Kenapa Emas & Perak Dihargai Lebih Mahal dari logam lain?

Hey, guys… Ketemu lagi nih sama gue, si ganteng Ivan! :P

Kalo sebelumnya, kita udah pernah cerita tentang Matematika yang dikawinin sama Biologi, sekarang gue akan ceritain satu hal yang umum di kehidupan sehari-hari, tapi bisa dipandang dari segi Kimia, Ekonomi, sampe Sejarah. Wah apaan tuh? Penasaran kan?

Btw sebelum masuk ke topik bahasan, gue mau tanya dulu nih, diantara lo (terutama yang cewek) ada yang hobi koleksi aksesoris gak? Atau mungkin ada yang dari kecil udah “diwarisin” perhiasan (kalung atau gelang gitu deh) oleh ortunya yang biasanya berupa logam mulia seperti emas atau perak. Yup, emas dan perak itu dikategorikan sebagai logam-logam mulia yang dianggap sebagai barang berharga, bahkan gak jarang yang menjadikan itu sebagai bentuk investasi yang bisa dijual dengan harga lebih mahal di masa depan. Nah sekarang, lo pernah kepikiran gak sih kalo emas/perak itu kan cuma sepotong material senyawa kimia padat ya, sama seperti besi, aluminium, tembaga, timbal, seng, dll, tapi kok bisa sih emas/perak dihargai lebih mahal daripada materi yang lain?

Emang apa istimewanya sih emas/perak? kok harganya bisa sampai mahal sedangkan bentuk senyawa padat lain harganya lebih murah? Padahal emas gak bisa dimakan juga, gak efisien dipake sebagai bahan bangunan, kurang begitu esensial buat kehidupan sehari-hari, masa cuma gara-gara buat hiasan doang karena warnanya bagus dan mengkilat. Terus kok tiba-tiba bisa sih semua orang di seluruh dunia kompak bikin harga logam atau mineral tertentu bisa lebih mahal daripada yang lain?

Eit… tapi sebelum gua jawab pertanyaan itu, mau gak mau kita harus mulai dulu dari pertanyaan dari nilai keberhargaan barang itu dilihat dari apa, yang dalam hal ini indikatornya adalah uang. Dari uang sebagai nilai tukar, kita juga harus paham konsep ekonomi dan sejarahnya. Okay, di Zenius Blog kali ini gue akan bahas hal-hal di atas sekaligus share cerita tentang peran emas dan perak sebagai salah satu bentuk nilai tukar (mata uang) yang pertama di dunia. Okay, langsung aja yuk kita mulai ceritanya.

Sejarah Uang Emas/Perak dan Inflasi

Pernah gak sih lo kepikiran dari sebuah ungkapan “in the end, money is only a paper“. Secara materialis, uang yang kita kenal sekarang itu emang sebetulnya cuma sekedar kertas yang ada gambarnya terus dikasih nilai bahwa kalo yang gambarnya anu nilainya sekian, gambarnya lain nilainya lain lagi. Tapi kertas-kertas ini bisa jadi mewakili bentuk transaksi nilai, barang, dan jasa. Bayangin aja, lo ngasih kertas bergambar dapet satu mangkok bakso yang enak. Lo ngasih kertas bergambar tertentu dapet gadget keren, tapi kalo lo gambar sendiri kertasnya, paling lo ditabok atau masuk penjara karena dianggap bikin uang palsu, hehe…

Berarti dalam konteks ini kita mengenal beberapa fungsi uang yang kita pegang sehari-hari, yaitu sebagai alat tukar, alat pengukur nilai, dan alat simpan nilai. Sampai abad ke-18, sebagian besar uang yang beredar di dunia berbentuk komoditas, berupa koin emas dan perak. Waktu itu, belum ada tuh mesin cetak kertas yang bisa mencetak kertas dengan gambar tertentu dengan seragam dan tersebar luas secara geografis. Ya mau gak mau harus pake mesin cetak yah, masa uang mau digambar satu per satu? Berarti nanti semua orang bakal bikin uangnya sendiri-sendiri dong. Maka dari itu, emas dan perak-lah yang memiliki peran penyimpan nilai. Sehingga setiap pertukaran transaksi barang dan jasa, diukur dengan sejumlah emas atau perak.

Tetapi bukan berarti nilai setiap barang penyimpan nilai itu stabil lho, pasti lo pernah denger kan kalo “harga emas lagi naik/turun nih”. Nah, lo tau gak itu kenapa alasannya dibalik hal itu? Dalam barang pembentuk uang (dalam hal ini emas/perak), berlaku hukum pasar yang disebut juga hukum penawaran dan permintaan. Buat yang udah lupa hukum penawaran dan permintaan, bisa coba ditengok dulu video penjelasannya di zenius.net biar inget lagi.

Nah, hukum permintaan dan penawaran ini pun berlaku untuk barang pembentuk uang, alias emas dan perak. Setiap kali ada emas atau perak yang masuk ke suatu ekonomi (misalnya melalui penemuan tambang emas atau perak baru) nilai emas atau perak tersebut akan berkurang. Kenapa? Karena muncul supply baru yang beredar di pasar, tapi pertumbuhan produksi jumlah barang dan jasa kurang dan cenderung stabil segitu-segitu aja. Keadaan ini menyebabkan nilai uang menurun, dan berdampak terjadinya inflasi.

Ada dua contoh terkenal dalam sejarah mengenai inflasi, gini nih cerita sejarahnya…

Cerita 1: Musa I – Mansa Mali

Contoh yang pertama adalah cerita Musa I, “Mansa” (gelar raja) Mali. Doi menguasai kekaisaran Mali di Afrika Barat dari tahun 1312-1337. Mali memiliki tiga tambang emas yang besar. Hukum Mali waktu itu melarang perdagangan dengan emas. Semua emas adalah milik Mansa dan dapat ditukar dengan uang komoditas lain yang digunakan di Mali, yaitu garam dan tembaga. Karena hukum ini, para Mansa yang memerintah punya emas yang banyak banget. Kejadian ini adalah satu-satunya dalam sejarah di mana nilai emas di wilayah Laut Tengah dikendalikan hanya oleh satu orang.

Nah, sebagai seorang Muslim yang taat, Mansa Musa pergi naik haji pada tahun 1324. Total rombongannya mencapai 70,000 orang, membawa banyak harta termasuk hampir 20 ton emas. Sepanjang jalan, Musa menyumbang emas kepada orang miskin di kota-kota besar yang dia lewati, termasuk Kairo, Mekkah, dan Madinah. Selain itu, dia juga membeli banyak suvenir dengan harga yang lebih tinggi dari seharusnya (mungkin agak ditipu pedagang setempat hehehe). Bahkan, konon dia membayar orang untuk membangun masjid baru di tempat manapun yang dia lewati setiap hari Jumat! Karena begitu banyaknya emas Afrika yang mengalir ke pasar kota-kota tersebut, semua orang jadi punya banyak emas.

Mansa-Musa-Mali

Karena semua orang tiba-tiba “kaya” dan berlimpah emas, jadinya nilai emas gak begitu berharga (soalnya semua orang jadi punya emas). Hal ini mengakibatkan nilai tukar emas menurun drastis dan bahkan tidak kembali ke tingkat yang sama sampai seenggaknya satu dekade. Akibatnya, harga barang-barang melangit, daya beli masyarakat menurun, dan sektor ekonomi rill jadi terhambat. Kacaulah kondisi ekonomi di jazirah Timur Tengah dan sebagian Afrika pada masa itu.

Nah, jadi sekarang lo paham yah, bahwa hukum ekonomi itu terjadi dalam ruang lingkup masyarakat di zaman kapanpun selama manusia punya kebutuhan dan saling berinteraksi untuk memenuhi itu. Coba sekarang lo bayangin kalo misalnya tiba-tiba semua orang di Indonesia punya uang yang banyak, itu bukan berarti semua orang langsung jadi sejahtera yah. Malah sebaliknya, kalo semua orang dibagi-bagiin uang dalam jumlah banyak, sementara sektor produksi riil tetap, bisa-bisa kacau balau perekonomian negara kita.

Cerita 2: Spain Colonial Exploitation

Contoh yang kedua adalah eksploitasi emas dan perak Amerika Latin yang mengubah ekonomi dunia. Di tengah abad ke-16, penakluk Spanyol “mengambil” (baca: merampok) emas dalam jumlah masif dari bangsa Inca dan juga menemukan tambang perak yang menggunung di Potosi, Peru. Walaupun nilai perak sekarang jauh lebih rendah dari emas, pada zaman itu perak masih banyak dicari terutama di Timur Tengah dan Timur Jauh (China), dan harganya bisa dua kali lipat harga perak di Eropa. Karena itu, tambang perak itu dieksploitasi secara massal selama satu abad berikutnya. Akibatnya, koin perak Spanyol jadi mata uang internasional dan banyak beredar di Eropa.

Naah… gara-gara eksploitasi besar-besaran itu, Eropa kebanjiran perak dari Amerika latin dan mengalami inflasi yang cukup tinggi karena uang tiba-tiba jadi berlimpah sementara produktivitasnya kurang-lebih ya segitu-segitu aja. Sementara itu, di China, perak (uang) yang mengalir ke sana nggak datang begitu cepatnya (ya kali China kan jauh bro!) sehingga ekonomi mereka tumbuh dengan lebih stabil.

Jack-PesoKalo lo penasaran, nama koin Spanyol ini real de a ocho atau disebut juga peso de ocho, asal usul kata nama mata uang peso. Dalam bahasa Inggris, peso de ocho artinya “piece of eight” karena nilai satu koin tersebut adalah 8 real (mata uang Spanyol sebenarnya). Oiya, lo mungkin pernah lihat koin Spanyol yang jadi mata uang internasional itu, menggantung di bandana-nya kapten Jack Sparrow. Koin itu adalah “piece of eight” kesembilan di cerita Pirates of the Caribbean.

PS. peristiwa ini juga yang mendasari era awal bajak laut. Itu karena hasil eksploitasi tambang dari Amerika Selatan (dan barang dagangan) harus didistribusi ke daratan Eropa melalui perairan Atlantik (yang salah satunya adalah perairan Karibia).

Lha, terus kenapa Emas dan Perak Dibuat dan Dipakai Jadi Uang dari Zaman Dulu?

Okay sekarang lo udah paham tentang fungsi nilai mata uang dan sedikit penjelasan tentang pengaruhnya dalam ekonomi. Nah sekarang kita balik haluan dari ekonomi dan sejarah ke ilmu Kimia. Kita balik lagi ke pertanyaan kenapa logam berharga, harganya relatif lebih tinggi dari unsur-unsur lain di muka bumi ini. Yang paling terkenal adalah tiga logam yang biasanya dibuat menjadi koin sejak zaman dulu, yaitu emas, perak, dan tembaga. Eh kok tembaga, bukannya perunggu ya? Perunggu itu sebenarnya campuran dan bukan logam murni, berbahan dasar tembaga (~90%) ditambah timah (~10%). Campuran perunggu ini sifatnya lebih keras dan tahan banting daripada tembaga murni sehingga selain bisa dibuat menjadi koin yang tahan lama, perunggu juga banyak dipakai untuk benda lain, seperti senjata tajam dan baju pelindung.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa harga logam berharga itu tinggi, gue akan sedikit menyentuh segi Ekonomi dari pertanyaan ini, sebelum gue masuk ke Kimia. Nah pertama-tama, pastinya, sebuah logam akan dianggap berharga jika logam itu langka. Kelangkaan adalah masalah utama dalam ekonomi, dimana kita sebagai manusia punya keinginan yang tak terbatas sementara sumber daya kita terbatas untuk memuaskan keinginan tersebut. Konsep kelangkaan ini sering keliru dimengerti oleh orang-orang. Sebuah benda bisa saja langka, tapi bukan berarti benda itu penting lho. Agar sebuah benda menjadi langka, benda itu harus sulit didapatkan, sulit dibuat, atau keduanya. Karena itu, biaya produksi kita untuk mendapatkan benda itu akan menentukan kelangkaan benda tersebut. Contohnya, udara. Meskipun penting banget untuk kehidupan manusia, kita gak perlu biaya untuk produksi udara. Makanya, udara itu tidak langka, gratis, dan yang jelas tidak berharga sebagai nilai tukar barang/jasa.

Di sisi yang lain, berlian itu nggak bisa dimakan kalau lo laper, tapi untuk mendapatkan berlian orang harus mencari dan memprosesnya, dengan biaya produksi yang tidak kecil. Gak sembarangan orang bisa menciptakan maupun mendapatkan berlian. Makanya, berlian itu langka dan harganya tinggi sebagai nilai tukar barang/jasa. Sementara kalo semua orang bisa dengan mudah menciptakan alat nilai tukar, yang terjadi adalah sama persis dengan dua cerita inflasi yang gua ulas sedikit di atas. Semua orang langsung “kaya”, dan nilai tukar malah merosot dan roda perekonomian gak berputar dengan lancar.

Harga-Logam

Ketiga logam tadi (emas, perak, tembaga) itu cukup langka di dunia klasik. Makanya, ketiga bahan tadi menjadi bahan pembuat koin dalam jangka waktu yang cukup panjang dalam sejarah. Tapi selain langka, ada syarat lain agar bahan-bahan tersebut cocok untuk dijadikan uang. Di sini baru sifat-sifat kimia suatu bahan jadi “persyaratan” yang membuat bahan itu berharga. Pertama, nilai tukar tersebut (dalam hal ini koin) harus bisa bertahan lama agar bisa terus beredar sebagai nilai alat tukar. Oleh karena itu, logam yang dipakai harus tahan terhadap korosi atau oksidasi di udara yang lembap.

Nah, ketiga logam ini (emas, perak, tembaga) dianggap sebagai logam mulia karena tidak mudah berkarat. Sebetulnya kalo definisi dari logam mulia itu adalah logam yang tidak mudah berkarat, berarti logam mulia sebenarnya gak cuma tiga itu. Ruthenium, rhodium, palladium, osmium, iridium dan platinum juga sebenarnya termasuk logam mulia, tetapi mereka ditemukan pada abad 18 ke atas, jauh setelah koin emas, perak dan perunggu dipakai secara umum. Merkuri atau raksa juga termasuk logam mulia sih, tapi wujudnya yang cair dalam suhu ruangan bikin dia jadi gak bisa dipakai.

Logam-Mulia

Harga-Logam

Keliatan kan beda jauh harganya? Timah (tin) harganya 9 dolar per lb (kurang setengah kilogram) dan ruthenium harganya 60 dolar per ozt (31 gram).

Logam-logam mulia disusun berdasarkan posisinya di tabel periodik. Tembaga (Cu), Perak (Ag) dan Emas (Au) ada dalam satu golongan.

Tabel-Periodik

Nilai emas yang tinggi sebagai uang ini juga penting dalam ilmu cikal bakal kimia, al-kimia (alchemy). Pada abad ke-8, seorang ilmuwan al-kimia Arab, Jābir ibn Hayyān, dikenal sebagai “Bapak ilmu Kimia” oleh banyak orang karena memperkenalkan konsep yang belum digunakan dalam al-kimia sebelumnya. Konsep ini menekankan metode saintifik dan eksperimen di laboratorium untuk mempelajari unsur-unsur. Jābir juga tercatat sebagai orang pertama yang menggunakan aqua regia, atau air raja, campuran HNO3 dan HCl dengan rasio 1:3. Aqua regia ini dapat melarutkan logam mulia yang paling mulia zaman itu, alias emas.

Namun, metode saintifik yang dibawa oleh Jābir alias Geber ini belum banyak digunakan oleh pelaku al-kimia lain. Tujuan dari para pelaku al-kimia (yang masih ngawur) secara umum cuma dua:

  1. Menemukan zat yang bisa mengubah logam lain menjadi emas atau perak.
  2. Menemukan zat yang bisa menyembuhkan semua penyakit dan bisa memberikan hidup panjang bahkan hidup abadi.

Kok jadi kayak di dongeng-dongeng yah? Ya emang beneran ada kok periode dimana orang-orang nyari obat awet muda, ramuan buat ngubah benda jadi emas, berlian, ruby, sapphire, dsb. Kalo kita yang denger di zaman sekarang mungkin terdengar konyol, tapi emang itulah proses tahapan belajar dari yang ngaco jadi makin bener, dan makin bener terus.

Ilmu al-kimia (yang masih rada ngaco) inilah yang akhirnya berkembang menjadi ilmu kimia (yang udah bener saintifik) pada era enlightenment abad ke-16 di mana metode saintifik mulai digunakan lebih luas. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, akhirnya kita tahu sekarang bahwa al-kimia itu ngawur, karena identitas unsur ditentukan oleh inti atomnya dan tidak bisa berubah, kecuali oleh reaksi inti – fusi dan fisi.

Kenapa ya sekarang kita nggak lihat emas dan perak lagi sebagai bentuk nilai mata uang kita?

Dalam sejarah, penggunaan uang komoditas semakin berkurang ketika banyak negara berpindah ke sistem uang fiat pada abad ke-18. Apa itu sistem fiat? Sistem fiat adalah sistem, di mana uang yang beredar hampir nggak mempunyai nilai nyata atau intrinsik, tapi karena pemerintah bilang itu ada nilainya jadinya bernilai deh. Maksudnya, kertas yang dicetak dengan gambar dan tulisan Rp. 100.000 itu bernilai 100.000 rupiah karena mempunyai tanda legal oleh hukum dari pemerintah Indonesia. Apa alasannya nilai mata uang berpindah dari koin jadi kertas? Yang pasti adalah nilai kepraktisan, dari mulai kepraktisan mencetak, sampai kepraktisan dalam penyimpanan, dan kepraktisan dalam transportasi. Peralihan uang koin ke kertas sendiri terjadi tidak serempak di seluruh dunia, dari mulai yang pertama China (abad ke-7), Italia (abad ke-14), Amerika Serikat (abad ke-17). Kebayang yah lo gimana ribetnya transisi nilai tukar dari logam mulai ke kertas (abis belum ada internet, Twitter dan Facebook jadi seluruh dunia gak bisa langsung kompak).

Tadinya, semua uang kertas dan koin yang dicetak itu di-“patok” ke komoditas tertentu, biasanya emas atau perak, terutama dolar Amerika sebagai mata uang internasional. Pada tahun 1944, dolar Amerika dipatok pertukarannya, yaitu 35 dolar untuk satu troy ounce (31.103 gram) emas. Jadi semua mata uang negara lain dapat ditukar dengan dolar Amerika sehingga semua pertukaran uang jelas rasionya terhadap emas.

Awalnya sistem ini oke-oke aja, karena satu negara Amerika ekonominya lebih besar dari sepertiga dunia. Tetapi memasuki tahun 1970, porsi ekonomi Amerika dibanding dunia turun cukup drastis sehingga kekayaan riil (emas) Amerika nggak cukup lagi buat menjamin nilai uang mereka. Akhirnya patokan riil uang terhadap emas dihapus oleh Amerika dan semua nilai mata uang dibiarkan “mengambang” tanpa benda nyata yang terjamin bisa ditukarkan. Tapi tanpa patokan tersebut pun, uang kita masih berfungsi sebagai uang karena sifat yang diperlukan adalah sebagai alat penyimpan nilai, alias uangnya sendiri gapapa kalau nggak bernilai. Nilai emas dan perak sendiri sekarang “mengambang” mengikuti penawaran dan permintaan pasar.

****

Nah, sekarang lo coba kilas balik deh artikel ini, dari yang tadinya kita cuma mau ngejawab pertanyaan sesederhana “kenapa emas/perak dihargai lebih mahal daripada senyawa padat kimia lain?” itu ternyata perlu pemahaman dari berbagai disiplin ilmu yang terintegrasi dari mulai ekonomi, sejarah, sampai kimia. Mungkin sebelumnya lo gak nyangka kalo rasa penasaran terhadap duit, bisa diceritain panjang lebar dari segala sudut pandang ilmu pengetahuan. Jadi satu hal yang perlu lo inget, kalo lo penasaran terhadap suatu hal, jangan ragu untuk memenuhin dahaga lo dengan langsung obok-obok Google, baca buku, atau tanya sama orang yang lo nilai berkompeten. Ketika lo terbiasa untuk curious, lo akan nabung pengetahuan dari waktu ke waktu. Dengan waktu yang mumpuni, lo akan punya tabungan wawasan yang terintegrasi ke segala ilmu. Modal yang oke banget, gak hanya di bidang akademis, tapi di kehidupan sehari-hari lo. Okay, sekian dulu cerita gue soal emas, perak dan perannya sebagai uang sepanjang sejarah.

by: Ivan Waskita