudah siap ditolak secara halus.

“Halo, Bu, saya agen produk Avon yang baru,” kata saya terbata-bata saat pintu ukir dari kayu ek itu terbuka. “Saya punya beberapa barang bagus yang ingin saya tunjukkan pada Anda.” Ketika akhirnya saya berani menatap wanita yang berdiri di pintu itu, saya sadar bahwa ia adalah Bu Withers, penyanyi sopran yang keibuan di paduan suara gereja kami. Saya mengagumi baju dan topinya yang manis, berkhayal suatu hari nanti saya juga dapat memakai pakaian seperti itu. Dua bulan sebelumnya, saat saya harus pergi ke kota yang jauh untuk menjalani operasi otak, Bu Withers mengirimi saya banyak kartu yang sangat indah.

“Ada apa Roberta sayang, mari masuk,” suara Bu Withers seperti suara orang menyanyi. “Saya sedang butuh banyak barang. Saya sangat senang jika kamu mau masuk.”

Saya memaksakan diri duduk di sofa putih dan membuka tas wol saya yang penuh contoh kosmetik seharga 5 dolaran. Saat menyerahkan brosur kepada Bu Withers, seketika saya merasa sebagai gadis terpenting di dunia.

“Bu Withers, kami punya dua jenis krim, satu buat kulit kemerahan yang sehat dan satu lagi buat kulit pucat,” saya menjelaskan dengan raut wajah yang penuh keyakinan. “Krim ini sangat baik untuk menghilangkan kerut-kerut wajah.”

“Bagus, bagus,” ujarnya.

“Yang mana yang ingin ibu coba?” tanya saya, sambil membetulkan letak rambut palsu yang menutupi bekas luka operasi saya.

“Oh, saya rasa saya butuh keduanya,” jawabnya. “Dan, minyak wangi apa yang kau bawa?”

“Ini, cobalah yang ini, Bu Withers. Sebaiknya Anda mengoleskannya di atas pembuluh nadi sehingga dapat menimbulkan efek terbaik,” saran saya, sambil menunjuk pergelangan tangannya yang terbalut gelang berlian dan emas.

“Luar biasa, Roberta, kamu benar-benar menguasainya. Kamu pasti sudah belajar berhari-hari. Kamu sungguh pintar!”

“Benarkah, Bu Withers?”

“Benar. Dan, untuk apa uangmu nanti?”

“Saya akan menabungnya untuk sekolah perawat,” jawab saya, yang terkejut dengan kata-kata saya sendiri. “Namun, sekarang saya baru berpikir untuk membeli baju hangat buat hadiah ulang tahun ibu saya. Ia selalu menemani saya selama menjalani pengobatan, dan selama perjalanan dengan kereta, pasti akan lebih nyaman bila ia dapat memakai baju hangat.”

“Luar biasa Roberta, kau benar-benar penuh perhatian. Sekarang, apakah kau membawa barang-barang yang cocok untuk dijadikan hadiah?” tanyanya sambil menyebutkan dua barang yang dikehendakinya.

Belanjaannya yang luar biasa itu bernilai $117,42. Apakah ia sungguh-sungguh bermaksud belanja sebanyak itu? Saya bertanya-tanya dalam hati. Namun, ia tersenyum dan berkata, “Saya tunggu pesanan saya, Roberta. Selasa depan, bukan?”

Ketika saya hendak pulang Bu Withers berkata, “Kamu  tampaknya sangat lapar. Maukah kamu minum teh sebelum pergi? Di rumah ini, kami menganggap teh sebagai ‘minuman penambah semangat’.”

Saya mengangguk, kemudian mengikuti Bu Withers ke dapurnya yang masih dalam bentuk asli seperti ketika pertama di bangun, dan berisi barang-barang yang belum pernah saya lihat. Saya tertegun, dan terpesona, saat ia menyiapkan pesta teh seperti yang biasa saya lihat di film hanya untuk saya. Dengan hati-hati ia menuang air dingin ke dalam ceret, memasaknya hingga mendidih, memasukkan daun-daun teh, dan membiarkannya selama lima menit. “Kalau sudah begini, aromanya akan menyebar,” jelasnya.

Kemudian ia menyusun sebuah nampan perak dengan seperangkat alat minum porselen dari Cina, kain yang lembut, roti stroberi yang menggoda, dan berbagai hiasan kecil yang indah. Di rumah, kami biasa minum es teh di gelas, namun belum pernah saya merasa bagaikan putri diundang ke acara pesta teh di sore hari.

“Maafkan saya, Bu Withers, apakah tidak ada cara yang lebih cepat untuk menyiapkan teh?” tanya saya. “Di rumah, kami biasa menggunakan teh celup.”

Bu Withers menepuk bahu saya. “Ada banyak hal dalam hidup yang tidak perlu tergesa-gesa kita hadapi,” katanya menyakinkan saya. “Saya telah belajar bahwa menyiapkan seteko teh yang baik bagaikan menjalani hidup sebagaimana mestinya. Memang diperlukan usaha yang lebih, namun kita akan mendapat hasil yang sepadan.”

“Ambil contoh, misalnya kamu sendiri, dengan berbagai masalah kesehatanmu. Namun, kamu tetap bergumul dengan teguh hati dan penuh semangat, seperti seteko teh yang sempurna. Banyak orang yang menderita penyakit seperti kamu sudah menyerah, tapi kamu tidak. Kamu pasti dapat meraih segala sesuatu yang kamu dambakan, Roberta.”

Tiba-tiba, kenangan masa lalu saya pudar saat wanita di loteng yang panas dan lembab itu bertanya,“Kamu kenal Hillary Withers juga?”

Saya menghapus keringat di kening. “Ya … saya pernah menjual beberapa kosmetik ini kepadanya. Tapi, saya tidak mengerti mengapa ia tidak pernah memakainya atau sebaliknya membuangnya.”

“Ia sudah banyak membuangnya,” wanita itu mengungkapkan hal yang sesungguhnya. “Namun, memang beberapa di antaranya terlewatkan dan teronggok di sini.”

“Namun, untuk apa ia membeli tetapi tidak memakainya?” tanya saya.

“Oh, ia hanya dapat memakai merek kosmetik khusus.” Wanita itu berbicara dengan berbisik. “Hanya, Hillary punya perhatian khusus terhadap orang-orang yang berjualan dari rumah ke rumah. Ia tidak pernah mengusir mereka. Ia sering berkata kepada saya, “Saya bisa saja langsung memberi mereka uang, tapi uang saja tidak akan membuat mereka merasa dihargai. Jadi, saya memberi mereka sedikit uang saya, menyediakan telinga yang rela mendengar, serta membagi kasih dan doa saya. Kau takkan pernah tahu betapa besarnya pengaruh sedikit dorongan semangat bagi seseorang.”

Saya terdiam, mengingat bagaimana penjualan kosmetik saya meningkat setelah kunjungan pertama kepada Bu Withers. Saya membelikan Ibu baju hangat baru dari komisi penjualan saya, dan masih punya cukup uang untuk biaya sekolah perawat. Saya bahkan dapat memenangkan hadiah dari penjualan kosmetik terbanyak di tingkat daerah hingga nasional. Bahkan akhirnya, saya masuk pendidikan dengan pendapatan saya sendiri dan mewujudkan impian saya menjadi perawat. Kemudian, saya juga berhasil meraih gelar master dan Ph.D.

“Bu Withers benar-benar peduli dengan orang-orang ini?” tanya saya, sambil menunjuk lusinan tas antaran barang di atas meja.

“Oh, ya,” wanita tadi meyakinkan saya. “Dan ia melakukannya tanpa pamrih sedikit pun.”

Saya membayar belanjaan saya di kasir, sekantong kosmetik yang pernah saya jual ke Bu Withers, dan anting-anting emas kecil berbentuk hati. Saya memasang anting itu di kalung emas yang saya pakai di leher saya. Kemudian, saya bergegas ke bandara; karena sore itu saya harus mengikuti Konvensi Kesehatan di New York.

Ketika saya sampai di aula hotel yang megah, dan berjalan menuju podium pembicara, saya memandang sekilas ke arah lautan wajah para ahli kesehatan dari seluruh penjuru negeri. Tiba-tiba saya merasa gugup seperti dulu lagi, ketika menjual kosmetik dalam lingkungan yang tidak saya kenal dan asing bagi saya.

Dapatkah saya melakukannya? Tanya saya dalam hati.

Jari-jemari saya yang gemetar menyentuh bagian atas anting itu. Saya membukanya, dan tampak foto Bu Withers di dalamnya. Saya pun kembali mendengar kata-katanya yang lembut tapi tegas, “Kamu pasti dapat meraih apa yang kamu dambakan, Roberta.”

“Selamat sore,” saya mulai berbicara perlahan-lahan. “Terima kasih telah mengundang saya untuk berbicara tentang perawatan kesehatan. Sering dikatakan bahwa tugas perawat adalah membuat kasih itu tampak nyata. Tetapi, pagi ini saya belajar suatu hikmah yang tidak saya duga tentang kekuatan kasih yang dilakukan secara tersembunyi. Kasih yang diungkapkan, bukan untuk pamer, tetapi demi kebaikan hidup orang lain. Kerap kali tindakan kita yang berdasarkan kasih tidak diperhatikan orang. Namun, suatu saat hasilnya akan muncul karena aromanya akan menyebar.”

Kemudian, saya bercerita kepada rekan-rekan saya tentang Hillary Withers. Jauh dari yang saya bayangkan, bergegap-gempitalah suara tepuk tangan menyambut kisah itu. Menurut saya, semua itu berawal dari seteko teh yang sempurna!

by: Roberta Messner

Kebesaran Jiwa Seorang Ibu

Sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita dan bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita.

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronik. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yang cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewek-cewek yang mengenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan. Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewek-cewek jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satu-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega bisnis yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, menyuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Di foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang Ibu pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”. Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa ibunya belanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek.

Peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan) yang membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik.

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Kasih

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Samar-Samar

Laurel, teman saya, menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Selama berminggu-minggu kami terus membicarakan surga, seperti apakah kelihatannya dan bagaimana rasanya tinggal di sana. Pembicaraan kami selalu berakhir dengan tangisan sementara kami saling memeluk dengan erat dan penuh pengharapan.

Bagian yang tersulit adalah saat kami berusaha membayangkan sesuatu yang belum pernah kami lihat, sesuatu yang hanya sedikit kami ketahui.

Lalu saya teringat akan cerita ini …

Seorang gadis muda yang berambut pirang dan bermata biru mengalamai kebutaan sejak lahir. Saat berusia 12 tahun, para dokter mampu melakukan sejenis operasi baru yang, jika berhasil, akan dapat membuatnya melihat. Hasilnya baru diketahui setelah beberapa hari. Setelah perban dibuka, kedua matanya harus dilindungi dari cahaya. Maka ia pun duduk menanti dalam kegelapan.

Selama berjam-jam sang ibu mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan putrinya mengenai apa yang dapat dilihatnya nanti. Mereka berdua begitu antusias hingga keduanya tidak cukup tidur. Tanpa henti, bahkan dalam kegelapan, mereka membicarakan setiap hal indah yang dapat mereka bayangkan, segala warna, bentuk, dan keindahan.

Akhirnya saatnya tiba. Mata gadis muda itu telah cukup kuat untuk dapat melihat ke luar jendela. Ia berdiri di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di luar jendela, hari di musim semi tampak begitu sempurna, berkilauan dan hangat disertai awan putih bak kapas yang menghiasi langit biru. Bunga-bunga yang mekar berjatuhan ke tanah bagaikan salju merah muda saat angin lembut menggoyang pohon-pohon ceri. Pohon-pohon crocus kuning tumbuh dengan bangga di sepanjang jalan setapak yang berliku-liku menembus rerumputan.

Gadis itu menoleh kepada ibunya, sementara air mata mengalir di pipinya. “Oh, Ibu. Mengapa tidak kau katakan bahwa semuanya akan begini indah?”

Saya membagikan cerita ini kepada Laurel, dengan air mata yang menggenang, “Laurel, saat ini kita duduk dalam kegelapan, namun tak lama kemudian engkau akan menanyakan kepada Allah pertanyaan yang sama dengan anak gadis itu.”

by: Alice Gray

Iman adalah seperti burung yang merasakan datangnya terang dan bernyanyi walaupun fajar belum menyingsing.

Karangan Bunga

Seseorang pernah bertanya kepada Corrie ten Boom bagaimana caranya ia bisa menghadapi segala pujian dan penghargaan yang bertubi-tubi tanpa menjadi congkak. Ia berkata bahwa ia menganggap setiap pujian sebagai bunga cantik bertangkai panjang. Ia mencium baunya sesaat, lalu meletakkannya di jambangan bersama bunga-bunga lain. Setiap malam sesaat sebelum beristirahat, ia mengambil karangan bunga cantik itu dan menyerahkannya kepada Allah sambil berkata, “Terima kasih, Tuhan, karena engkau telah mengizinkan aku mencium harum bunga-bunga ini; semuanya milik-Mu.”

Ia telah menemukan rahasia kerendahan hati yang sejati.

by: David Seamands

Tulisan di Atas Pasir

Dua orang anak sedang bermain-main di tepi pantai. Tiba-tiba, mereka bertengkar dan salah seorang anak memukul temannya hingga wajahnya menjadi biru legam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, tanpa banyak bicara menulis di atas pasir: HARI INI TEMANKU TELAH MEMUKUL AKU.

Setelah itu, mereka kembali bermain dan berlari-lari. Ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lubang perangkap yang dipakai untuk menangkap binatang. “Tolong … tolong!” ia berteriak minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lubang dan berkata,“Tunggu sebentar, aku akan mencari tali untuk menolongmu.”

Anak itu segera berlari mencari tali dan mengikatkannya pada sebatang pohon besar. Lalu, tali itu diberikan kepada temannya yang berada di dalam lubang. “Peganglah tali ini, aku akan menarikmu keluar dari lubang.” Anak yang ada di dalam lubang memegang tali yang terulur kepadanya sementara temannya sekuat tenaga mengeluarkan dirinya dari lubang.

Ketika keluar dari lubang, anak yang dipukul itu berkata, “Terima kasih kamu telah menyelamatkan aku.” Kemudian, ia segera mencari batu besar dan menulis di atas batu itu: HARI INI TEMANKU TELAH MENYELAMATKAN AKU.

Selesai menulis temannya bertanya, “Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?” Anak yang dipukul itu menjawab,“Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena perbuatan buruk harus dihapuskan seperti tulisan di atas pasir yang hilang tertiup angin. Tapi ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu karena perbuatan baik harus dikenang.”

Demikian juga perbuatan yang buruk harus diampuni dan dihilangkan sedangkan perbuatan yang baik harus dikenang dan dikembangkan.

Penerapan:
Tuhan Yesus mengajarkan kita agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan. Ia juga mengajarkan kepada kita untuk mengampuni kesalahan orang lain dan tidak mengingat-ingatnya seperti Tuhan mengampuni kita dan tidak mengingat kesalahan kita.

Ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.

Diciptakan Untuk Berkarya

Sebuah keluarga yang kaya raya memiliki sebidang tanah yang sangat luas dan mempekerjakan banyak buruh dan pegawai. Suatu ketika, sang ayah sebagai kepala rumah tangga jatuh sakit dan meninggal dunia. Ia mewariskan tanah miliknya kepada anak laki-laki tunggalnya.

Suatu hari, anak laki-laki ini pergi berjalan-jalan mengelilingi tanah milik ayahnya yang telah diwariskan kepadanya. Ketika ia berjalan, ia melihat seorang bapak yang sedang sakit di dalam gubuk reotnya. Anak laki-laki ini mendekat dan berdoa dalam hatinya, “Tuhan, mengapa Engkau memberikan sakit yang begitu parah pada bapak ini. Kasihan sekali dia. Tolonglah dia Tuhan!”

Lalu, ia melanjutkan perjalanannya dan bertemu dengan seorang nenek yang sedang membawa beban yang sangat berat. Anak laki-laki itu memandang si nenek dan berdoa dalam hati, “Engkau kejam Tuhan, mengapa Kaubiarkan nenek ini bekerja begitu berat? Mengapa tidak menolongnya?”

Selanjutnya, ia bertemu dengan seorang anak perempuan kecil yang sedang mengais-ais tong sampah mencari makanan. Anak laki-laki itu kembali bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau membuat gadis kecil itu kelaparan sehingga mengais-ais tong sampah untuk mencari makan?”

Akhirnya anak laki-laki itu pulang ke rumah dan ketika hendak tidur dalam doanya ia seolah-olah mendengar Tuhan berkata, “Aku telah melakukan sesuatu untuk menolong mereka. Aku telah menciptakan kamu. Apa yang telah kamu lakukan?”

Penerapan:
Allah telah menciptakan menusia serupa dengan gambar-Nya. Kita diciptakan agar dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk berkarya di dunia dengan peduli dan menolong sesama yang menderita.