Things God Won’t Ask

God won’t ask what kind of car you drove, but will ask how many people you drove who didn’t have transportation.

God won’t ask the square footage of your house, but will ask how many people you welcomed into your home.

God won’t ask about the fancy clothes you had in your closet, but will ask how many of those clothes helped the needy.

God won’t ask about your social status, but will ask what kind of class you displayed.

God won’t ask how many material possessions you had, but will ask if they dictated your life.

God won’t ask what your highest salary was, but will ask if you compromised your character to obtain that salary.

God won’t ask how much overtime you worked, but will ask if you worked overtime for your family and loved ones.

God won’t ask how many promotions you received, but will ask how you promoted others.

God won’t ask what your job title was, but will ask if you reformed your job to the best of your ability.

God won’t ask what you did to help yourself, but will ask what you did to help others.

God won’t ask how many friends you had, but will ask how many people to whom you were a true friend.

God won’t ask what you did to protect your rights, but will ask what you did to protect the rights of others.

God won’t ask in what neighborhood you lived, but will ask how you treated your neighbors.

God won’t ask about the color of your skin, but will ask about the content of your character.

God won’t ask how many times your deeds matched your words, but will ask how many times they didn’t.

Sumber: www.dailyavocado.net

1 Dollar 11 Sen

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi, tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat … tiga kali. Nilainya harus benar- benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian, tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!

“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah. “Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”

“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit … dan saya ingin membeli keajaiban.”

“Apa yang kamu katakan?” tanya sang apoteker.

“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang. Jadi berapa harga keajaiban itu?”

“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”

“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes di pipinya. “Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi. Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya, tapi saya juga mempunyai uang.”

“Berapa uang yang kamu punya?” tanya pria itu lagi.

“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga. “Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”

“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. “Satu dollar dan sebelas sen … harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu.” Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal. Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut. “Operasi itu,” bisik ibunya, “adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya.”

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut. Satu dollar dan sebelas sen ditambah dengan keyakinan.

Sumber: GFRESH! Magazine

Cinta Yang Sejati

Belum habis para malaikat terkagum-kagum akan apa yang telah dibuat-Nya selama 5 hari sebelumnya, dan hari itu Allah mengambil keputusan, “Aku akan menciptakan yang lain daripada yang lain hari ini!” kata-Nya pada hari ke-6.

Tiba-tiba Allah turun dari tahta-Nya yang mulia dan berkilauan, Ia menginjakkan kaki-Nya di atas tanah yang berlumpur itu untuk pertama kalinya dan dengan penuh kelembutan, Ia menggulung lengan jubah-Nya.

Berbisik-bisiklah para malaikat satu dengan yang lain, penuh rasa ingin tahu apakah gerangan yang membuat Allah turun dari tahta-Nya dan berdiri di atas lumpur itu. Lalu seorang malaikat memberanikan diri dan bertanya, “Ya Allah Yang Mulia, Maha Penyayang dan Pengasih, apakah yang akan Kau buat hingga Kau merelakan kaki dan jari-jari tangan-Mu menyentuh lumpur yang kotor itu? Biarlah kami yang melalukan pekerjaan yang kotor ini sebab Engkau tidak layak untuk melakukan ini semua.”

Tersenyumlah Allah dengan senyuman khas-Nya yang lembut, “Lihatlah, sebentar lagi pekerjaan-Ku akan selesai.”

“Apakah yang akan Kau buat Tuanku?” tanya malaikat itu lagi. Allah menjawab, “Aku akan menciptakan karya yang terindah yang segambar dan serupa dengan diri-Ku.”

Terbelalaklah mata malaikat itu, “Wah … begitu mulianya dan berharganya ciptaan-Mu ini. Mengapa Engkau mau menciptakannya?”, tanyanya sambil menengadahkan kepalanya.

Jawab-Nya, “Akan ada kasih di hatinya bagi-Ku, akan ada pujian dari mulutnya, dan akan ada cinta yang sejati antara Aku dan dia. Bukankah itu indah? Pernahkah terlintas di pikiranmu akan hal ini, dicintai dan mencintai dengan cinta yang sejati ?”

Terkagumlah malaikat itu dan dengan mata yang berbinar-binar berkata, “Sangat indah ya Tuanku, sangat indah … Sungguh tak sekalipun hal ini terlintas di pikiranku. Pastilah ciptaan dari-Mu ini senantiasa akan menyenangkan-Mu, selalu patuh pada-Mu, tak pernah menyangkali-Mu dan mengasihi-Mu sepanjang hidupnya.”

Sembari menyeka keringat ilahi-Nya dan tersenyum Ia berkata, “Yang kau katakan itu sangatlah indah, tetapi tidaklah demikian. Dia akan memiliki kebebasan dan dia akan memiliki pilihan untuk mengasihi-Ku atau tidak.”

Semerta-merta raut muka malaikat itu berubah dan tenggelam dalam kebingungan yang tak terselami, “Dengan demikian mereka memiliki kesempatan untuk membuat diri-Mu sedih, ya Rajaku. Engkau terlalu baik untuk dikecewakan, tidakkah lebih baik untuk tidak menciptakannya atau mungkin menciptakan mereka dengan hati yang selalu mencintai-Mu, tanpa pilihan yang lain?”

“Aku menginginkan cinta yang sejati, hamba-Ku. Dan cinta yang sejati bukanlah cinta yang memaksa tetapi cinta yang timbul dari segala macam pilihan yang ada.”

Mengertilah malaikat itu dan berkata, “Jadilah kehendak-Mu ya Tuanku! Kudus dan mulialah Engkau selamanya!”

Seketika itu juga, lumpur itu mulai menunjukkan bentuknya yang berstruktur sama dengan Allah dan akhirnya Ia berkata, “Kuhembuskan nafas kehidupan daripada-Ku, jadilah engkau manusia!”

Sumber: Warta PMHB

Sebuah Kisah Kasih

Suatu hari, aku bangun dini hari untuk menyaksikan sang surya terbit. Dan keindahan karya ciptaan Tuhan sungguh tak terlukiskan. Sementara aku mengaguminya, aku memuliakan Tuhan oleh karena karya-Nya yang mempesona. Sementara aku duduk di sana, aku merasakan kehadiran Allah dalam diriku.

Ia bertanya kepadaku, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkaulah Allah dan Juruselamat-ku!”

Kemudian Ia bertanya, “Seandainya engkau cacat jasmani, apakah engkau akan tetap mengasihi Aku?” Aku terpana. Aku memandangi tanganku, kakiku dan seluruh bagian tubuhku yang lain sambil memikirkan betapa banyak pekerjaan yang tidak akan dapat aku lakukan, pekerjaan-pekerjaan yang selama ini aku anggap biasa. Dan aku menjawab, “Akan sangat berat Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Kemudian Tuhan berkata, “Seandainya engkau buta, apakah engkau akan tetap mengagumi ciptaan-Ku?” Bagaimana aku dapat mengagumi sesuatu tanpa dapat melihatnya? Kemudian pikiranku melayang kepada orang-orang buta di muka bumi ini dan betapa banyak di antara mereka yang mengasihi Tuhan dan mengagumi ciptaan-Nya. Jadi aku menjawab, “Sulit dibayangkan Tuhan, tetapi aku akan tetap mengasihi Engkau.”

Kemudian Tuhan bertanya kepadaku, “Seandainya engkau tuli, apakah engkau akan tetap mendengarkan firman-Ku?” Bagaimana aku dapat mendengar jika aku tuli? Aku tersadar, mendengarkan Firman Tuhan tidak hanya dengan telinga, tetapi dengan hati. Maka aku menjawab, “Akan sangat berat, Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan firman-Mu.”

Kemudian Tuhan bertanya, “Seandainya engkau bisu, apakah engkau akan tetap memuliakan Nama-Ku?” Bagaimana aku dapat memuji tanpa bersuara? Lalu menjadi jelas bagiku: Tuhan menghendaki kita menyanyi dari kedalaman hati dan jiwa kita. Tidak jadi soal apakah suara kita terdengar sumbang. Dan memuliakan Tuhan tidak selalu dengan nyanyian, tetapi dengan berbuat baik kita menyampaikan pujian kepada Tuhan dengan ucapan syukur. Jadi aku menjawab, “Meskipun aku tidak dapat melantunkan nyanyian pujian, aku akan tetap memuliakan Nama-Mu.”

Dan Tuhan bertanya, “Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?” Dengan tegas dan penuh keyakinan, aku menjawab lantang, “Ya Tuhan! Aku mengasihi Engkau karena Engkaulah satu-satunya Allah yang Benar.”

Aku pikir aku telah menjawab dengan benar, tetapi …

Tuhan bertanya, “Jika demikian, mengapa engkau berdosa?”

Aku menjawab, “Karena aku hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna.”

“Jika demikian, mengapa pada saat suka engkau menyimpang jauh? Mengapa hanya pada saat duka saja engkau berdoa dengan khusuk?”

Tidak ada jawaban. Hanya air mata.

Tuhan melanjutkan, “Mengapa melantunkan pujian hanya di Gereja dan di tempat-tempat retret? Mengapa datang kepada-Ku hanya pada saat doa? Mengapa meminta dengan demikian egois? Mengapa tidak setia?”

Air mata mengalir jatuh di pipiku.

“Mengapa engkau malu akan Aku? Mengapa engkau tidak mewartakan Kabar Sukacita? Mengapa pada saat aniaya engkau berpaling kepada yang lain sementara Aku menyediakan punggung-Ku untuk memikul bebanmu? Mengapa mengajukan alasan-alasan ketika Aku memberimu kesempatan untuk melayani dalam Nama-Ku?”

Aku berusaha menjawab, tetapi tidak ada jawab yang keluar.

“Engkau dikaruniai hidup. Aku menciptakan engkau, jangan sia-siakan hidupmu. Aku memberkati engkau dengan talenta-talenta untuk melayani Aku, tetapi engkau senantiasa menghindar. Aku telah menyingkapkan rahasia Firman-Ku kepadamu, tetapi pengetahuanmu tidak bertambah. Aku berbicara kepadamu, tetapi telingamu tertutup rapat. Aku menunjukkan belas kasih-Ku kepadamu, tetapi matamu tidak melihat. Aku mengirimkan penolong-penolong bagimu, tetapi engkau duduk berpangku tangan sementara mereka engkau singkirkan. Aku mendengarkan doa-doamu dan Aku telah menjawab semuanya.”

“Apakah engkau sungguh mengasihi Aku?”

Aku tidak mampu menjawab. Bagaimana mungkin? Aku amat malu. Aku tidak punya penjelasan. Apa yang dapat aku katakan? Ketika hatiku menjerit dan air mata telah membanjir, aku berkata, “Ampuni aku, Tuhan. Aku tidak layak menjadi anak-Mu.”

Tuhan menjawab, “Itu Rahmat, Anak-Ku.” Aku bertanya, “Jika demikian, mengapa Engkau terus-menerus mengampuni aku? Mengapa Engkau demikian mengasihi aku?”

Tuhan menjawab, “Karena engkau adalah Ciptaan-Ku. Engkau adalah Anak-Ku. Aku tidak akan meninggalkan engkau.”

Jika engkau menangis, hati-Ku hancur dan Aku akan menangis bersamamu. Jika engkau bersorak kegirangan, Aku akan tertawa bersamamu. Jika engkau putus asa, Aku akan menyemangatimu. Jika engkau jatuh, aku akan mengangkatmu. Jika engkau lelah, Aku akan menggendongmu. Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman, dan Aku akan selalu mengasihimu selamanya.”

Belum pernah aku menangis sedemikian pilu sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bersikap dingin dan beku selama ini? Bagaimana mungkin aku melukai hati-Nya dengan segala kelakuanku? Aku bertanya kepada Tuhan, “Berapa besar Engkau mengasihi aku, Tuhan?”

Tuhan merentangkan kedua belah tangan-Nya, dan aku melihat tangan-Nya yang berlubang tertembus paku. Aku bersimpuh di kaki Kristus, Juruselamat-ku. Dan untuk pertama kalinya aku berdoa dengan segenap hati.

Sumber: yesaya.indocell.net

Kepada Kamu Yang Manis

Andai TUHAN punya kulkas, fotomu pasti dipajang di atasnya. Andai TUHAN punya dompet, fotomu pasti diselipkan di dalamnya. Ia menerbitkan matahari untukmu setiap pagi dan menumbuhkan bunga-bunga untukmu pada musimnya. Kapan saja kamu ingin berbicara, Ia siap mendengarkan. Ia bisa tinggal dimana saja di alam raya ini, tetapi ia memilih untuk tinggal dalam hatimu. Lihat kawan, betapa Ia tergila-gila padamu!

TUHAN tidak menjanjikan hari-hari tanpa duka, kegembiraan tanpa penderitaan, matahari tanpa hujan, tetapi Ia sungguh menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-harimu, penghiburan bagi air matamu, dan terang bagi jalanmu.

Sumber: Warta CCFC

Indah Pada Waktunya

Kuminta pada TUHAN setangkai bunga segar, Ia beri kaktus jelek dan berduri. Aku minta kupu-kupu, diberi ulat berbulu. Aku sedih dan kecewa. Namun kemudian, kaktus itu berbunga indah sekali. Ulat itu menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan TUHAN, indah pada waktunya!

TUHAN tidak memberi apa yang kita harapkan tapi Ia memberi apa yang kita perlukan. Kadang kita sedih, kecewa, terluka tapi jauh di atas segalanya Ia sedang merajut yang terbaik dalam kehidupan kita.

Sumber: Warta CCFC

Foto Di Atas Meja

Seorang artis sedang menderita karena mencandu obat-obatan dan divonis oleh dokter bahwa dia terkena virus HIV.  Kini dia tergolek sekarat dirumahnya.  Temannya datang untuk menghibur dan mencoba menguatkan imannya. Namun dosa-dosa yang telah diperbuat sang artis ini membutakan matanya dan dia merasa sangat putus asa.

“Aku berdosa”, katanya. “Aku telah menghancurkan hidupku sendiri dan kehidupan banyak orang disekelilingku. Sekarang aku tersiksa dan tidak ada lagi yang bisa ku perbuat untuk memperbaikinya. Aku akan masuk neraka.”

Temannya ini melihat ada sebuah potret gadis kecil yang cantik dan lucu terpigura dengan indah diatas meja kecil disamping tempat tidur sang artis. Lalu dia bertanya, “Foto siapa ini?” Mendengar pertanyaan itu, si artis bangkit semangatnya dan menjawab dengan antusias, “Itu putriku.  Dia adalah mutiara hidupku. Satu-satunya yang terindah yang aku miliki.”

Apakah kamu akan menolongnya jika dia mendapat kesulitan atau apakah kamu memaafkannya apabila dia melakukan kesalahan? Apakah kamu masih menyayanginya?

“Tentu saja,” jawab sang artis. ”Aku akan melakukan apapun demi dia.  Mengapa kamu bertanya seperti ini?”

“Saya ingin kamu tahu bahwa Allah juga punya foto dirimu diatas meja-Nya.”

Sang artis terkesiap.  Sudah lama ia tidak mendengar kata Allah dan bahkan tidak pernah mengucapkannya.

Saudara, mengapa kita sering menghakimi diri kita sendiri dengan tuduhan-tuduhan yang kejam, dengan pikiran-pikiran yang jelek?  Kalau kita saja menghakimi diri sendiri seperti itu, bagaimana dengan orang lain?

Apakah kita lupa, bahwa kita ini milik kepunyaan Allah? Apakah kita lupa pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib adalah untuk membuktikan kepada kita bahwa kita ini berharga dan mulia. Kita sangat sangat dikasihi-Nya.

Allah bahkan tidak pernah menghakimi kita seburuk apapun kesalahan dan pelanggaran kita.  Kasih-Nya menutupi semuanya.  Kasih-Nya mengampuni kita dengan tulus.  Allah mau berbuat apa saja untuk kita.  Dan buktinya adalah DIA telah mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita dan menguduskan kita sekali untuk selamanya.

Dia mempunyai bukan hanya foto diri kita, tapi juga keseluruhan hidup kita.  Kita harus bersyukur karena kita terpahat ditangan-Nya.

Sumber: www.sarikata.com

Fruit Of The Spirit

It’s quiet. It’s early. My coffee is hot. The sky is still black. The world is still asleep. The day is coming. In a few moments the day will arrive. It will roar down the track with the rising of the sun. The stillness of the dawn will be exchanged for the noise of the day. The calm of the solitude will be replaced by the pounding pace of the human race. The refuge of the early morning will be invaded by decisions to be made and deadlines to be met.

For the next twelve hours I will be exposed to the day’s demands. It is now that I must make a choice. Because of Calvary, I’m free to choose. And so I choose.

I choose love. No occasion justifies hatred; no injustice warrants bitterness, I choose love. Today I will love God and what God loves.

I choose joy. I will invite my God to be the God of circumstance. I will refuse the temptation to be cynical … the tool of the lazy thinker. I will refuse to see people as anything less than human beings, created by God. I will refuse to see any problem as anything less than an opportunity to see God.

I choose peace. I will live forgiven. I will forgive so that I may live.

I choose patience. I will overlook the inconveniences of the world. Instead of cursing the one who takes my place, I’ll invite him to do so. Rather than complaining that the wait is too long, I will thank God for a moment to pray. Instead of clinching my fist at new assignments, I will face them with joy and courage.

I choose kindness. I will be kind to the poor, for they are alone. Kind to the rich, for they are afraid. And kind to the unkind, for such is how God has treated me.

I choose goodness. I will go without a dollar before I take a dishonest one. I will be overlooked before I will boast. I will confess before I will accuse. I choose goodness.

I choose faithfulness. Today I will keep my promises. My debtors will not regret their trust. My associates will not question my word. My wife will not question my love. And my children will never fear that their father will not come home.

I choose gentleness. Nothing is won by force. I choose to be gentle. If I raise my voice may it be only in praise. If I clench my fist, may it be only in prayer. If I make a demand, may it be only of myself.

I choose self-control. I am a spiritual being. After this body is dead, my spirit will soar. I refuse to let what will rot, rule the eternal. I choose self-control. I will be drunk only by joy. I will be impassioned only by my faith. I will be influenced only by God. I will be taught only by Christ. I choose self-control.

Love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control. To these I commit my day. If I succeed, I will give thanks. If I fail, I will seek His grace. And then when this day is done, I will place my head on my pillow and rest.

Sumber: Max Lucado

A Letter from God

Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti. Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk. Di  satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru. Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari.

Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepada-Ku. Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.

Tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya  seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku. Saat tidur Ku pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.

Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu. Baiklah … engkau bangun kembali dan kembali. Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan.

Bapamu,

Allah

Sumber: Warta CCFC

Aku Memohon Tuhan

Aku memohon Tuhan untuk melepaskan tabiatku.
Tuhan menjawab, “Tidak! Bukan Aku yang melepaskan, tetapi kamu yang menghentikan.”

Aku memohon Tuhan mengutuhkan kembali anakku yang cacat.
Tuhan menjawab, “Tidak! Rohnya yang utuh, tubuhnya hanya sementara.”

Aku memohon Tuhan untuk memberikanku kesabaran.
Tuhan menjawab, “Tidak! Kesabaran adalah hasil perjuangan. Itu tidak diberikan, tetapi dipelajari.”

Aku memohon Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, “Tidak! Aku memberikan berkat-Ku. Kebahagiaan tergantung padamu.”

Aku memohon Tuhan untuk menghilangkan kepedihanku.
Tuhan menjawab, “Tidak! Penderitaan menjauhkanmu dari dunia dan membawamu lebih dekat pada-Ku.”

Aku memohon Tuhan untuk membuat jiwaku tumbuh.
Tuhan menjawab, “Tidak! Kamu yang harus menumbuhkannya sendiri. Tetapi Aku akan menatanya agar kamu lebih berbuah.”

Aku memohon Tuhan untuk menolongku MENGASIHI sesama, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab, “Ahhh, akhirnya kamu tahu maksud-Ku!”

Sumber: www.airhidup.com