Hey Arnold! Theory

Hey Arnold! Theory, is it true?

About every ’90s kid knows the Nickelodeon series, “Hey Arnold!”. The show about a small boy with an odd shaped head. That’s about the first thing you notice, the oddly shaped heads the characters have. We’ll get back to that later on.

I want to tell you one thing first. The show isn’t fiction. It has all happened. That’s why there are a lot of life lessons in it.

Arnold is a boy who lives in a “fictional” city. The city actually is New York. The poor area of New York, it’s clearly visible that Arnold lives in a ghetto. He’s just a poor orphan living in with his grandparents Gertie and Phil. Well, he BELIEVES he’s an orphan. He actually is the child of the people he believes to be his grandparents. The grandparents are mentally unstable and told Arnold that his real parents, of normal age, died in a plane crash. That’s not true at all.

Because Gertie and Phil were old when they “made” Arnold, he was born with a few conditions. One of them is hydrocephalus. That the reason his head has such an odd shape. There’s one type of hydrocephalus, the one Arnold suffers from, that’s called the Arnold Chiari syndrome. That’s the reason why the creators decided to call the boy Arnold.

Gertie and Phil themselves are mentally unstable. This is because of their age. This is also the reason why Phil sexually abused Arnold. Phil says to Arnold that it’s totally normal that a “grandparent” does this kind of stuff to their grandchildren.

Arnold is being bullied for his oddly shaped head. This is where another condition Arnold has comes in. Because of Gertie’s and Phil’s old age, Arnold suffers from several psychological conditions. This makes him see things that aren’t there. Because he’s bullied a lot, he escapes to an imaginary world, with imaginary friends. That’s the reason the other characters have weird shaped heads too. It makes him feel like he’s normal, and no one can pick on him because of his head. This also is the reason why Arnold believes that his parents are his grandparents, and that his real parents died in a plane crash. His condition makes him believe that it is reality.

But the reality behind the series is way worse. It is reality. It tells the story about a poor boy living in New York. It’s all based on facts. When the creator got lost in New York he accidentally got in to the poor area. It was really late, so he decided to stay at a hotel. Then he came across a 9-year old boy, the child of two people who were clearly too old to have children. He saw that the boy was mentally unstable, and he believed in all the things he made up. The creator decided to talk to the boy. He felt really sorry for the boy when he discovered the boy only had imaginary friends and would die if he didn’t get medical care quickly. He felt like he needed to do something. So he asked the boy if he could tell his story, and then he’d make sure that the boy’s life would become better.

But he didn’t. He just used the sad story for a TV programme. He just took advantage of it. All the misery was so successful as a children’s’ programme. He became rich and didn’t care about the poor boy suffering.

He did not tell anyone about the way he came up with the idea for the series. He knew that if the truth would come out, it would all be done for him. No one would support a programme created by someone who became rich over the misery of someone else. The secret was well kept for so many years. But when it all came out to one of the important people from the Nickelodeon found out, the show immediately got canceled.

So, now you know it all. Where the idea came from, what it really is about and why it ended. The boy probably is dead by now, we can’t help him anymore. But please, make sure no one takes advantage of someone else’s misery ever again. We can help all those poor kids in ghettos, but not by making a programme about them.

Debunking Hey Arnold! Theory

That Theory is all wrong!

Craig Bartlett is the creator of Hey Arnold!, I’ve read and watched many interviews of him talking about Hey Arnold!, he said that his own personal life was an inspiration for the show.

A friend of mine told me that his wife (Lisa Greoning, Matt Groening’s Sister) Lisa Simpson was the one who suggested for Helga Pataki to be “secretly deeply in love with Arnold”.

Another thing the Theory lies about is why Hey Arnold! got cancelled, the show got cancelled because in the early 2000’s Nickelodeon was going Movie Making, Hey Arnold! sadly wasn’t as big of a hit that the Rugrats was so they decided to cancell it.

So to answer your question with good news: NO! That Theory is completely wrong and that is not the true story for Hey Arnold!.

Siapa yang doyan menyantap telur dadar tarantula?

Meski wujudnya menyeramkan, laba-laba tarantula dikenal sebagai makanan lezat oleh sejumlah masyarakat di seantero Bumi. Misalnya, tarantula panggang disantap oleh “Bushmen” alias Manusia Semak di Afrika Tengah, sementara masyarakat di Thailand Utara dikabarkan suka memanggang laba-laba, setelah kaki-kakinya dicabuti terlebih dahulu. Suka bangsa pribumi di Venezuela,  Amerika Selatan, yaitu suku Indian Piaroa, juga pemakan laba-laba. Mereka gemar menyantap tarantula berbulu raksasa pemakam burung, yang punya nama ilmiah Theraposa blondi, yang panjang kakinya bisa mencapai 25cm ketika dibentangkan, sedangkan perutnya berukuran sebesar bola tenis. Ukuran laba-laba tersebut sama dengan piring makan yang biasa kita pakai sehari-hari!

Suku Piaroa gemar berburu tarantula. Ketika mereka berhasil menangkapnya, kaki-kaki tarantula tersebut akan ditekuk ke arah berlawanan, lalu diikat di atas tubuhnya, sehingga dengan mudah dapat dibawa pulang kembali ke perkampungan. Sebelum disajikan menjadi hidangan, mereka menggunakan daun untuk membalikkan bagian perutnya, agar mereka tidak menyentuh bulu-bulunya yang dapat menyebabkan kulit gatal. Kemudian laba-laba tarantula tersebut dibungkus menggunakan sehelai daun dan dipanggang di atas bara arang. Setelah matang, mereka makan laba-laba tarantula dengan cara mencungkili dagingnya, sama seperti makan kepiting.

Cita rasa tarantula hampir mirip dengan udang. Secuil dagingnya dapat terselip di antara gigi, tapi untungnya taring tarantula yang panjang dapat digunakan sebagai tusuk gigi yang sempurna! Jika suku Piaroa berhasil menangkap seekor tarantula betina, mereka akan menekan-nekan perutnya hingga telur-telur keluar dari tubuhnya. Telur-telur itu kemudian dibungkus dalam sehelai daun dan dipanggang di atas api, menjadi hidangan telur dadar tarantula.

Menyantap laba-laba juga populer di Kamboja dan Laos. Di wilayah tersebut, laba-laba biasanya dipanggang di atas api menggunakan sejenis tusuk sate, lalu disajikan dengan garam dan sambal. Sebagian lainnya lebih suka dengan cara menggoreng laba-laba dalam mentega yang dibumbui bawang putih.

Elephant

The class teacher asks students to name an animal that begins with an “E”. One boy says, “Elephant.”

Then the teacher asks for an animal that begins with a “T”. The same boy says, “Two elephants.”

The teacher sends the boy out of the class for bad behavior. After that she asks for an animal beginning with “M”.

The boy shouts from the other side of the wall, “Maybe an elephant!”

The Captain

A navy captain is alerted by his First Mate that there is a pirate ship coming towards his position. He asks a sailor to get him his red shirt.

The captain was asked, “Why do you need a red shirt?”

The Captain replies, “So that when I bleed, you guys don’t notice and aren’t discouraged.” They fight off the pirates eventually.

The very next day, the Captain is alerted that 50 pirate ships are coming towards their boat. He yells, “Get me my brown pants!”

Peniup Seruling dari Hamelin

The Pied Piper of Hamelin
Peniup Seruling memikat para anak untuk meninggalkan kota Hamelin.

Pada zaman dahulu terdapat sebuah kota yang terletak di kaki bukit. Kota itu bernama Kota Hamelin. Penduduk yang tinggal di kota Hamelin hidup dengan aman dan damai, tapi sayangnya kesadaran mereka terhadap kebersihan lingkungan sangat memprihatinkan. Mereka suka membuang sampah di sembarang tempat, hingga akhirnya sampah-sampah itu menjadi sarang tikus. Seiring berjalanya waktu, semakin lama jumlah tikus terus bertambah dan kota pun dipenuhi oleh kawanan tikus.

Para tikus tersebut mulai terlihat berkeliaran di mana-mana. Mereka bergerak bebas di mana saja tanpa sedikitpun merasa takut, apabila melihat manusia. Untuk mengatasinya, sebagian penduduk kota mencoba untuk memelihara kucing. Selain itu, ada pula yang memasang berbagai perangkap tikus untuk membunuh atau membinasakan para tikus. Namun, semua usaha yang telah dilakukan seakan sia-sia, dan tidak pernah membuahkan hasil. Jumlah tikus malah semakin lama semakin bertambah banyak. Penduduk menjadi kesal dan kehabisan akal untuk melenyapkan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menimpa Kota Hamelin rupanya telah tersebar luas hingga ke kota-kota lain di sekitarnya. Dari salah satu kota tersebut ada seorang pemuda yang datang ke Kota Hamelin untuk menawarkan diri mengusir semua tikus yang berkeliaran. Sebagai imbalannya, sang pemuda meminta upah sebesar dua keping emas kepada setiap orang yang ada di Hamelin. Warga masyarakat Hamelin segera mendiskusikan penawaran sang pemuda. Dan, setelah berdiskusi panjang-lebar, akhirnya mereka setuju dan sepakat untuk membayar, meskipun harga yang ditawarkan pemuda sangat mahal menurut mereka.

Setelah kesepakatan tercapai, sang pemuda lalu pergi ke tengah lapangan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah suling dan mulai meniupnya. Suara yang keluar dari suling itu sangat merdu dan melenakan siapa saja yang mendengarnya (manusia maupun binatang). Para tikus yang mendengarnya seakan terhipnotis dan mulai keluar dari persembunyian mereka untuk berkumpul di sekeliling sang pemuda. Ia lalu berjalan perlahan sambil tetap meniup suling menuju ke sebuah sungai (Weser River) yang letaknya di pinggir Kota Hamelin. Setelah sampai, sang pemuda langsung menceburkan diri ke tengah sungai. Hal ini diikuti pula oleh kawanan tikus. Ternyata para tikus tersebut tidak dapat berenang, sehingga seluruhnya tenggelam.

Saat kota telah terbebas dari gangguan tikus, sang pemuda kemudian menagih bayaran kepada para penduduk. Namun ternyata para penduduk menolak untuk membayar sang pemuda. Mereka menganggap bahwa kerja sang pemuda yang hanya meniup suling tidaklah sesuai dengan upah yang dimintanya. Sang pemuda menjadi marah. Ia lalu meniup sulingnya lagi dengan nada yang berbeda. Irama yang keluar dari suling itu ternyata sangat memikat hati anak-anak dan segera mengikuti si pemuda pergi keluar dari Kota Hamelin. Sedangkan bagi orang dewasa yang mendengarnya, seakan terlena dan tidak menyadari keadaan di sekitarnya.

Ketika sang pemuda telah berada di batas kota, barulah penduduk Hamelin tersadar kalau anak-anak mereka juga dibawa serta. Mereka lalu berlari menyusul sang pemuda sampai ke perbatasan Kota Hamelin. Saat bertemu sang pemuda, mereka lalu membujuknya dengan janji akan memberikan sekantong keping emas asal mau mengembalikan anak-anak mereka.

Namun, bujuk rayu penduduk Hamelin tidak dihiraukan oleh Sang Pemuda. Sambil terus memainkan suling, Pemuda itu membawa anak-anak menuju sebuah gua yang terletak agak jauh dari batas Kota Hamelin. Dan, setelah seluruh anak masuk ke dalam goa itu bersama Sang Pemuda, secara tiba-tiba gua tersebut hilang dari pandangan. Para penduduk yang melihat langsung kejadian itu hanya bisa menyesal. Mereka menyesal karena telah berbuat ingkar pada sang pemuda yang akhirnya harus ditebus dengan menghilangnya anak-anak mereka.

Quote #8

Jangan biarkan kasih sayang berjalan seperti gunting;
meskipun lurus tapi memisahkan yang menyatu.
Tetapi biarkan kasih sayang itu berjalan seperti jarum;
meski menusuk dan menyakitkan tapi ia menyatukan yang terpisah.

Mereka yang menyakiti belum tentu musuh
dan mereka yang memeluk belum tentu menyayangi.
Tetapi janganlah berhenti untuk membagi kasih
sebab kasih mampu menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik.

Andar Ismail

Quote #7

Never be afraid to do something new. Remember, amateurs built the ark; professionals built the titanic.

Titanic hit the iceberg and sank while the ark beat the worst deluge and kept Noah’s family safe.