Ponzi scheme

Apa itu Ponzi scheme?

Pernah dengar tentang Ponzi scheme (skema Ponzi)?  Sebagian dari kita mungkin ada yang sudah paham. Skema Ponzi ini sering dikaitkan dengan kegiatan Multi Level Marketing (MLM), sistem piramida (skema piramida), sistem Binary, Money Game, arisan berantai, Member Get Member (MGM), dan sejenisnya.

Banyak bisnis di sekitar kita menganut sistem Ponzi. Seperti contoh produk-produk yang dijual melalui sistem MLM atau Network Marketing. Sah atau tidaknya sistem ini saya kembalikan kepada pembaca. Saya tak mau mengambil kesimpulan dari sistem ini. Tetapi perlu diingat bahwa suatu bisnis yang hanya mengandalkan sistem saja dan produknya nol (baca: tak berkualitas atau sekedar ada saja) serta produk tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan maka bisnis atau jasa yang menganut sistem Ponzi ini tidak akan bisa bertahan lama.

Skema Ponzi atau juga dikenal dengan skema Piramida merupakan merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah sistem dimana seseorang menginvestasikan dana untuk mendapat keuntungan yang diperoleh dari investasi yang dilakukan oleh investor berikutnya. Skema Ponzi atau skema Piramida pertama kali ditemukan oleh seorang penipu bernama Carlo Ponzi dan masih dipergunakan pada berbagai macam bisnis hingga sekarang.

Sejarah Ponzi

Carlo Ponzi merupakan penipu terbesar dalam sejarah Amerika. Dengan nama Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi, dia dilahirkan di Lugo, Italia. Carlo Ponzi (3 Maret 1882 – 18 Januari 1949) atau juga dikenal dengan Charles Ponzi adalah imigran Amerika Serikat (US) asal Italia. Jauh sebelum menemukan skema penipuan tersebut, Carlo Ponzi telah dikenal sebagai pelaku kriminal dengan melakukan penggelapan uang yang dikirimkan oleh sesama imigran asal Italia ke negara asal mereka. Menurut cerita, dia juga seorang penjudi dan selama dalam pelayaran uangnya dihabiskan di meja judi. Walaupun kantongnya kosong, tetapi kepalanya penuh dengan sejuta harapan.

Nama sistem piramida diindentikkan dengan nama Ponzi, karena sistem piramida sering disebut skema Ponzi. Mungkin karena Charles Ponzi adalah orang pertama yang paling berhasil menggunakan cara ini untuk menipu dan mendapat sorotan masyarakat. Ia bukan hanya menipu dalam jumlah yang besar, tetapi juga mendapat sorotan. Kejadiannya di sekitar tahun 1920.

Charles Ponzi bukan tergolong penipu yang melibatkan dana terbesar dalam sejarah. Ponzi dimasa itu hanya berhasil menyeret dana sebesar US$ 7 juta (kira-kira senilai 10 ton emas). Jumlah itu tidak lah banyak kalau dibandingkan dengan kasus Bernie Madoff. Bernie Madoff tahun 2008 terbongkar kasusnya bahwa dia berhasil menilep US$ 50 miliar (kira-kira senilai 1.720 ton emas). Yang digelapkan Madoff nilai riilnya 172 kali lebih besar dari Ponzi. Ini membuat Charles Ponzi seperti amatir. Walaupun demikian, sistem piramida tetap disebut dan mempunyai nama alias sebagai skema Ponzi, dan bukan skema Madoff. Dalam membandingkan antara Madoff dan Ponzi, kita harus mengukurnya dengan emas bukan dengan dollar, karena emas adalah uang sejati, sedang dollar adalah uang kertas, uang ciptaan dan hasil manipulasi politikus yang nilainya tergerus dengan masa. Kalau diukur dengan uang dollar Amerika Serikat maka Madoff lebih besar 7000 kali dari Ponzi. Tetapi Ponzi lah yang mendapat nama. Yang besar belum tentu yang memperoleh nama.

Ponzi nampaknya punya kepribadian yang menarik dan mampu menyakinkan orang. Kalau diibaratkan seorang pedagang, dia adalah pedagang yang mampu menjual lemari es kepada seorang eskimo di Alaska, atau seorang yang mampu menjual tahi ayam seharga permen coklat. Karakter inilah yang menguntungkan baginya untuk menjadi penipu.

Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Inggris, penipu disebut con-man, kadang con-artist singkatan dari confident-man atau confident-artist. Artinya orang yang sangat yakin dan sangat menyakinkan.

Ilmu tipu-menipunya mungkin dipelajarinya ketika bekerja di sebuah bank bernama Banco Zarossi. Bank ini memberikan bunga dua kali lipat dari bunga bank umumnya saat itu. Nasabahnya tumbuh dengan cepat dan Banco Zarossi bisa mengumpulkan dana yang cukup besar dalam waktu yang singkat. Banco Zarossi sebenarnya mengalami kesulitan bisnis. Kredit real-estatenya banyak yang macet. Ponzi melihat bahwa pembayaran bunga kepada nasabah menggunakan uang yang berasal dari nasabah-nasabah yang baru. Akhirnya bank ini runtuh dan mengalami kesulitan untuk membayar uang nasabah berserta bunganya. Dan kemudian Zarossi, pemilik bank, lari ke Mexico dengan membawa lari uang nasabah.

Setelah kejadian Banco Zarossi, Ponzi sempat keluar masuk penjara karena melakukan tindak kriminal. Di dalam penjara, rupanya ia memperoleh pengalaman lebih banyak dan wawasan yang lebih luas.

Suatu hari menjelang tahun 1920, Ponzi mempunyai ide bisnis untuk memperoleh uang secara mudah. Bisnisnya berkaitan dengan apa yang dinamakan International Reply Coupon (IRC). IRC ini digunakan di dalam surat menyurat internasional sebagai pengganti prangko untuk pengiriman surat balasan. Misalnya, si A di sebuah negara mengirim surat kepada B (biasanya perusahaan atau badan lainnya) di negara lain untuk meminta sesuatu (misalnya katalog atau formulir pendaftaran). B mensyaratkan setiap permintaan barang ini harus disertai IRC. IRC ini bisa ditukarkan dengan prangko untuk mengirimkan barang-barang yang diminta kliennya dengan pos. Maksudnya agar B tidak terbebani biaya prangko karena A sudah menyediakannya dalam bentuk IRC. IRC ini juga bisa diuangkan.

Pada masa setelah Perang Dunia II, inflasi di Eropa cukup tinggi sehingga terjadi perbedaan biaya pengiriman lewat pos antara pengiriman dari US ke Eropa dengan dari Eropa ke US. Akibatnya IRC yang dijual di Italia atau di Eropa harganya lebih rendah dibandingkan dengan di US. Ide Ponzi ialah membeli IRC dari Italia, kemudian diuangkan di US. Ide yang cemerlang dan 100% legal. Dan potensi keuntungannya bisa ratusan persen.

Ponzi meminjam uang ke bank untuk memulai bisnis ini dan mengirimkannya kepada sanak keluarganya di Italia untuk dibelikan IRC. Dia juga menawarkan proposal kepada kenalannya untuk menambah modalnya. Mula-mula melalui selebaran-selebaran dia menawarkan 40% keuntungan untuk investasi selama 90 hari dalam proposalnya. Pada bulan Januari 1920, ia menaikkan iming-imingnya itu menjadi sebesar 100% dalam waktu 90 hari. Dibandingkan dengan bunga bank yang hanya sekitar 5%, tentu saja iming-iming Ponzi ini sangat menarik.

Kemudian Ponzi dengan perusahaannya “Old Colony Foreign Exchange Company (dikenal juga sebagai Securities Exchange Company (SEC))”, menggalang dana dengan menggunakan agen-agen yang diberi komisi yang tinggi. Dalam waktu 4 bulan, yaitu Februari – Mei 1920, dia berhasil mengumpulkan US$420.000 (setara dengan 620 kg emas). Histeria terbentuk setelah harian The Boston Post menerbitkan artikel yang isinya bernada positif terhadap bisnis Ponzi ini. Dan orang-orang berbondong-bondong menyerahkan uangnya untuk diinvestasikan ke bisnis IRC.

Sayangnya, di US Ponzi mengalami kesulitan untuk menguangkan IRC yang dibelinya dari Italia. Terlalu banyak birokrasi dan berliku-liku administrasi yang harus dilewati. Secara praktis bisnis Ponzi tidak menghasilkan keuntungan yang riil. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti. Belajar dari pengalamannya di Banco Zarossi, Ponzi membayar bunga keuntungan nasabah lamanya dengan uang nasabah yang baru ikut serta. Karena pertambahan jumlah investor mengalami percepatan, dana baru yang masuk bisa menutup pembayaran bunga maka semuanya berjalan lancar. Lagi pula kebanyakan dari investor Ponzi tidak mengambil bunga dari investasinya, melainkan ditanam kembali. Sehingga hal ini mempermudah Ponzi. Ponzi bisa berfoya-foya dengan uang investornya.

Ponzi menanamkan uangnya ke sebuah bank, Hanover Trust Bank. Dengan uangnya itu saham mayoritas dikuasai Ponzi. Bunga yang diperoleh Ponzi sekitar 5%. Bunga yang 5% inilah yang merupakan keuntungan riil dari SEC.

Walaupun semuanya lancar, ada juga orang yang skeptis. Di bulan Juli 1920 harian The Boston Post menurunkan sebuah artikel yang ditulis oleh seorang analis keuangan Clarence Barron. Isinya sebuah analisa yang menunjukkan bahwa pola bisnis Ponzi dengan SEC-nya secara finansial tidak mungkin menguntungkan. Jumlah IRC yang beredar terlalu sedikit untuk membuat keuntungan yang Ponzi tawarkan. Ditinjau dari besarnya modal dan keuntungan yang ditawarkan, bisnis Ponzi memerlukan 160 juta IRC, sedangkan IRC yang beredar hanya 27.000 lembar. Dengan demikian ada ketidak-cocokan antara volume IRC dengan keuntungan yang diperlukan untuk memenuhi janji Ponzi.

Tidak lama kemudian, beberapa investor menarik dananya dari SEC. Mereka mendapatkan cek bank Hanover Trust Bank yang dikuasai Ponzi dan cek itu bisa dicairkan. Dana yang ditarik mencapai US$ 2 juta. Kelanjutan penarikan dana secara besar-besaran bisa dihindari karena Ponzi bisa meyakinkan nasabahnya bahwa artikel di The Boston Post itu salah. Ponzi bisa lolos, bahkan pemasukannya pun bertambah.

Selanjutnya Ponzi mempekerjakan seorang untuk menangani hubungan masyarakat, Public Relation (PR), bernama William McMasters. Tidak lama bekerja untuk Ponzi, McMasters curiga mengenai banyak hal tentang bisnis SEC Ponzi. Pertanyaannya yaitu, “Kenapa Ponzi masih menanamkan uangnya di bank dengan bunga 5%, padahal dengan bisnis IRC bisa memperoleh 100% dalam 90 hari?” McMasters akhirnya mengundurkan diri. Tidak lama kemudian, tanggal 2 Agustus 1920, di harian The Boston Post keluar sebuat artikel yang berisi kecurigaan William McMasters. Pertanyaan itu kembali muncul, kenapa Ponzi masih mau mendepositokan uangnya di bank dengan bunga 5%, padahal bisnisnya bisa menghasilkan puluhan kali lipat. Dikatakannnya bahwa sebenarnya aset SEC bukan US$ 7 juta, melainkan minus (hutang) US$ 2 juta sampai US$ 4,5 juta. Artinya perusahaan Ponzi sudah pailit. Dan penarikan dana besar-besaran kembali melanda SEC.

Pada masa penarikan dana besar-besaran ini, komisi bank Massachusetts memerintahkan agar rekening Ponzi di Hanover Trust Bank diawasi. Nasabah terus menerus menguangkan cek yang berasal dari Ponzi. Ketika dana di rekening ini sudah habis, maka semua penarikan dana dari rekening itu dihentikan. Akhirnya, dua bank lain di Boston ikut tersungkur karena hutang Ponzi yang tidak bisa dibayar. Atas perintah dari komisi perbankan Massachussets, SEC Ponzi diaudit. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai aset perusahaan ini hanyalah hutang paling sedikit US$ 7 juta.

Note: The Boston Post akhirnya mendapat hadiah Pulitzer tahun 1921 untuk laporan yang bersifat penyelidikan dalam kasus Ponzi.

Ponzi dihukum 5 tahun penjara atas tuduhan “penipuan melalui surat” oleh pengadilan federal pada November 1920. Ketika bebas 3,5 tahun kemudian, ia dituntut lagi oleh pengadilan negara bagian Massachusetts dengan tuduhan “mengambil alih milik orang lain secara tidak sah“. Pada hakekatnya tuduhan ke-2 ini adalah untuk perbuatan yang sama. Namun nampaknya ada yang masih belum puas. Pengadilan untuk tuntutan “mengambil alih milik orang lain secara tidak sah” ini dilakukan sampai 3 kali. Baru yang ke-3, Ponzi berhasil dibuktikan bersalah dan hukumannya ditambah menjadi 9 tahun penjara.

Ponzi keluar dari penjara dengan jaminan. Sekeluarnya dari penjara dia berusaha membuat penipuan dengan teknik yang sama di Florida. Tetapi kemudian ditangkap dan jatuhi hukuman 1 tahun penjara lagi di Florida. Dia bebas dengan jaminan. Kebebasan ini digunakan untuk melarikan diri keluar dari Amerika Serikat. Tetapi ia keburu tertangkap saat kapal yang ditumpanginya hendak berangkat. Selanjutnya, ia dikirim ke Massachusetts untuk menjalani sisa hukumannya disana. Selesai menjalani hukuman penjaranya di tahun 1934, ia dideportasikan kembali ke Italia. Ponzi mati sebagai orang miskin di Rio de Janeiro, Brazil, pada Januari 1949.

Ponzi melihat bahwa:

  1. Orang tidak berpikir panjang ketika melihat potensi keuntungan yang besar atau ditawari keuntungan yang besar, walaupun tidak masuk akal.
  2. Sekali namanya dikenal, maka orang dengan sendirinya akan berbondong-bondong datang menyerahkan uangnya. Bahkan akan menanamkan lagi “keuntungan” yang diterimanya, sehingga pengumpulan uang mengalami percepatan.
  3. Pada suatu fase, terjadi masa dimana mentalitas ikut arus (herd mentality) meningkat. Banyak orang ikut terjun kedalam bisnis yang sedang digilai (dalam hal ini menginvestasikan uangnya ke Banco Zarossi), maka semakin banyak orang lainnya yang ikut latah tanpa banyak berpikir.

Tetapi yang luput dari pengamatan Ponzi ialah bahwa sekali timbul ketidak-percayaan, maka akan terjadi penarikan uang nasabah secara besar-besaran dan akan membongkar kejahatannya sebagai akibat mentalitas ikut arus (herd mentality).

Banyak yang bisa dijadikan hikmah dari kasus Ponzi. Banyak kejanggalan-kejanggalan yang menyelimuti bisnis ala Ponzi. Tetapi untuk mengetahuinya memerlukan karakter skeptis dan juga harus jeli. Misalnya jumlah IRC yang beredar, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah IRC yang diperlukan agar bisnis IRC Ponzi bisa untung seperti yang diakuinya. Kemudian, kalau memang bisnis IRC bisa menghasilkan berkali-kali lipat dari bunga bank, kenapa Ponzi masih menanamkan uangnya ke bank yang bunganya hanya 5%? Itu suatu pertanyaan yang sahih. Walaupun sebenarnya banyak kejanggalan yang nyata-nyata membuktikan bahwa bisnis IRC Ponzi tidak mungkin untung, artinya Ponzi hanya menipu, tapi masih banyak saja orang yang percaya. Akibatnya mereka dengan mudah jadi korbannya. Kenapa para korbannya bisa terperosok? Tidak lain karena mereka tidak skeptis dan tidak mau berpikir yang sedikit rumit, sedikit saja.

Dari proses pengadilan penipuan Ponzi yang berkali-kali, nampak jelas bahwa tindak kriminal penipuan sulit dijerat. Tuduhannya “penipuan melalui surat” atau mail-fraud dan “mengambil alih milik orang lain secara tidak sah”, seakan tidak ada pasal umum mengenai penipuan. Banyak negara berusaha memperbaiki undang-undang pidananya. Ketika kasus Madoff mencuat tahun 2008, ia dituntut dengan berbagai pasal seperti securities fraud, investment advisor fraud, mail fraud, wire fraud, pencucian uang, pemalsuan laporan keuangan, mengisi secara salah laporan kepada badan pengawas bursa, pencurian dana pensiun. Walaupun penegak hukum membuat hukum semakin rumit, para penipu juga tidak kalah pandainya. Para penipu pada masa-masa berikutnya belajar dari kasus Ponzi. Dari pembelajaran ini muncul variasi-variasi pengelabuhan yang bisa lolos dari persyaratan pasal-pasal penipuan. Variasi ini biasanya dengan ikut sertakan barang riil atau jasa riil dalam skema penipuan.

Kesimpulan

Maka dari itu cobalah mulai berpikir kritis dan selalu berhati-hati. Bijaksanalah dalam menelaah sesuatu jangan menelan mentah-mentah sesuatu dari sudut pandang tertentu. Lihatlah dari sudut pandang yang luas agar lebih bijak menyikapinya.

Sumber: Berbagai Sumber

Pentingnya Berpikir Kritis

“It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it.”
-Aristotle-

Hai zenius fellow! Kali ini gw mau ngebahas tentang critical thinking! Ada paragraf lucu deh. Gue dapet dari internet, Lisa Shea (http://www.lisashea.com/hobbies/art/general.html). Di situ, dia lagi ngebahas tentang Da Vinci Code.

“I’m really happy the book has gotten people to think – but it concerns me that people then come to me and say “OK tell me the truth!” These people are now sure that the church has been lying to them and they want to blindly believe another person? I have a LARGE list of source reference books. Go read them! Exercise your brain! Figure out for YOURSELF what is true and what is not. If all you do is sit back and say “OK I will believe someone else now”, then you’ve missed a main point of my website. The point is that people are free when they learn for themselves what to believe.”

Iya. Lucu! Tapi, jangan-jangan kita adalah salah satu orang yang kayak gitu. Setelah denger (atau baca) sesuatu, yakin kalo ada yang salah terus kita malah percaya buta sama orang lain. Hihihi… kayaknya lucu sih. Tapi, sebenarnya ini mengkhawatirkan. Di era informasi ini, kita harus bisa kritis, Bung!

Kalo nggak kritis, gampang banget ditipu sama berbagai macam teori konspirasi, hoax, dan macem-macem lainnya. Jangankan kalo lo nggak kritis. Lo kritis aja, masih bisa ketipu.

Fenomena Air HADO

Gue pernah baca sebuah buku tentang Air HADO. Yang ngarang namanya Emoto. Melihat keterangan tentang pengarangnya, Emoto ini tidak memiliki latar belakang sains. Tapi, berhubung dia mengambil liberal art (yang diterjemahkan secara tidak tepat sebagai “seni bebas”), gue pikir dia tidak akan menulis sesuatu hal secara sembarangan.

Jadi gini. Menurut Emoto, air akan mendengarkan perkataan-perkataan manusia. Dia melakukan eksperimen sebagai berikut:

  1. Ambil air suling, letakkan pada botol.
  2. Tuliskan kata2 positif pada botol tersebut. Misalnya, “Love and Thank you”, “Arigato”, dan sebagainya.
  3. Bekukan air tersebut sampai mencapai suhu −25 °C (−13 °F).
  4. Foto hasilnya.

Menurut Emoto, kristal yang terfoto itu hasilnya akan sangat bagus. Begitu juga kalau air itu didengarkan dengan lagu-lagu klasik atau didoakan. Tapi, menurut Emoto juga, air tidak akan menunjukkan kristalnya ketika ia dituliskan kata-kata negatif seperti “bego lu” atau yang lain. Ia juga tidak membentuk kristal jika terkena radiasi gelombang elektromagnet dari televisi, handphone, dsb. Lagu-lagu heavy metal juga akan membuat air ini tidak mengkristal.

Saat gue baca buku itu. Gue belum menemukan kesalahan dari penelitiannya. Berhubung gue percaya sama data-data yang dia berikan, gue cuma bisa bilang, “itu mungkin aja bener. Tapi, belum ada hipotesis yang bisa menjelaskan kenapa itu semua terjadi”. Dua kejadian yang terjadi secara berurutan belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat. Post hoc non est propter hoc. Jadi, menurut gue, perlu ada general theory yang bisa menjelaskan kejadian-kejadian itu. Didorong oleh rasa ingin tahu gue ini, gue mencoba browsing di internet. Gue pikir, mungkin ada beberapa scientist yang udah ikutan meneliti ini dan menawarkan beberapa hipotesis.

Search di google menuntun gue ke Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Masaru_Emoto) dan JREF(James Randi Education Foundation). Di sana gue menemukan bahwa Emoto tidak melakukan double-blind saat meneliti. Datanya pun salah. Double-blind adalah salah satu metode untuk mereduksi bias saat observasi. Tanpa double-blind, seorang observer cenderung hanya mengambil data yang sesuai dengan hipotesisnya atau kepercayaannya. Terlebih, JREF menantang Emoto satu juta dollar jika bisa membuktikan hipotesisnya itu dengan menggunakan double-blind. Ternyata dia belum berhasil. Sebelumnya, gue pernah denger sih tentang JREF ini dari seorang teman. JREF ini emang berjanji memberikan $1.000.000 kepada siapapun yang bisa menjelaskan kejadian-kejadian supranatural ke ranah sains. Belum ada yang berhasil tuh. Ada yang merasa tertantang? :D

Di era informasi seperti sekarang ini, kita mudah mengakses berbagai informasi. Tapi, sayangnya, banyak banget yang ngawur. Ada yang tidak disengaja karena terlalu cepat melompat ke kesimpulan tertentu tanpa menggunakan metode penelitian yang benar banyak juga yang disengaja karena keuntungan yang bisa didapat dari penyebaran informasi itu. Misalnya uang atau di era demokrasi ini, suara politik untuk menjatuhkan lawan, dan sebagainya. Kalau nggak kritis. Kita bisa tertipu.

Lihat aja Da Vinci Code. Teori-teorinya mungkin ada yang bener. Tapi, tentu saja itu masih berlatar belakang hipotesis yang belum terbukti secara ilmiah.

Salam kritis!

by: Wisnu O. P. S.

“I’m built with it”

Oh leave the Wise our measures to collate.
One thing at least is certain, light has weight.
One thing is certain and the rest debate.
Light rays, when near the Sun, do not go straight.
-Sir Arthur Eddington-

Suasana aula Cambridge sepi dan tegang, orang-orang berkumpul menunggu hasil penelitian yang menentukan bukan saja untuk sains, tapi untuk harga diri bangsa (untuk beberapa orang). Sir Eddington melangkah pasti membawa 2 plate fotografi pemotretan gugus bintang Hyades. Satu diambil di Inggris dan satu lagi diambil di Pulau Principe, lepas pantai barat Afrika, kala gerhana matahari total.

Today we will become the witness of scientific breakthrough gentleman, please be seated.

Semua orang memilih tempat duduknya dan beberapa menghentikan pembicaraan mereka dengan kolega di belakang tempat duduknya. Semua mata memandang Sir Eddington memasang dua plate yang akan menentukan nasib ilmuwan pencetus gravitasi hampir 300 tahun yang lalu, yang merupakan pujaan bangsa Inggris, Sir Isaac Newton. Hari ini mereka akan menyaksikan, apakah teori yang bertahan selama 300 tahun itu akan tetap bertahan atau gugur oleh perhitungan ilmuwan tak terkenal, anti sosial, bahkan lahir di negara musuh mereka saat itu, Jerman. Ilmuwan itu bernama Albert Einstein.

Dua plate yang diambil dari dua lokasi berjauhan dan pada kondisi yang sama tersebut disatukan. Apabila Newton benar, maka foto bintang di dua lokasi tersebut akan sama. Dan sebaliknya jika Einstein dengan perhitungan di khayalannya (Der Gedankexperiment), maka cahaya bintang di Afrika Selatan, yang mengalami gerhana matahari, akan dibelokkan. Dan terdapat gap, antara dua titik di foto.

Light bended by gravity??? What kind of nonsense this German scientist proposed?” sebagian ilmuwan Inggris bergumam menunggu Eddington selesai memasang 2 plate itu.

Eddington melihat 2 plate yang disatukan. Ia memfokuskan lensa objektif untuk melihat gugus Hyades di samping prominence matahari di kala gerhana. Ia ragu sejenak. Teringat ia akan tulisan di jurnal hariannya di Pulau Principe tertanggal 29 Mei 1919:

The rain stopped about noon and about 1.30… we began to get a glimpse of the sun. We had to carry out our photographs in faith. I did not see the eclipse, being too busy changing plates, except for one glance to make sure that it had begun and another half-way through to see how much cloud there was. We took sixteen photographs. They are all good of the sun, showing a very remarkable prominence; but the cloud has interfered with the star images. The last few photographs show a few images which I hope will give us what we need…

Sambil membetulkan kacamatanya, sekali lagi ia lihat lebih teliti. Ia angkat kepalanya dan berkata:

A gap! Einstein!!!

Suasana Aula berusia lebih dari 500 tahun itu senyap. Beberapa menganggukkan kepala, beberapa menatap heran, beberapa berdiri, menghentak dan bergegas ke luar ruangan. Seorang Englishman, Eddington, membuktikan teori ilmuwan musuh negaranya yakni seorang Jerman, Einstein, untuk mengkoreksi ilmuwan besar negaranya sendiri, Newton.

Banyak orang mengira sains adalah bidang arogan yang hanya berisi orang-orang di menara gading. Sering kali saya bertemu orang yang melihat sains sebagai sesuatu yang berat.

Well I can’t blame them all. Sering juga saya bertemu orang yang mengaku saintis tapi tidak menggunakan logika mereka untuk berpikir. Saintis atau ilmuwan bukanlah mahasiswa yang lulus dari MIPA saja. Saintis bisa orang-orang dari tiap profesi asalkan mereka menggunakan metode sains untuk berpikir mereka. Liat dulu permasalahan, ajukan pertanyaan, buat percobaan atau cari data mengenai jawaban pertanyaan dan tarik kesimpulan. Eddington membuktikan ia merupakan saintis sejati dengan tidak bias. Baik bias dalam hal nasionalime sempit, atau bias mengakui hasil karya Einstein sebagai karyanya sendiri.

Sulit memang memisahkan ego manusia dan idealisme saintifik. Saya teringat suatu kata-kata yang saya lupa kapan dan di mana membacanya.

Pertama

Dokter itu boleh bohong tapi tidak boleh salah
karena kalau pasien mau meninggal besok, dokternya biasanya akan menenangkan. Tapi dokter hampir tidak boleh salah mendiagnosis.

Kedua

Ilmuwan itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong.”
Hasil data penelitian boleh saja tidak sesuai teori di buku. Tapi tampilkan apa adanya dan jangan diubah. Salah data, kurvanya gak bagus atau datanya ngacak? Gak ada tuh, justru kesalahan sering membuka penemuan baru.

Ketiga

Politikus itu boleh salah boleh bohong!!
No offense to politician, but reality bites sometimes.”

Kembali ke Eddington, Einstein dan Newton. Apakah setelah dibuktikan dengan percobaan, teori gravitasi Newton menjadi tak berguna? Bisa iya, bisa tidak. Pada kondisi normal (consider yourselves about what is a normal condition) teori Newton berlaku, tapi pada kondisi ekstrem, relativitas Einstein merajai. Einstein “hanya” memoles Newton sedikit untuk fenomena yang tak dapat dijelaskan oleh mekanika klasik Newton.  Rangkaian pengetahuan sambung menyambung ini, seperti yang dikatakan Stephen Hawking ketika ditanya mengapa ia sangat jenius oleh wartawan, adalah:

Because I’m standing on the shoulder of giant.”

Karena penelitian ilmuwan sebelum masanya, Hawking bisa merumuskan persamaan gravitasi di dalam black hole dan terus menyempurnakan teori Einstein dengan TOE (Theory Of Everything) yang masih dikerjakannya.

Setelah pembuktian teori relativitas umum oleh Eddington, Einstein menjadi terkenal di seluruh dunia. Jerman yang baru saja kalah perang dunia pertama, seolah mendapat kebanggan sendiri di tengah kedukaan dan inflasi yang menghebat.

Eddington sendiri? Seperti juga penarik layar untuk pertunjukan, ia tenggelam dalam nama besar Albert Einstein. Mengapa ia rela membuktikan teori orang lain dan menekan bias pendapatnya sendiri? Ilmuwan yang baik selalu mencari kebenaran pada data eksperimen. Ketika science board Cambridge menanyakan maksud Eddington untuk membuktikan teori seorang Jerman, ia diragukan kesetiaanya pada Inggris Raya. Ia ditanya apakah ia bisa objektif? Eddington berkata, “With my respect Sir, I’m built with it“.

by: Pras Dianto

Untuk Segala Sesuatu Ada Waktunya

[1] Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
[2] Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
[3] ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
[4] ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
[5] ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
[6] ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
[7] ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
[8] ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
[9] Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
[10] Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
[11] Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
[12] Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.
[13] Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
[14] Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
[15] Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

Inilah Harapanku Untukmu

Tatkala kita berusaha menyediakan hal-hal yang baik saja bagi anak-anak kita, terkadang hal itu justru membuat mereka makin buruk.

Untuk cucu-cucuku, aku tahu apa yang lebih baik bagi mereka.

Aku ingin mereka menghargai pakaian bekas, es krim buatan sendiri, dan potongan daging sisa makanan mereka. Aku sungguh berharap demikian.

Cucuku yang tercinta, kuharap engkau dapat belajar tentang kerendahan hati melalui penghinaan yang kau terima dan belajar kejujuran dari pengalaman tertipu.

Kuharap engkau belajar merapikan tempat tidurmu sendiri, memotong rumput, dan mencuci mobil dan kuharap tak ada orang yang memberimu mobil baru ketika engkau baru berumur 16 tahun.

Dan, kuharap setelah itu engkau mendapat pekerjaan yang baik.

Alangkah baiknya kalau setidak-tidaknya sekali waktu engkau bisa melihat lahirnya seekor anak sapi atau melihat anjing tuamu tertidur.

Kuharap engkau pernah mendapatkan memar hitam di matamu karena membela sesuatu yang kau yakini.

Kuharap engkau mau berbagi tempat tidurmu dengan adik lelakimu. Dan, boleh-boleh saja engkau membuat garis pemisah di kamar tidur kalian, tetapi ketika ia ingin menyelusup di balik selimut bersamamu karena ketakutan, kuharap engkau mengizinkannya.

Dan, ketika engkau ingin menonton film Disney dan adik kecilmu ingin ikut serta, kuharap engkau mau mengajaknya.

Kuharap engkau dapat menjalani kesulitan berat bersama teman-temanmu dan tinggal di sebuah kota dimana engkau dapat menjalaninya dengan aman.

Dan, bila hari-hari hujan dan engkau harus diantar dengan mobil, kuharap supirmu tidak perlu menurunkanmu sejauh dua blok karena engkau tak mau terlihat diantar mobil sehingga engkau diolok-olok sebagai “anak mami”.

Kalau engkau menginginkan sebuah ketapel, kuharap ayahmu mengajarimu cara membuatnya, dan bukan membelinya. Kuharap engkau mau belajar keras dan membaca buku, dan ketika engkau belajar menggunakan komputer canggihmu, engkau pun juga harus tetap belajar berhitung dan membagi dengan otakmu sendiri.

Kuharap engkau digoda oleh teman-temanmu ketika pertama kali terpikat pada seorang gadis, dan ketika engkau membantah ibumu, kuharap engkau dapat belajar karena mulutmu dicuci dengan sabun.

Semoga lututmu terkelupas ketika mendaki gunung, tanganmu terbakar tungku perapian, dan lidahmu melekat pada tiang bendera yang membeku.

Kuharap engkau tersinggung ketika seorang tua bodoh meniupkan asap rokok ke wajahmu. Aku tak peduli kalaupun engkau pernah mencoba-coba mencicipi bir, tetapi kuharap engkau tidak akan menyukainya. Dan, jika seorang teman mengajakmu ke tempat-tempat terlarang atau mencoba obat bius, kuharap engkau cukup pintar untuk menyadari bahwa ia tidak pantas menjadi temanmu.

Tentu aku berharap engkau menyediakan waktu untuk duduk di bangku taman bersama kakekmu atau memancing bersama pamanmu. Semoga engkau dapat merasakan dukacita pada upacara perkabungan dan sukacita pada hari libur.

Kuharap ibumu menghukummu ketika engkau melemparkan bola bisbol ke jendela rumah tetangga dan semoga ibumu memelukmu dan menciumimu pada hari Natal, ketika engkau memberinya gips cetakan buatanmu.

Inilah harapanku untukmu agar engkau mengalami masa-masa sukar dan kekecewaan, kerja keras, dan kebahagiaan.

by: Paul Harvey

Kontes Kecantikan

Sebuah perusahaan produk kecantikan berhasil meminta orang-orang di sebuah kota besar untuk mengirimkan foto dan surat singkat tentang wanita tercantik yang mereka kenal. Dalam jangka waktu beberapa minggu saja, ribuan surat dikirimkan ke perusahaan itu.

Salah satu surat secara khusus menarik perhatian pegawai perusahaan itu, yang dengan segera menyerahkannya kepada presiden direktur perusahaan itu. Surat itu ditulis oleh seorang anak muda yang jelas berasal dari keluarga yang berantakan dan tinggal di suatu kawasan kumuh. Dengan banyak koreksi ejaan, sebuah petikan dari suratnya berbunyi demikian, “Seorang wanita cantik tinggal di seberang jalan rumah saya. Saya mengunjunginya setiap hari. Ia membuat saya merasa bagaikan seorang anak yang paling berharga di dunia ini. Kami bermain halma berdua dan ia mendengarkan masalah saya. Ia memahami saya dan setiap kali saya meninggalkan rumahnya ia selalu berteriak sampai terdengar ke luar pintu bahwa ia bangga terhadap saya.”

Anak itu mengakhiri suratnya dengan berkata, “Foto ini akan menunjukkan kepada Anda bahwa ia adalah wanita tercantik. Semoga saya mempunyai istri secantik dia.”

Karena penasaran, sang presiden direktur ingin melihat foto wanita itu. Sang sekretaris mengulurkan foto seorang wanita yang semua giginya sudah ompong. Ia sedang tersenyum. Usianya cukup tua, dan ia sedang duduk di kursi roda. Rambut abu-abunya yang sudah jarang ditarik ke belakang, membentuk semacam sanggul. Alur-alur keriput di wajahnya entah bagaimana tersamarkan oleh sinar di matanya.

“Kita tak dapat memakai wanita ini,” sang presiden direktur menjelaskan, sambil tersenyum.” Ia justru akan menunjukkan kepada dunia bahwa produk kita tidak diperlukan agar seorang wanita bisa menjadi cantik.”

by: Carla Muir

Puji-pujian Untuk Isteri yang Cakap

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.

Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.

Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.

Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.

Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.

Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:

Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

Apakah Tuhan Itu Ada

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu saja,” jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460°F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari, banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

I’m a Big Girl, Dad…!!!

Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat dan gagah. Hatinya lembut dan sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, sampai kadang bunyi kelontangan saat berjalan. Karena itu kadang saya malu dan pengen agar tubuh saya menciut dan menghilang saja kala motor ayah saya masuk halaman sekolah.

Jarak rumah ke­sekolah sekitar satu jam. Dia sering memakaikan jaket tebal agar saya tidak kedinginan diterpa angin pagi. Dan setibanya di depan pagar sekolah dia selalu menurunkan saya dan menciumi pipi saya berkali-kali. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai risih kala ayah mencium pipi saya. Apalagi di depan teman-teman. Saya kan udah umur 12 tahun? Masak diciumin terus seperti anak balita aja? Sebel banget deh. Maka saya putuskan bahwa saya bukan anak kecil dan tidak butuh kecupan di pipi lagi.

Suatu hari, seperti biasa, ayah saya mengantar sampai di depan gerbang sekolah, menurunkan saya, tersenyum lebar dengan senyum khasnya dan memiringkan badannya hendak mencium pipi saya. Tapi saya segera mengangkat tangan dan berkata, “Jangan ayah, aku malu!” itu pertama kalinya saya berkata begitu dan wajah ayah tampak begitu keheranan. Dengan sebal saya berkata, “Yah, aku kan sudah besar dan sudah terlalu tua untuk dicium-cium kayak anak balita.”

Ayah memandang saya beberapa saat, rasanya begitu lama ia memandang dan matanya mulai sedikit berkaca-kaca dan basah. Namun aku lihat dia berusaha menahan diri. “Ok deh, kamu sudah gadis remaja sekarang. Ayah tak perlu menciummu lagi.” dia berbalik menuju motor bututnya dan melambaikan tangannya pamit pergi. Tak lama sesudah itu, ia ditugaskan ke Aceh dan ia hilang dan tak pernah kembali lagi. 26 Desember 2004 badai Tsunami meluluhlantahkan Meulaboh-Aceh dan menghancurkan pos tambang tempat dimana ayah saya ditugaskan.

Anda semua takkan bisa bayangkan apa yang akan saya korbankan sekedar untuk mendapatkan lagi ciuman sayang darinya. Untuk merasakan wajah tua dan kumisnya yang kasar. Mencium bau tubuhnya yang khas. Dan untuk merasakan lengannya yang kuat merangkul pundakku, mengacak-acak rambutku atau menggendong badanku.

Seandainya bisa, aku ingin ucapkan padanya, “Ayah, aku sudah dewasa, tapi aku tak pernah terlalu tua untuk mendapat ciuman darimu. I’m a big girl dad, but I never too old for your kiss.”

Sumber: http://renungan-harian-kita.blogspot.com

Tuhan Tahu

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia, Tuhan tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih, Tuhan sudah menghitung air matamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu, dan waktu serasa berlalu dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon, Tuhan selalu berada di sampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi, Tuhan punya jawabannya.

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan, Tuhan dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan, Tuhan sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur, Tuhan telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban, Tuhan telah tersenyum padamu.

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi, Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa di manapun kau atau kemanapun kau menghadap TUHAN TAHU.